send help

Di era modern seperti sekarang, terhitung langka, sineas yang mencoba mengeksplorasi genre secara ekstrem karena resiko komersialnya. Rupanya tidak untuk Sam Raimi yang kita kenal melalui seri horor komedi Evil Dead dan beberapa superhero populer Marvel. Setelah 4 tahun absen, kini ia kembali dengan film nyeleneh-nya, Send Help. Film thriller horor survival ini dibintangi oleh Rachel McAdams dan Dylan O’Brien dengan bujet USD 40 juta. Akankah tangan emas sang sineas kembali bekerja dalam film terbarunya ini?

Linda Liddle (McAdams) adalah karyawan loyal sebuah perusahaan yang dikesampingkan oleh atasan barunya, Bradley (O’Brien) setelah pemilik lawas (sang ayah) meninggal. Dalam sebuah perjalanan dinas ke Bangkok, pesawat jet yang ditumpangi Linda dan Bradley mengalami musibah dan jatuh ke laut. Beruntung, Linda dan Bradley tak jauh dari sebuah pulau tropis kecil. Linda yang memahami bertahan hidup di alam liar, menikmati situasi barunya, sementara Bradley justru sebaliknya. Relasi antara bos dan bawahan bukannya makin intim, tetapi justru makin keruh.

Terakhir, Raimi menggarap horor adalah Drag Me to Hell (2009), sekalipun Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022) memiliki selipan elemen horor. Send Help memberi kesan tak ada nuansa horor di awal, tetapi Raimi rupanya memasukkan elemen ini sepanjang durasinya, terutama segmen klimaks. Tidak hanya horor, sang sineas juga memasukkan banyak elemen genre, yakni thriller, roman, komedi, drama psikologis, slasher, gore, hingga petualangan. Penonton yang mengira ini adalah plot survival kebanyakan, seperti Cast Away (2000), bakal terkecoh.

Raimi kali ini berani mengeksplorasi beberapa elemen genre sekaligus secara ekstrem. Plotnya sulit untuk diantisipasi dan kelokan kisahnya mustahil untuk dibaca. Ketika arah cerita seolah mengarah ke satu titik, di saat itu pula kisahnya berubah arah ke titik yang berbeda. Relasi antara dua karakternya sulit ditebak dan selalu turun naik secara drastis. Protagonis dan antagonis tipis batasannya. Penonton jangan berharap ini adalah kisah komedi romantis yang manis atau drama survival menyentuh. Semakin lama intensitas kisahnya semakin memuncak, konflik makin memanas, hingga elemen gore-pun dominan dalam segmen klimaksnya.

Baca Juga  Star Wars Episode VII: The Force Awakens

Raimi yang kita kenal dengan gimmick horornya seperti dalam seri Evil Dead, kembali menyajikan trik-trik senada. Melalui penggunaan shot extreme close up, bagian dari wajah, seorang tokoh dapat terlihat begitu mengintimidasi. Lihat bagaimana sang sineas bermain-main dengan babi hutan yang berdarah-darah ketika berjibaku dengan Linda. Sentuhan efek suara dipadukan gerakan kamera, sering kali digunakan untuk membentuk jump scare. Raimi yang kini kembali berkolaborasi dengan komposer Danny Elfman berhasil membangun nuansa intens dan thriller sepanjang film melalui musik khasnya yang mengintimadasi. Nyaris tak pernah ada momen yang nyaman sepanjang film.

Pencapaian memukau ditampilkan oleh Rachel McAdams yang rasanya ini adalah peran pertamanya sebagai seorang “psikopat”. McAdams yang lazimnya tampil manis dan menyenangkan, kini berubah total menjadi sosok perempuan licik, mandiri, sekaligus manipulatif, sulit diprediksi aksinya. Tak ada yang bekal menyangka, bintang kalem seperti dirinya bisa berubah menjadi sosok tukang jagal yang menakutkan. Sementara rivalnya, O’Brien, cukup bisa mengimbangi partnernya walau tidak se-ekstrem dan brutal seperti peran McAdams.

Sam Raimi melalui Send Help menjungkirbalikkan kelaziman genrenya melalui naskah unik dan sentuhan estetiknya yang khas, serta didukung performa brutal dari Rachel MacAdams. Sang sineas melalui eksplorasi genrenya mampu menaikkan levelnya dari film-film garapan sebelumnya. Bagi penikmat yang tahu betul sang sineas, sulit untuk melihat Send Help tanpa mengingat The Evil Dead. Dua film ini memiliki kesamaan eksplorasi yang ekstrem baik genre maupun pendekatan estetiknya. Lebih dari 40 tahun sejak berkarir sebagai sineas, Sam Raimi rupanya masih mampu menunjukkan talentanya sebagai salah satu pembuat film paling berpengaruh dalam sejarah medium film, khususnya horor.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
85 %
Artikel SebelumnyaShelter | REVIEW
Artikel BerikutnyaSurat Untuk Masa Mudaku | REVIEW
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses