PULAU ONRUST: ANTARA ROMANTISASI DAN KETIMPANGAN

Film dokumenter pendek berjudul “Onrust: Pulau Museum, Museum Pulau” tayang pada Oktober 2025 dan berdurasi sekitar 15 menit ini disutradarai oleh Steve Reynard, mahasiswa jurusan Information System Business, Universitas Ciputra Surabaya angkatan 2023. Film dokumenter pendek ini mengangkat dua topik utama yang saling berkaitan namun seringkali terlupakan. Pertama, merekam keberadaan penting Pulau Onrust pada periode VOC dan kolonial Hindia-Belanda sebagai ruang strategis ekonomi dan politik. Kedua, film dokumenter ini menunjukkan realitas dari kesejahteraan para pekerja yang menjaga dan mengenalkan Pulau Onrust kepada para wisatawan. Film dokumenter ini tidak hanya menceritakan perjalanan panjang Pulau Onrust, tetapi juga sebagai media kritik terhadap kesejahteraan para pekerja di sektor wisata edukasi sejarah.

Pulau Onrust: Jejak Kolonial yang Tersisa

Pulau Onrust merupakan salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang terletak di wilayah Jakarta. Nama “Onrust”, yang berarti unrest atau never rest (tidak pernah beristirahat), menggambarkan sibuknya aktivitas yang berlangsung di pulau ini. Sementara itu, masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan Pulau Kapal, merujuk pada aktivitas utama pulau ini yakni sebagai galangan kapal.

Lilie Suratminto, seorang sejarawan dan epigraf kolonial menceritakan bahwa pada mulanya Pulau Onrust merupakan pulau kosong yang tidak berpenghuni dan dipenuhi pepohonan yang tinggi dan lebat. Namun, keberadaannya mulai memiliki arti penting sejak periode VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) atau Persekutuan Dagang Hindia-Timur.

VOC menyewa Pulau Onrust dari Jayakarta dengan dalih menjadikannya sebagai galangan kapal, terutama untuk perawatan kapal-kapal dagang yang telah menempuh pelayaran jarak jauh. Dibalik fungsi teknis tersebut, pemilihan Pulau Onrust juga dilandasi kepentingan strategis yang bersifat politis dan ekonomis, untuk melemahkan kekuatan pesaing utama VOC yaitu Kesultanan Banten. Letak Pulau Onrust yang strategis memungkinkan kapal-kapal dagang dari Cina, India, dan Jepang yang melewati Selat Malaka dan menuju Banten dialihkan ke Pulau Onrust. Strategi ini secara perlahan menggerus posisi Banten sebagai pusat perdagangan, hingga akhirnya Pulau Onrust berkembang menjadi salah satu titik perdagangan di Batavia yang berada di bawah kendali VOC. Dikuasainya Pulau Onrust oleh kompeni memberikan dampak yang signifikan terhadap Kesultanan Banten, melemahnya kekuatan mereka. Selain itu, pulau ini juga difungsikan menjadi loji dan fort (benteng pertahanan).

Pada masa Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda, keberadaan Pulau Onrust masih tetap penting, walau sudah berubah fungsi. Pada tahun 1911—1933, Pulau Onrust menjadi tempat karantina bagi para jamaah haji dikarenakan pada saat itu sedang tersebar wabah leptospirosis (penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira). Para jamaah yang akan berangkat maupun setelah pulang dari haji, wajib menjalani pemeriksaan dan karantina untuk memastikan bahwa para jamaah tidak terjangkit penyakit menular. Oleh karena itu di Pulau Onrust dibangun rumah sakit dan rumah dokter yang sampai sekarang masih tersisa puing-puing bangunannya.

Perjalanan panjang Pulau Onrust sejak periode VOC tidak lepas dari persaingan dagang, penguasaan wilayah, dan kolonialisme. Film dokumenter ini menunjukkan keberadaan sisa puing-puing dari bangunan rumah sakit, rumah dokter, hingga makam. Selain itu, terdapat museum arkeologi dengan beberapa peninggalan yang terdapat di dalamnya seperti peluru cannonball, cerobong asap, serta batu bata khas buatan Pulau Onrust. Para pengunjung dapat menaiki kapal dari dermaga Ancol untuk menuju Pulau Onrust.

Ketimpangan Kehidupan ‘Penjaga’ Pulau Onrust

Di balik narasi sejarah yang panjang dan penting, film dokumenter ini juga menyoroti kehidupan para pekerja di Pulau Onrust, baik staf edukasi maupun petugas kebersihan. Selama masa bekerja, mereka tinggal dan menetap di pulau tersebut dengan fasilitas yang terbatas, bahkan dapat dikatakan sangat kurang. Para pekerja yang menjaga dan tinggal di Pulau Onrust harus membawa kebutuhan sendiri dari darat. Baru-baru ini mereka mendapat retribusi berupa air bersih. Penyaluran logistik ke Pulau Onrust sangat bergantung pada cuaca, terutama ketika cuaca ekstrem seperti hujan deras dan gelgombang tinggi. Untuk kebutuhan sayuran, para pekerja menggantungkan pada distribusi logistik yanga ada, sedangkan untuk kebutuhan protein, para pekerja bisa mendapatkan boga bahari dari hasil memancing. Selama menetap di Pulau Onrust, para pekerja memasak secara berkelompok.

Selain permasalahan logistik, para pekerja juga harus menghadapi permasalahan tempat tinggal yang tidak layak. Bangunan yang mereka tinggali sudah rapuh dan rawan, sehingga tidak aman untuk keselamatan mereka terutama ketika cuaca ekstrem. Selain itu, akses listrik masih belum 24 jam tersalurkan di Pulau Onrust. Dalam keadaan yang terasa seperti ‘terisolasi’ ini, satu-satunya hiburan para pekerja adalah saat berkomunikasi dengan keluarga yang ada di rumah.

 Wisata Edukasi Sejarah: Antara Romantisasi dan Realitas

Dari dua topik utama yang dihadirkan dalam film dokumenter tersebut, dapat dipahami bahwa di satu sisi penonton ditunjukkan betapa panjang perjalanan Pulau Onrust dan pentingnya keberadaan Pulau Onrust sejak masa VOC. Akan tetapi, para penjaga Pulau Onrust justru mengalami nasib tragis. Para pekerja yang tinggal harus berada dalam kondisi yang menuntut daya bertahan hidup tinggi untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dalam wacana pariwisata, terutama pariwisata edukasi dan sejarah, fokus seringkali tertuju pada adalah pada objek wisata, bangunan dan artefak. Nasib para pekerja di sektor tersebut terabaikan. “Profesi mulia yang penuh keikhlasan dan pengabdian” melekat pada citra para pekerja di sektor ini, sehingga kesejahteraan mereka seringkali terabaikan. Bagaimana pun juga mereka adalah individu atau pun kepala keluarga yang memiliki tanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga.

Baca Juga  Romantisme Ozu dalam How to Make Millions Before Grandma Dies

Staf Edukasi Pulau Onrust, Ridwan Saide, mengatakan salah satu hal yang membuatnya bertahan di tengah keterbatasan di Pulau Onrust adalah karena keluarga, kebutuhan ekonomi yang harus dia tanggung sebagai seorang kepala keluarga. Selain itu, dia juga menganggap bahwa profesi ini mulia. Dia ingin agar informasi yang dia sampaikan kepada para pengunjung atau masyarakat, dapat terserap dengan baik dan mereka dapat belajar hal baru. Sayangnya, pengabdian dan keikhlasan mereka terabaikan dari tanggungjawab pemerintah memenuhi kesejahteraan mereka.

Meski demikian, sebenarnya ketika berbicara tentang Wisata Pulau Onrust, nasib objek wisata ini pun juga tidak bisa dikatakan baik juga. Tidak hanya para penjaganya yang bernasib tragis, kondisi pulau pun juga cukup memprihatinkan. Staf Edukasi Pulau Onrust, Ridwan Saide, mengatakan bahwa harapannya adalah selain tempat tinggal yang nyaman dan layak bagi para penjaga Pulau Onrust, bangunan di Pulau Onrust rapi kembali dan diperbaiki tanpa merubah struktur asli bangunannya.

Pulau Onrust ditetapkan sebagai Cagar Budaya pada tahun 1972 di masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin. Pemerintah DKI Jakarta pada saat itu menjadikan Pulau Onrust sebagai Taman Arkeologi Onrust. Sesuai dengan sub-judul dokumenter ini, “Pulau Museum, Museum Pulau”, Pulau Onrust menjadi wisata sejarah sekaligus wisata edukasi yang menarik di Indonesia. Pulau yang menjadi museum, dan museum yang berupa pulau.

Keunikan Pulau Onrust dan perjalanan panjang pulau ini tidak lantas membuat pulau ini menjadi benar-benar diperhatikan. Jika kondisi wisata edukasi sejarah di Jakarta saja sepert ini, bagaimana dengan di wilayah lain di Indonesia? Sejarah seringkali dianggap sebagai sesuatu yang amat penting dan vital, tetapi sebenarnya tidak lain itu adalah hanya sebagai formalitas dan dimanfaatkan sebagai isu politis saja. Jika objek dan media yang memperkenalkan dan ‘menjaga’ sejarah terabaikan, lantas bagaimana dengan nasib para pekerja yang berada di sektor tersebut?

Jika melihat apa yang ada di film dokumenter, media penunjang edukasi masih sangat kurang. Masih terbatas dan bergantung pada penjelasan lisan dari staf edukasi. Padahal, perlu juga media lain yang interaktif untuk dapat menunjang wisata edukasi sejarah di Pulau Onrust. Media penunjang yang lebih kompeten dapat membuat pengunjung belajar sesuatu lebih mendalam dan interaktif, tidak hanya sekadar melihat-lihat dari sisa-sisa bangunan saja. Selain itu, ketersediaan perahu sebagai transportasi menuju Pulau Onrust dinilai juga masih kurang dan hanya memakai perahu seadanya. Walau Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah berusaha menambah fasilitas transportasi, baik ke Kepulauan Seribu maupun Pulau Onrust, tetapi dinilai masih belum cukup.

Permasalahan lain yang mengemuka dari wisata edukasi sejarah yang merupakan peninggalan dari masa VOC sampai Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda, narasi sejarah yang dihadirkan selalu kolonial yang menjadi tokoh utama atau ‘kolonial-sentris’. Narasi yang menyinggung soal kehidupan masyarakat lokal sangat sedikit sekali atau bahkan mungkin hanya menjadi bumbu-bumbu saja. Akibatnya, narasi sejarah yang hadir bukan yang relevan dengan identitas masyarakat.

Seperti yang terjadi pada narasi di Pulau Onrust. Narasi yang menjadi highlight adalah ramainya aktivitas perkapalan dan perdagangan ketika periode VOC serta fungsinya sebagai tempat karantina bagi jamaah haji pada tahun 1911—1933. Oleh karena itu, narasi yang dikenal oleh masyarakat adalah bukan soal ‘dirinya di masa lampau’. Dikatakan bahwa jatuhnya Pulau Onrust ke tangan VOC menyebabkan Kesultanan Banten melemah. Fokus dari sisi masyarakat lokal hanya sebatas itu tanpa adanya pendalaman lebih lanjut seperti bagaimana konflik dan kondisi di Kesultanan Banten ketika melemah, bagaimana kehidupan masyarakat lokal, dsb. Pemerintah DKI Jakarta seharusnya memfasilitasi riset dan kurasi sejarah yang lebih inklusif, sehingga Pulau Onrust tidak hanya menjadi monument dan jejak kolonial, tetapi juga masyarakat memiliki bagian narasi di dalamnya.

Film dokumenter “Onrust: Pulau Museum, Museum Pulau” berhasil menunjukkan Pulau Onrust sebagai ruang yang kompleks. Di satu sisi, pulau ini adalah simbol dan bukti dari keberadaan bangsa Barat di Indonesia, khususnya Jakarta, walau narasi sejarah yang dihadirkan masih timpang dengan bentuk kolonial-sentris. Di sisi lain, film dokumenter ini menunjukkan ketimpangan dalam pengelolaan wisata edukasi sejarah. Pelestarian sejarah tidak cukup hanya berbicara penjagaan objek wisata, tetapi keberpihakan terhadap kesejahteraan para pekerja di sektor ini.

Film dokumenter ini memiliki visual yang jernih dan sinematografi yang memanjakan mata. Selain itu, film dokumenter ini dilengkapi dengan arsip-arsip foto, sehingga mempermudah untuk memahami konteks dari film dokumenter. Selain itu, teks yang terdapat di dalam film dokumenter juga mudah dibaca, sehingga memudahkan penonton memahami isi film.

Meskipun film dokumenter ini berhasil mengungkap realitas kehidupan para pekerja di sektor wisata edukasi sejarah, dokumenter ini belum menggali lebih jauh terkait absennya peran pemerintah dalam menjamin kesejahteraan para pekerja dan kebijakan pengelolaan cagar budaya. Harapan bahwa informasi yang tersaji dalam dokumenter ini tidak hanya bergantung pada narasumber, tetapi juga pada beberapa bagian dapat digali sedikit lebih dalam. Dokumenter ini juga masih lebih banyak mengambil dari sisi kolonial-sentris. Selain itu, beberapa ruang dan peninggalan penting di Pulau Onrust masih berpotensi untuk digali lebih dalam. Salah satunya adalah area makam yang hanya mendapat sedikit sorotan dalam film dan lebih berfungsi sebagai latar visual semata.

Debita Aisyiyah Putri Ayu – Peminat Sejarah Lokal

Artikel SebelumnyaSurat Untuk Masa Mudaku | REVIEW

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses