We Bury the Dead adalah film horor zombi produksi Australia yang digarap dan ditulis oleh Zak Hilditch. Film ini lebih dulu dirilis di sirkuit festival sejak awal Maret tahun lalu dan baru dirilis global pada awal tahun ini. Film ini dibintangi oleh Daisy Ridley, Mark Coles Smith, dan Brenton Thwaites, serta seluruhnya mengambil lokasi produksi di Australia. Dengan melimpahnya film-film subgenre zombi, apa lagi kini yang ditawarkan We Bury the Dead?
AS dikecam dunia karena menjatuhkan bom eksperimen di wilayah Pulau Tasmania, di selatan Australia. Dampaknya mengerikan, seluruh warga terkena radiasi yang menyebabkan mereka tewas mengenaskan dan yang masih hidup mengalami kerusakan otak yang membuat mereka layaknya zombi. Seorang warga AS, Ava (Ridley) kehilangan suaminya yang tengah melakukan konferensi di sana. Ia pun mendaftarkan diri sebagai sukarelawan yang tugasnya menyisir sisa-sisa korban di wilayah Tasmania, berharap bisa mengetahui nasib sang suami. Apa yang dihadapinya di lokasi, rupanya lebih mengerikan dari yang ia bayangkan.
Jika kamu merujuk survival zombi seperti film-film aksi yang penah kamu lihat, We Bury the Dead bukanlah seperti yang kamu bayangkan. Plotnya mengalir lambat dan mengambil perspektif yang jarang kita lihat dalam film-film sejenis. Tak ada aksi heboh kejar mengejar antara pemangsa dan mangsanya. Para zombi pun digambarkan lebih lunak, tidak lantas beringas dan brutal seperti lazimnya. Plotnya juga diselipkan kilas balik yang kelak menegaskan motif protagonisnya. Konsep kisahnya bukanlah formula zombi mainstream melainkan sesuatu yang mesti kita tengok melalui sisi implisitnya.
Zombi dalam medium film sering kali digunakan sebagai simbol sisi gelap/binatang manusia, sebut saja Night of the Living Dead hingga 28 Days Later. Namun, tak jarang juga digunakan sebagai pemaknaan lain, seperti The Cured (2017) dan Infection (2019) yang bernuansa politik kental. Lantas apa yang menjadi substansi We Bury the Dead? Problem utama terlihat melalui sosok Ava yang dipertegas dengan peristiwa yang dilaluinya sepanjang perjalanan. Apa yang melatarbelakangi hingga ia ngotot untuk menjadi sukarelawan, apakah sekadar mengetahui nasib suaminya? Rupanya bukan dan ini menjadi kejutan kecil di ending-nya. Semua hal yang ditemui Ava sepanjang perjalanan juga secara konsisten tak lepas dari isu keluarga. Kurang elok jika diungkap dalam ulasan ini.
Sang sineas juga secara berkelas memiliki sentuhan sinematografi yang mengesankan. Filmnya tampak begitu mapan dengan ambilan shot-shot-nya yang terukur serta komposisi kuat. Dia menggemari penggunaan shot-shot jauh yang luas. Kamera tidak jarang menangkap panorama alam yang memukau sepanjang perjalanan, sering kali melalui drone atau overhead shot, mengikuti pergerakan kendaraan atau karakter. Satu pergerakan kamera kombinasi overhead shot mengesankan, terlihat dalam satu adegan ketika Ava dikejar sesosok zombi di dalam sebuah bus.
Bukan tontonan zombi reguler, We Bury the Dead mengeksplorasi subgenrenya melalui sisi drama dibalut sinematografi menawan. Untuk tema dan relasinya dengan konsep keluarga, film ini terhitung segar, tetapi untuk film bertema zombi bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ini bakal bermasalah bagi penonton yang mencari kelaziman film-film dengan subgenre ini. Catatan bagi sang sineas melalui sentuhan estetiknya yamg mampu mengemas adegannya dengan begitu elegan. Uniknya pula, kisah latar film ini juga kebetulan relevan dengan situasi AS terkini yang dikecam karena meng-“invasi” Venezuela. Bagi penikmat film horor zombi, We Bury the Dead dijamin bakal memberikan sensasi tontonan yang berbeda. Jangan lewatkan sebelum turun layar dan minggu depan digantikan oleh film zombi lainnya, 28 Years Later: The Bone Temple.







