Saya baru saja menyelesaikan sebuah film pendek tentang kisah cinta dokter Soetomo dan istrinya, suster Everdina Broering. Sepanjang tulisan ini, jika saya menyebut nama Soetomo dengan awalan “dokter”, maka saya juga akan menyebut nama Everdina dengan awalan “suster”. Bukan karena romantika, bukan pula demi kesan simetris belaka, melainkan karena saya ingin ada kesetaraan sejak kalimat pertama. Sebab sejarah terlalu sering memulai cerita dari tempat yang timpang; dan kita, entah sadar atau tidak, ikut melanggengkannya lewat pilihan kata.
Film ini tidak datang dengan dramatika berlebihan. Tidak ada musik yang memaksa kita terharu, tidak ada adegan yang sengaja dipoles untuk membuat kisah ini tampak lebih heroik dari yang sebenarnya. Ia bergerak tenang, hampir bersahaja, seolah sadar bahwa cerita yang ia bawa tidak membutuhkan sensasi tambahan. Kita diajak menyaksikan, bukan diinstruksikan untuk mengagumi. Dan justru dari ketenangan itulah, kisah Soetomo dan Everdina terasa lebih manusiawi; lebih dekat, dan karenanya lebih mengganggu.
Menariknya, ketenangan dan kedewasaan cara bercerita film ini justru lahir dari ruang yang sering kita remehkan: ruang belajar. Dokumenter pendek berjudul DUA HATI SATU PANGGILAN, Jejak Dokter Soetomo & Suster Everdina Broering ini digarap oleh mahasiswa baru semester II di bawah arahan sutradara Brigitta Clarissa Rumondor dalam mata kuliah Menjadi Indonesia di Universitas Ciputra Surabaya. Diampu oleh tim dosen Osa Kurniawan Ilham, FX Domini BB Hera, Aji Prasetyo, dan Subiyanto, mata kuliah ini tampaknya tidak sekadar mengajarkan cara menjadi Indonesia sebagai identitas, melainkan sebagai sikap. Bahwa sejarah bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk disaksikan, dirasakan, dan dipertanyakan ulang; bahkan oleh mereka yang baru saja memulai perjalanan akademiknya.
Detail lain yang tidak kalah penting: film ini diproduksi sepenuhnya oleh para mahasiswi kedokteran (seluruh timnya perempuan) yang rata-rata masih berusia sekitar 17 tahun ketika menggarap dokumenter ini dalam mata kuliah tersebut. Fakta ini memberi resonansi yang nyaris ironis sekaligus indah. Di usia yang sering diasosiasikan dengan pencarian jati diri, mereka justru memilih menyelami kisah kerja, kesetiaan, dan cinta yang tidak berisik. Seolah tanpa disadari, cara mereka bekerja (kolektif, telaten, dan tidak sensasional) sudah mencerminkan tema film itu sendiri: kerja sepi perempuan yang menopang sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Dalam ketenangan itu, film ini seolah mengingatkan bahwa tidak semua yang penting harus ditampilkan sebagai peristiwa besar. Ada kerja-kerja yang justru kehilangan maknanya ketika terlalu dibunyikan. Dalam bahasa Hannah Arendt, kehidupan manusia tidak hanya digerakkan oleh action yang heroik, tetapi juga oleh work dan labor; kerja-kerja berulang yang menjaga dunia tetap berlangsung.[1] Film ini memilih berdiri di wilayah itu: wilayah kerja yang tidak spektakuler, tetapi menentukan.
[1] Konsep Vita Activa yang dituliskan Hannah Arendt dalam buku The Human Condition. Dalam buku itu Arendt membagi aktivitas mendasar manusia menjadi tiga kategori utama, di mana labor dan work memiliki peran krusial dalam keberlangsungan dunia, tidak kalah penting dari tindakan politis-heroik (action).

Fragmen ilustrasi karya komikus Aji Prasetyo sekaligus pengisi suara Dokter Soetomo dalam film dokumenter pendek Dua Hati Satu Panggilan: Jejak dr. Soetomo dan Everdina Broering (2025).
Dari layar itulah, saya menangkap bahwa Soetomo dan Everdina jatuh cinta bukan karena kesamaan latar, melainkan karena kesetaraan sikap. Bukan kesetaraan yang diteriakkan, bukan pula yang dipajang dalam poster atau slogan, melainkan kesetaraan yang bekerja diam-diam: dua manusia yang sama-sama menundukkan diri pada panggilan hidup, pada kerja yang menuntut kesabaran, dan pada keyakinan bahwa hidup baru berarti jika berguna bagi orang lain. Cinta, dalam kisah ini, bukan ledakan emosi, melainkan keputusan yang diulang setiap hari; bahkan ketika dunia tidak memberi tepuk tangan.
Jika kita menoleh ke konteks zamannya, kisah ini seharusnya terasa janggal, bahkan nyaris mustahil. Soetomo adalah aktivis kemerdekaan Indonesia yang menikah dengan perempuan Belanda, pada saat Belanda masih menjadi otoritas penjajah di Indonesia. Kritik datang dari berbagai arah, dan tidak semuanya lembut.
Kritik semacam ini jarang hadir dalam bentuk debat terbuka. Ia sering menjelma sebagai bisik-bisik, tatapan sinis, jarak sosial yang tiba-tiba mengeras. Dalam relasi semacam ini, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi politik, tetapi juga rasa aman dalam kehidupan sehari-hari. Film ini tidak merinci semuanya, tetapi justru dengan tidak merincinya, ia memberi ruang bagi kita untuk membayangkan betapa sunyinya berdiri di posisi itu.
Sejarah sering mengajarkan kita membaca relasi seperti ini dengan kacamata pembelahan: Timur dan Barat, penjajah dan terjajah, mayoritas dan minoritas, laki-laki dan perempuan. Masalahnya, kacamata itu sering kita pakai terlalu lama, bahkan ketika lensa-nya sudah retak. Istilah “pribumi” (sebuah kata yang jujur saja selalu membuat saya gerah) adalah salah satu contohnya. Kata itu lahir bukan dari niat memahami, melainkan dari logika kolonial yang gemar mengatur dunia ke dalam kotak “kami” dan “mereka”. Ia mungkin terdengar deskriptif, bahkan akademis, tetapi sesungguhnya membawa beban hierarki yang tidak pernah netral. Menggunakannya tanpa kritik sama saja dengan mengulang cara berpikir yang ingin kita bongkar. Justru karena film ini lahir dari ruang belajar, ia punya peluang penting: bukan hanya menceritakan sejarah, tetapi juga memperbarui bahasanya; agar pembelahan lama tidak terus hidup lewat kata-kata yang kita anggap biasa.
Menariknya, film ini justru memperlihatkan bagaimana Soetomo dan Everdina menolak dikotomi itu lewat praktik sehari-hari. Ada satu bagian ketika diceritakan bahwa keduanya saling berjanji untuk mendukung apa pun yang perlu dilakukan pasangannya demi bangsanya. Janji itu tidak berhenti sebagai dialog manis. Everdina, meski orang Belanda, secara tegas mengatakan kepada Soetomo agar tidak pernah melepaskan mimpi-mimpinya. Dukungan itu hadir dalam bentuk paling sederhana sekaligus paling konkret: kehadiran.

Potongan ilustrasi kebersamaan pasangan dokter Soetomo dan perawat Everdina Broering dalam film dokumenter pendek Dua Hati Satu Panggilan: Jejak dr. Soetomo dan Everdina Broering (2025).
Ke mana pun Soetomo pergi, Everdina ikut. Ia hadir, menyimak, menemani, dan (yang mungkin terdengar remeh tetapi justru penting) memasakkan nasi goreng. Di titik ini, film seperti sedang mengingatkan kita bahwa kerja politik tidak selalu berwujud pidato dan rapat; ia juga berlangsung di dapur, di meja makan, di gestur-gestur perawatan yang menjaga seseorang tetap mampu berjuang.
Penting dicatat, kerja-kerja Everdina tidak tampil sebagai kewajiban yang diterima begitu saja. Ia tidak digambarkan sebagai perempuan yang “memang seharusnya” mendukung, melainkan sebagai seseorang yang memilih untuk berdiri di sana. Pilihan inilah yang sering luput ketika kerja perempuan dibaca hanya sebagai pengorbanan. Dalam film ini, kehadiran Everdina adalah sikap politik yang senyap: tidak menuntut sorotan, tetapi juga tidak pasrah pada peran yang ditentukan dari luar.
Di titik inilah kerja sepi perempuan menjadi penting untuk dibaca bukan sebagai naluri, melainkan sebagai keputusan. Julia Suryakusuma dalam Ibuisme Negara pernah mengingatkan bahwa bahasa pengabdian kerap dipakai untuk menyingkirkan kerja perempuan dari wilayah politik. Ketika kerja itu dianggap “wajar”, ia berhenti diperdebatkan. Dalam film ini, Everdina menarik justru karena ia tidak digambarkan sedang menjalankan kodrat, melainkan sedang mengambil posisi.
Disebutkan pula bahwa Everdina rela meninggalkan segala kemewahan demi hidup bersama Soetomo. Sayangnya, film ini tidak menjelaskan kemewahan seperti apa yang dimaksud. Namun justru kekosongan itu membuka ruang tafsir: bahwa yang ditinggalkan bukan hanya soal materi, melainkan posisi aman, identitas yang mapan, dan kenyamanan untuk tidak berpihak. Everdina memilih berpindah tempat berdiri; “tidak di atas rakyat, tetapi di dalamnya” seperti kata Soetomo saat pemakaman Everdina.
Cinta Soetomo pun tidak berhenti di permukaan. Ketika Everdina jatuh sakit dan harus pergi beristirahat di pegunungan yang sejuk, Soetomo mengikhlaskan perpisahan itu. Tidak ada heroisme berlebihan; yang ada hanyalah kesadaran sederhana: yang penting istrinya sehat. Cinta di sini bukan posesif, melainkan memberi ruang; bahkan ketika ruang itu berarti jarak.

Dokter Soetomo (paling depan sebelah kanan) ketika menghantarkan pemakaman istri tercintanya, Everdina Broering untuk dikebumikan di Pemakaman Kembang Kuning, Surabaya, 1934, dalam layar film dokumenter pendek Dua Hati Satu Panggilan: Jejak dr. Soetomo dan Everdina Broering (2025).
Puncak kisah ini terasa paling kuat justru pada akhir hidup Everdina. Dalam pidato pemakamannya, Soetomo mengatakan bahwa istrinya adalah orang yang mencintai bangsanya. Oleh karena cintanya terhadap bangsanya itulah, dia mengerti kewajiban Soetomo terhadap bangsa ini dan selalu mendorongnya untuk membaktikan cintanya kepada rakyat. Saya pribadi tidak terlalu mengerti bangsa yang dimaksud di sini adalah Belanda atau Indonesia. Tetapi setidaknya, ada satu semangat yang sama; jika dia mencintai bangsanya seperti aku mencintai bangsaku maka aku akan mendukung apapun yang dia lakukan demi bangsa yang dia cintai karena aku mencintainya. Kurang lebih seperti itu.
Kebingungan saya soal “bangsa” yang dimaksud justru terasa penting. Ia membuka kemungkinan bahwa cinta Everdina tidak tunduk pada definisi kebangsaan yang sempit. Barangkali yang ia cintai bukan bendera tertentu, melainkan nilai-nilai yang membuat sebuah bangsa layak diperjuangkan: keadilan, persamaan, dan keberpihakan pada manusia. Dalam tafsir ini, cinta tidak meniadakan perbedaan, tetapi memberi ruang bagi komitmen yang saling menghormati.
Everdina, kata Soetomo, tidak pernah berdiri di atas rakyatnya, tetapi di dalamnya. Dan sebagai orang Belanda yang sungguh-sungguh, ia mencintai kemerdekaan, keadilan, dan persamaan. Pernyataan ini penting, bukan hanya sebagai kesaksian cinta, tetapi sebagai pengakuan politik terhadap kerja seorang perempuan.
Barangkali di sinilah cinta perlu dibaca ulang, bukan sebagai emosi, melainkan sebagai praktik. bell hooks[2] pernah menulis bahwa cinta adalah tindakan; serangkaian pilihan untuk merawat, mendukung, dan bertanggung jawab.[3] Jika demikian, maka apa yang dilakukan Everdina bukan sekadar kesetiaan personal, melainkan bentuk cinta yang bekerja: konkret, melelahkan, dan jarang romantis.
Di titik inilah kerja sepi perempuan menjadi terasa nyata. Everdina tidak tampil sebagai tokoh utama pergerakan, tetapi tanpanya, pergerakan itu kehilangan ritme kemanusiaannya. Kerja semacam ini sering dikeluarkan dari kategori “kerja penting” dan dimasukkan ke wilayah pengabdian atau kasih; seolah ia bukan kerja penuh. Padahal ia menentukan. Ia menopang. Ia membuat sejarah bisa bernapas.
Julia Suryakusuma dalam Ibuisme Negara pernah mengingatkan bagaimana kerja perempuan kerap dibungkus dengan bahasa kodrat dan pengabdian, sehingga tidak pernah benar-benar diakui sebagai kerja politik. Dalam kerangka itu, Everdina menarik justru karena ia tidak dikisahkan sebagai ibu simbolik atau pendamping moral belaka, melainkan sebagai subjek yang secara sadar memilih berdiri bersama dan bekerja bersama.
Saya sengaja tidak menumpuk teori di titik ini. Film ini bekerja lebih kuat melalui cerita dan gestur kecil ketimbang konsep besar. Cukup satu kacamata tipis untuk melihat bahwa apa yang dilakukan Everdina bukan sekadar dukungan personal, melainkan bagian dari kerja yang selama ini dianggap wajar, lalu dilupakan.
Maka menonton film ini sebagai kisah cinta saja terasa terlalu sempit. Ia lebih tepat dibaca sebagai arsip kecil tentang cinta yang setara: cinta yang tidak meniadakan kerja satu sama lain, cinta yang berani mengakui bahwa ada kerja yang tidak terlihat namun sama pentingnya. Dan barangkali, di situlah relevansi kisah Soetomo dan Everdina hari ini menjadi paling tajam. Bukan pada romantikanya, melainkan pada pertanyaannya yang diam-diam mengganggu: berapa banyak kerja sepi perempuan yang masih kita nikmati tanpa pernah kita sebut?
Jika sejarah ingin ditulis ulang dengan lebih jujur, ia harus mulai dari sini; dari kerja yang tidak berisik, dari cinta yang tidak heroik, dari perempuan yang tidak sekadar mendampingi, tetapi membentuk dunia. Perlahan, tekun, dan sering kali tanpa pamrih.
Barangkali yang membuat kisah ini terasa dekat adalah karena kita semua, sadar atau tidak, hidup dari kerja-kerja semacam ini. Kerja yang menjaga ritme, meredam konflik, memastikan sesuatu tetap berjalan. Kerja yang jarang masuk laporan, tapi selalu terasa ketika ia absen. Film ini seperti bertanya pelan: apakah kita masih mampu mengenali bentuk cinta semacam itu hari ini?
Menonton kisah dokter Soetomo dan suster Everdina, saya mendadak merasa kecil sekaligus malu; dua perasaan yang jarang datang bersamaan. Kecil, karena di tengah segala keluhan tentang lelah, rapat yang tak kunjung selesai, dan kerja yang sering terasa sia-sia, ada orang-orang yang bekerja tanpa banyak tanya, tanpa jaminan akan dikenang. Malu, karena saya hidup di zaman ketika dukungan sering berhenti di ucapan “semangat ya”, sementara Everdina memilih bentuk dukungan yang lebih konkret: ikut berjalan, ikut repot, ikut Lelah; bahkan ikut masak. Di dunia hari ini, mungkin nasi goreng bukan lagi simbol perjuangan, melainkan sekadar menu praktis. Tetapi saya belajar satu hal dari film ini: cinta yang setara tidak lahir dari kata-kata indah, melainkan dari kesediaan untuk hadir, meski tanpa panggung, tanpa pujian, dan sering kali tanpa kredit. Dan barangkali, di situlah ironi paling getirnya; bahwa yang paling menopang hidup kita justru adalah kerja-kerja yang paling jarang kita rayakan.
Brigita Blessty
Peminat Diskursus Perempuan
Footnote:
[1] Konsep Vita Activa yang dituliskan Hannah Arendt dalam buku The Human Condition. Dalam buku itu Arendt membagi aktivitas mendasar manusia menjadi tiga kategori utama, di mana labor dan work memiliki peran krusial dalam keberlangsungan dunia, tidak kalah penting dari tindakan politis-heroik (action).
[2] Saya menggunakan gaya penulisan nama yang memang diinginkan oleh hooks, dengan menggunakan huruf kecil. Penggunaan huruf kecil ini sengaja ditulis dengan huruf kecil untuk menekankan substansi ide dan tulisannya daripada identitas dirinya.
[3] Penjelasan ini dituliskan hooks dalam bukunya yang berjudul All About Love: New Visions yang terbit tahun 1999. hooks menegaskan bahwa mencintai adalah sesuatu yang kita lakukan, bukan sesuatu yang hanya kita rasakan. Cinta adalah kata kerja, bukan kata benda.





