Surat Untuk Masa Mudaku | REVIEW
Plot twist bukanlah poin utama yang perlu diperdebatkan di sini. Justru kekuatan Surat Untuk Masa Mudaku (2026) terletak pada kemasannya yang tidak mengandalkan artis mainstream, penceritaan anak-anak panti yang tidak berlebihan, serta kehadiran pemeran kawakan yang tampil kalem dan matang. Semua elemen itu berpadu dengan rapi walau tidak sempurna.
Tolong Saya! | REVIEW
Tolong Saya! memiliki gagasan segar dan keberanian menolak formula horor pada umumnya di Indonesia, tetapi belum sepenuhnya diimbangi dengan penggambaran tepat, dialog menyentuh, serta ruang loop hole yang teramat banyak.
The Period of Her | REVIEW
The Period of Her (2026), yang dirangkai melalui benang merah “menstruasi” sebagai pengalaman emosional, batiniah, sekaligus sumber luka dan lara dalam kehidupan perempuan. Dari sisi naskah dan visual, film ini masih menyisakan ruang untuk dikembangkan dan dipertajam. Not Dead Enough (2026) tampil sebagai bagian paling absurd sekaligus menghibur.
Musuh dalam Selimut | REVIEW
Dengan pendekatan lokal, akting yang solid dan suasana yang secara konsisten menekan, film ini berhasil membuat penonton mempertanyakan kembali satu hal sederhana namun mengganggu pikiran penontonnya, yaitu seberapa aman sebenarnya orang-orang terdekat kita?
Malam 3 Yasinan | REVIEW
Malam 3 Yasinan (2026) masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi sang sineas. Walau visualnya berusaha dibuat intens dan memancing ketidaknyamanan psikologis penonton, naskahnya tetap berputar di wilayah yang aman.
Alas Roban | REVIEW
Sebagai kritik, Alas Roban (2026) menunjukkan kualitas produksi dan kesadaran artistik yang patut diapresiasi. Namun sebagai karya horor yang berangkat dari lokasi dengan beban sejarah berat, film ini masih amat sangat bermain aman, sehingga lebih condong kepada unsur dramanya tetapi juga tanggung.





