shelter

Jason Statham kini kembali dalam peran aksi untuk kesekian kalinya. Shelter adalah film aksi thriller arahan Ric Roman Waugh yang baru saja merilis Greenland: Migration. Roman yang lazimnya berkolaborasi dengan Gerard Butler, kini beralih ke sosok bintang aksi yang lebih komplit, Jason Statham. Duduk pula di kursi produser, sang bintang kini didampingi beberapa nama tenar, sebut saja Bill Nighy, Naomi Ackie, serta bintang remaja cilik, Bodhi Rae Breathnach. Setelah berulang kali bermain dalam tipikal perannya, akankah kali ini sang bintang mencoba suatu yang berbeda?

Eks tentara unit khusus, Michael Mason (Statham) karena alasan tertentu bersembunyi di sebuah pulau kecil di lepas pantai di wilayah Skotlandia, selama 10 tahun. Masalah muncul ketika sobat dan keponakannya, Jesse (Breathnach) yang mengantar stok makanan terjebak badai dan menewaskan sang rekan. Jesse yang terluka membuat Mason harus pergi ke daratan utama untuk mencari pengobatan. Kemunculannya langsung terdeteksi MI:6 yang segera memburunya ke lokasi. Perintahnya adalah tembak ditempat! Aksi sang jagoan pun di mulai.

Entah sudah berapa film yang mengeksplorasi sosok Jason Statham dengan peran senada. Kalian bisa menyebut apa pun sebutan untuknya, The Transporter, The Mechanic, The BeeKeeper, The Working Man, atau lainnya. Peran sang aktor adalah eks marinir, agen atau unit khusus legendaris yang biasanya diusik oleh pihak yang dulu membutuhkan jasanya. Pemicu bisa apa pun, lazimnya seseorang yang sangat dekat, nyawanya terancam, diculik, atau dibunuh oleh pihak lawan. Inti plotnya adalah bagaimana sang algojo menghabisi dan mengeksekusi seluruh sistem yang mengganggunya, dari para kroco hingga sang bos. Lantas bagaimana dengan Shelter? Kurang lebih sama.

Baca Juga  Gods of Egypt

Entah para fans sang bintang bosan atau tidak, aksi-aksinya pun tak jauh berbeda dari sebelumnya. Bujet produksi tentu membedakan besar ledakan dan seberapa mewah aksinya. Jika dibandingkan film-film lalu yang hingar bingar, Shelter terasa sedikit lebih sunyi dan minim bujet. Aksi-aksinya juga terhitung biasa dan memilih di wilayah pelosok, tanpa banyak mengambil lokasi di keramaian atau bangunan ikonik yang megah. Satu-satunya yang terasa megah hanyalah ilustrasi musik bernuansa disko yang menghentak oleh komposer David Buckley yang rupanya menjadi langganan sang sineas. Tak heran jika tone musiknya mirip Greenland: Migration yang juga digarap komposer yang sama.

Dengan plot reguler sang bintang, Shelter menyajikan semua aksi yang diharapkan oleh fans Jason Statham, tidak kurang tidak lebih. Kasus yang sama, mirip dengan Liam Neeson yang dalam dua dekade belakangan sering kali mengambil peran senada yang tak lepas dari peran ikoniknya di seri Taken. Neeson kini sudah memudar dan kualitas film-film aksi pun mulai menurun dengan banyak terlibat dalam produksi bujet kecil atau menengah. Shelter mulai sedikit memperlihatkan tanda-tanda yang sama.

Usia sang aktor yang kini mendekati 60 tahun membuatnya masih menyisakan waktu untuk bermain dalam film-film aksi laga sejenis.  Hanya pasar dan waktu yang bisa menjawab. Sang bintang bisa saja mengantisipasi dengan mengambil peran-peran lain yang lebih mengeksplorasi sisi dramatik. Toh, film berkualitas tinggi macam Lock, Stock and Two Smocking Barrels (1998) dan Snatch (2000) yang menjadi debut karirnya, tercatat bukan film aksi laga dar der dor yang reguler ia bintangi.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaDua Hati, Satu Kerja Sepi
Artikel BerikutnyaSend Help | REVIEW
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses