Industri film Indonesia telah mengalami pasang surut dalam sejarah perkembangannya. Setelah mengalami masa puncak pada dekade 70-an hingga 80-an, mulai awal dekade 90-an industri perfilman Indonesia dianggap banyak para pengamat mengalami mati suri terbukti dengan dibekukannya Festival Film Indonesia setelah tahun 1992. Pada awal dekade ini industri film Indonesia kembali bangkit dipicu oleh beberapa film yang sukses menyedot ratusan ribu penonton. Ada dua film yang sangat menonjol mengawali dekade ini yakni, Jelangkung (2001) dan Ada Apa dengan Cinta? (2002). Setelah sukses komersil luar biasa dua film tersebut dalam jangka waktu yang tidak lama muncul film-film yang memakai tema sejenis, yakni tema remaja dan horor. Terlepas dari segala pencapaian estetik yang dicapai film-film tersebut dari titik inilah kami menyebut momen ini dengan istilah Indonesian New Wave. Sebuah gerakan, semangat serta gairah baru bagi industri perfilman Indonesia yang bisa kita katakan masih berlangsung hingga kini.

Berbeda dengan gerakan New Wave Perancis, gerakan sinema kita tidak memiliki karakter estetik yang khas. Tendensi yang tampak dalam gerakan sinema kita adalah yang tampak dalam gerakan sinema kita adalah memakai tema roman atau horor yang terorientasi untuk kalangan penonton remaja atau kaum muda. Fokus pada penonton remaja seolah menjadi suatu keharusan karena merekalah yang mendominasi penonton bioskop kita sehingga menjadi jaminan sukses tidaknya suatu film. Suatu film dibuat semata-mata bertujuan untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya memang sah-sah saja namun bagaimana sebenarnya tingkat pencapaian sinema kita. Apakah memang film-film kita sudah layak bersaing dengan film-film asing? Anda bisa menjawabnya sendiri. Memang fakta bahwa beberapa film-film kita laris di kalangan penonton domestik namun apakah film kita bisa sukses secara komersil di negara luar serta apakah film-film kita sebenarnya sudah mampu berbicara di level Oscar, misalnya.

Kelemahan mendasar yang sering terlihat dalam film-film kita adalah motivasi plot yang sangat lemah. Seringkali kita tidak mampu melihat rangkaian hubungan sebab akibat yang kuat serta konsistensi dalam sebuah alur cerita. Plot lemah juga seringkali semakin diperburuk dengan dialog yang lemah dan tidak berguna. Memang beberapa film-film kita telah memiliki pencapaian sinematografi yang cukup baik dengan menyajikan komposisi serta gambar yang kuat. Namun apalah arti sebuah gambar yang indah jika film tersebut tidak memiliki plot yang kuat. Beberapa film kita juga tampak sudah mencoba untuk bermain-main dengan bahasa visual dan hasilnya memang terlihat baik (baca:keren) namun seringkali mereka masih memakai teknik tersebut dalam konteks dan momen yang tidak tepat. Dialog yang lemah secara tidak langsung juga mempengaruhi pencapaian akting dari para pemainnya sekaliber apapun dia. Beruntung film-film kita seringkali banyak tertolong oleh lagu soundtrack manis yang kebetulan memang pas dengan cerita serta tema filmnya.

Baca Juga  Lentera Merah, Hantu Takut Hantu

Dari beberapa kelemahan diatas rasanya masih sulit jika film-film kita harus bersaing dengan film-film asing secara komersil apalagi untuk bisa berbicara di level internasional. Salah satu penyebab utama adalah karena industri film kita belum memiliki instrumen yang mampu mengontrol kualitas film dengan baik. Kontrol kualitas tersebut umumnya dilakukanoleh para kritikus film yang sudah mengakar di negara-negara luar. Tanpa adanya kritikus film yang berpengalaman selamanya sinema Indonesia tidak akan berkembang dan selalu akan berjalan di titik yang sama. Di sebuah harian nasional seorang kritikus lokal pernah mengomentari sebuah film kita yang dianggapnya terlalu monoton karena selalu mengambil gambar yang statis. Apakah dengan gambar yang dinamis film sudah pasti tidak monoton? Apakah dengan hanya menggunakan gambar yang statis lantas sebuah film tidak bisa dikatakan istimewa? Semuanya sangat relatif dan sejarah juga telah membuktikan bahwa film-film dengan tema dan teknis sederhana yang berkualitas tinggi jumlahnya tidak sedikit.

Festival Film Indonesia sejak dua tahun belakangan juga sudah mulai muncul kembali. Hal ini tentu saja sangat positif bagi perkembangan sinema kita hanya saja perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas dari seluruh para pelaku industri jika kita ingin berbicara di level yang lebih tinggi. Para pelaku industri film kita tidak perlu terlalu besar kepala dengan hasil yang telah kita capai karena kita memang belumlah apa-apa. Yang perlu kita lakukan sekarang tidak lain adalah belajar… belajar dan belajar untuk bisa sama-sama memajukan sinema kita. Bagaimana mungkin kita bisa menghasilkan suatu karya yang baik jika kita tidak memahami apa dan bagaimana karya yang baik itu. Kita bisa mengambil teladan dari Truffaut dan kawan-kawannya sebelum mereka menjadi sutradara ternama. Mereka telah memiliki pengetahuan yang luas tentang film baik bentuk, gaya, tema, teknik dan segala jenis film dari ribuan film yang mereka tonton. Mereka tidak menjadi sutradara karena tekanan dari siapapun namun lebih disebabkan karena kecintaan mereka pada film. Film telah menjadi bagian dari hidup mereka. Jika para pelaku industri kita tidak memiliki kecintaan yang sama terhadap film maka semua akan sia-sia karena selamanya film akan menjadi barang dagangan semata. Mengutip kata-kata Godard yang ditujukan untuk para sutradara mainstream di Paris kala itu, “Pergerakan kameramu sangat buruk karena subyeknya buruk, para pemainmu berakting sangat buruk karena dialognya tidak bermakna, dalam satu kalimat, kalian tidak bisa menciptakan film karena kalian sudah tidak tahu lagi apa itu film…”. 

Artikel SebelumnyaVirgin, Film Remaja yang Bukan untuk Remaja
Artikel BerikutnyaSejarah French New Wave
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

2 TANGGAPAN

  1. Hmmm… Saya suka ulasan ini. Setuju, belajar dan berkaca seyogyanya jangan pernah berhenti. Di level sutradara, saya pribadi melihat kemajuan yang luar biasa. Namun di tingkat produser, barangkali saya belum menangkap sebuah semangat baru di luar making money, offcourse. Tentu saja, sebagai sebuah industri, feedback berupa profit itu wajib. Tapi apakah a big profit dari sebuah industri film tidak pernah bisa didapat dari film yang bagus? Karena alasan kemauan penontonkah? Lantas siapa yang bertanggung jawab atas terbentuknya kualitas penonon seperti sekarang ini? Saya kira dalam sejarah perfilman kita sutradara seperti Teguh Karya, Arifin C Noor, Eros Djarot dsb. telah meninggalkan test film yang cukup bermutu untuk masyarakat penonon kita. Sebelum semuanya rusak, justru semakin ke sini. Artinya ada yang terhapuskan dari test penonton kita oleh sebuah gempuran tontonan yang ala kadarnya dalam kurun waktu beberapa generasi.

    Well, saya kok nggak ngeliat satu nama pun di blog ini. Why? trus update terus dong artikelnya…

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.