welcome to derry

IT: Welome to Derry adalah kisah prekuel dari seri It (2017 & 2019) yang dikembangkan dari novel horor ikonik karya Stephen King. Seri feature It telah meraih sukses kritik dan komersial di masa rilisnya dengan total raihan kotor nyaris USD 1,2 milyar dengan bujet keduanya hanya berkisar USD 120 juta. Tak heran jika seri ini berlanjut. Seperti halnya feature-nya, seri ini masih digarap dan ditulis oleh Andy Muschietti. Seri rilisan HBO ini memiliki total 8 episode yang berdurasi rata-rata 60 menit. Akankah seri prekuel ini bisa memenuhi ekspektasi para fansnya?

Seri ini mengambil kisah 27 tahun sebelum peristiwa dalam It Chapter One, yakni tahun 1962. Cerita juga masih berlatar di lokasi sama, kota kecil bernama Derry, wilayah Maine, AS. Kisahnya di awali oleh hilangnya seorang bocah bernama Matty Clements secara misterius. Sekitar 4 bulan berselang, seorang gadis cilik bernama, Lilian “Lilly” Bainbridge memiliki mimpi buruk yang mendengar suara Matty dari balik pipa saluran air. Tak ada seorang pun yang memercayainya. Tak lama, rekan Lilly, Teddy juga dihantui mimpi buruk yang sama. Melalui petunjuk lagu yang dilantunkan Matty, mengarah ke sebuah film musikal yang diputar di bioskop lokal. Ini menjadi tragedi awal yang melibatkan hilangnya beberapa orang bocah di Kota Derry.

Tak jauh dari kota, rupanya pihak militer melakukan sebuah operasi rahasia yang dipimpin Letjen. Francis Shaw untuk mencari sebuah sumber energi misterius yang kelak bisa mereka gunakan sebagai senjata. Shaw mengandalkan sosok cenayang bernama Dick Halloran untuk mencari lokasi yang dimaksud. Ia juga merekrut seorang perwira tangguh, Leroy Hanlon untuk membantu dalam misinya. Di pihak lain, sekelompok warga pribumi berusaha melindungi area terlarang leluhur mereka yang diincar pihak militer. Tanpa disadari mereka semua, sang entitas gaib mulai menebar teror.

Plot seri Welcome to Derry memang bukan hal mudah untuk disimak. Kisahnya berpindah dari banyak karakter dan melibatkan banyak pihak secara bergantian (multiplot). Tidak seperti feature-nya di mana member The Losers Club menjadi penggerak cerita, sementara dalam serinya memiliki puluhan karakter penting yang mewakili tiap kelompoknya.

Tradisi geng bocah serinya masih diwakili oleh Lilly, Ronnie, Will, Rich, dan Marge yang memegang kunci utama dalam kisahnya. Plotnya berbaur antara investigasi Lilly dan kawan-kawan, pihak militer, suku pribumi, hingga warga kota yang menuduh pria tak bersalah sebagai pembunuh para bocah. Belum lagi beberapa kilas-balik yang menyinggung beberapa karakter penting. Plotnya memang terhitung rumit dan kompleks, sedikit saja lengah kita bakal kehilangan arah plotnya. Namun, naskahnya dikemas begitu solid dan rapi dengan kedalaman dan detil cerita yang amat mengagumkan. Butuh berlembar ulasan jika kita ingin membahas lebih rinci keunikan dan relasi subplotnya.

Seperti dua feature sebelumnya, sisi visual yang kuat masih menjadi daya tarik filmnya. Eksotisme kota lawas fiktif Derry di AS kembali dihadirkan dengan mengagumkan. Pesona kota dengan segala propertinya yang berlatar 1960-an mampu disajikan dengan sangat meyakinkan. Seringkali kita disajikan panorama mengikuti mobil hingga sepeda onthel yang berkeliling kota dan kompleks perumahan, hingga daerah hutan melalui shot-shot-nya yang apik. Tak ada horor tanpa jump scare yang menggigit. Walau tak dominan, film ini menghadirkan beberapa jump scare berkualitas yang dijamin bakal mengagetkan penonton. Terakhir, efek visual pun disajikan pada level yang sama (bahkan lebih matang) dengan pencapaian feature-nya yang terlihat begitu natural dalam momen-momen aksinya.

Baca Juga  Abyss

Sama seperti feature-nya, seri ini juga didukung para kasting ciliknya yang tampil mengesankan. Tampil mencuri perhatian adalah sosok Lilly yang diperankan Clara Stack. Sang bintang cilik ini bermain dalam peran yang terhitung sulit. Seorang gadis belia yang berada di tengah antara kewarasan dan kegilaan di tengah situasi serba sulit. Bintang remaja cilik ini patut mendapat perhatian khusus. Untuk kasting dewasa, tak ada yang miss dan semua berperan sangat baik, tapi satu peran mencuri perhatian khusus, yakni Chris Chalk yang bermain sebagai sang cenayang, Dick Halloran. Tak mudah untuk bermain sebagai satu karakter yang selalu terjebak di antara realitas dan ilusi pada sepanjang kisahnya. Sosok ini adalah juga tokoh dan karakter yang muncul dalam kisah The Shining (1980) serta Doctor Sleep (2019).

Kisahnya yang demikian kompleks juga menimbulkan banyak pertanyaan yang tak terjawab. Bisa jadi karena durasi alias run time yang terbatas. Tercatat beberapa karakter utama bocah tidak disinggung latar belakang keluarganya, seperti Marge dan Rich, termasuk putri Pennywise (Periwinkle) yang disajikan hanya selintas. Menjelang episode penghujung terdapat peristiwa pembantaian brutal oleh warga kota yang jelas-jelas melanggar hukum, tetapi mengapa mereka tidak mendapat “karma” yang setimpal? Buat saya pribadi, ini sangat mengganjal. Lalu setelah kisah maha heboh ini, mengapa 27 tahun berselang (It Chapter One), tidak bisa kita rasakan sisa-sisa dari kejadian ini? Di mana pihak militer setelah semua peristiwa ini? Semua hal yang terjadi, skalanya jauh lebih besar dari kisah It Chapter One maupun Chapter Two.

IT: Welcome to Derry menggunakan sentuhan formula lawas dengan detil kisah lebih kompleks, visual menawan, serta awal baru bagi semesta sinematiknya. Jika seri ini sukses, “Stephen King’s universe” rasanya bakal menjadi satu seri horor besar yang memiliki potensi luar biasa. Hanya kombinasi kisah seri IT dan Shining pun telah bisa kita rasakan excitement-nya. Bayangkan jika karakter-karakter dari film-film populer ini dihadirkan, misal saja Carrie, Pet Cemetary, Dark Tower, hingga Sleepwalker. Semesta sinematik ini memiliki potensi cerita yang tak terbatas jika digarap dengan cermat dan hati-hati. Andy Muschietti pun telah mengawalinya dengan gaya berkelas melalui seri IT.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaJanur Ireng: Sewu Dino the Prequel | REVIEW
Artikel BerikutnyaSuka Duka Tawa | REVIEW
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses