The Manipulated adalah seri aksi drama thriller produksi Korea Selatan yang digarap oleh Park Shin-woo dan Kim Chang-ju. Seri ini dibintangi oleh Ji Chang-wook, Doh Kyung-soo, Kim Jong-soo, Jo Yoon-su, serta Lee Kwang-soo. Seri bertotal 12 episode ini mulai tayang sejak awal November lalu dan berakhir pada awal Desember ini. Konon seri ini di negara asalnya sempat berada di peringkat pertama selama dua minggu berturut-turut. Kita lihat, apakah seri yang dirilis Disney plus ini sepadan dengan hype-nya?

Park Tae-jung (Chang-wook), seorang pemuda baik hati dan pekerja keras suatu ketika mendapati dirinya dituduh merudapaksa dan membunuh secara brutal seorang perempuan muda. Semua bukti-bukti mengarah kepada Tae-jung, sekalipun rekan-rekan dan adiknya telah membantu membuktikan alibinya. Tae-jung pun dihukum penjara seumur hidup karena kejahatan yang tidak dilakukannya. Di penjara, ia bertemu dengan seorang asisten pendeta No Yong-sik (Jong-soo) yang membantunya memiliki semangat hidup kembali. Ia pun melatih fisik dan semua keterampilan yang ada di fasilitas penjara. Tidak hingga, ia bertemu seorang korban tak bersalah mirip kasusnya yang membuatnya sadar bahwa ada pihak yang menjebaknya. Tae-jung pun berniat untuk melarikan diri dari penjara dan mencari siapa dalang pelakunya.

Apakah plotnya sesimpel itu? Tentu tidak. Plot balas dendam macam ini bukanlah kali pertama. Namun hebatnya, The Manipulated memiliki banyak lapisan plot yang membuatnya terasa variatif, sebelum misi utama berjalan. Bukankah ini sesuatu yang bagus? Kesan awalnya memang begitu, tetapi kisahnya tidak mampu mengimbangi dengan naskah yang solid dan ini pun bukan problem terbesar plotnya. Akal sehat, nalar, dan logika, sama sekali bukan menjadi prioritas dalam olah naskahnya. Seolah kisahnya ditulis oleh seorang amatir yang kurang memahami bagaimana alur cerita berjalan dengan relasi kausalitas yang memadai.

Lima episode awal terhitung adalah eksposisi besar yang mampu memberikan “pondasi” cerita yang cukup untuk membuka penjelasan lebih rinci pada tiap episode ke depannya. Pada tahap ini banyak kejanggalan cerita telah terlihat, misal saja, motif pembunuhan dan rekam jejak Tae-juk sebagai good cetizen, apakah tidak ditelusuri lebih detil? Pembunuhan adalah sebuah tuduhan serius yang tidak main-main dan ini seolah disepelekan begitu saja. Hanya berdasar bukti-bukti fisik yang ditanam oleh pihak “ketiga” rupanya ini sudah cukup. Okelah, mungkin penjelasan bakal disinggung kelak.

Setelah segmen penjara yang seolah tak berujung dengan beberapa karakter “tahanan” eksentrik, kisah pun berujung pada pelarian oleh Tae-juk yang disuguhkan cukup detil. Aksi yang cukup intens ini justru dibunuh oleh naskahnya sendiri dengan segmen berikut yang “mencengangkan”. Sebuah balap mobil maut ala Death Race (1975 & 2008) yang digagas oleh seorang pria bernama Ann (Kyung-so). Alasan dan proses untuk membuat ajang ini sungguh tidak masuk akal dan semata-mata hanya untuk berjudi dan kesenangan para miliuner muda.

Aturan dan apa yang dilombakan pun tidak jelas. Semua mobil disediakan panitia dan entah bagaimana bisa dimodifikasi demikian hebat. Apakah semua tahanan tersebut mahir sebagai pembalap maupun montir mobil? Tampak begitu (yang ini tak masuk akal). Aksi pun berjalan kacau tanpa kita bisa memahami apa sesungguhnya yang terjadi. Aturan pun bisa diubah begitu saja tanpa tujuan yang jelas. Sebuah segmen sia-sia yang berujung hanya pada kaburnya Tae-juk dari arena lomba. Sungguh mengherankan, bagaimana Tae-juk bisa lolos? Bukankah ia masih mampu dikejar dengan pengawal asing bayaran sebanyak itu dan lokasinya juga masih di kawasan yang sama.

Baca Juga  Shadow and Bone

Setelah segmen balapan, plotnya seolah bakal kembali ke jalur awal, rupanya tidak juga. Tae-juk yang sekarang menjadi “buron” justru mencoba membantu seorang perempuan yang dijebak dengan modus yang sama dengannya. Investigasi plotnya berjalan menarik, tetapi tidak seperti yang kita bayangkan. Tae-juk tahu persis bahwa musuh yang tengah ia hadapi adalah satu komplotan besar yang memiliki sumber daya dan teknologi tidak terbatas. Alih-alih mempersiapkan satu rencana yang matang, ia justru terjebak dalam permainan sang bos jahat. Semua kelokan plotnya sungguh tak masuk akal dan semakin konyol dalam perkembangannya.

Dalam episode menjelang akhir, Yong-sik yang jelas-jelas dijebak, begitu mudahnya dilepas setelah Tae-juk menyerahkan diri. Lho, lantas semua bukti fisik yang “mengarah” ke Yong-sik, segalanya dibuang ke laut? Sesaat Tae-juk ditahan, saat itu pula Yong-sik dilepaskan. Banyolan dan kekonyolah macam apa ini? Bukankah setidaknya darah yang terdapat di pisau diteliti terlebih dulu untuk menjadi bukti valid. Naskahnya mengabaikan dan terhitung melecehkan prosedur polisi yang tentunya berhati-hati dengan aksi kriminal dan mendapat sorotan media macam ini. Hingga menjelang segmen klimaks pun kebodohan yang sama masih saja terjadi. Semua ini yang membuat kisahnya tak meyakinkan dan sisi ketegangan yang diharapkan pun mengendur.

Masalah lain juga terlihat dalam teknologi super canggih yang digunakan sang antagonis. Terlihat ia bisa mengawasi siapa pun dan di mana pun yang diinginkan. Bahkan dalam satu momen, sang protagonis bisa hadir secara digital (hologram) di sebuah tempat yang jauh dari lokasinya. Bagaimana itu bisa dilakukan? Dalam Blade Runner 2049, teknologi hologram dilakukan dengan argumen dan penjelasan yang begitu rinci dan ilmiah. Sang protagonis harus memiliki alat yang lebih canggih agar hologram bisa fleksibel dan digunakan di mana pun. Tidak lantas asal terlihat keren semata. Satu hal, jika seseorang memiliki teknologi yang demikian canggih macam itu, apakah kamu akan menggunakannya hanya untuk menuduhkan orang tak bersalah sebagai tersangka suatu kejahatan? What a waste!

Premis menarik yang sesungguhnya memiliki potensi, tetapi seri The Manipulated terjebak dalam pengembangan naskah tak bernalar yang mengabaikan logika demi aksi heboh dan sisi dramatiknya. Seperti lazimnya film dan seri Korea Selatan kebanyakan, seri ini memiliki sisi artistik dan visual yang mengesankan. Kasting pun sama sekali tidak buruk dan nyaris sempurna. Namun kali ini, naskahnya adalah yang terburuk sepanjang saya menikmati seri Korea. Kekonyolan naskahnya sama sekali di luar nalar dan sulit ditolerir. Hiburan tidak lantas tontonan menghibur semata, tapi setidaknya mampu menghargai akal sehat penonton, dan sebuah plus jika bisa memiliki secuil nilai dan sisi manusiawi.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaTontonan Unggulan Netflix Januari 2026
Artikel BerikutnyaDusun Mayit | REVIEW
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses