“Anak saya kecelakaan motor enam tahun yang lalu. Istri saya meninggal mendadak, empat bulan yang lalu. Saya tahu, rasanya ditinggal sendirian, dan itu nggak enak.”
-Simon (Surat Untuk Masa Mudaku, 2026)-
Masih ingat dengan Laskar Pelangi (2008)? Jika iya, memori apa yang terlintas di benak kalian ketika mengingat film tersebut? Dalam rentang 15 hingga 20 tahun terakhir, entah sudah berapa ratus bahkan ribuan film Indonesia yang saya tonton. Namun, tidak semuanya meninggalkan kesan yang manis, segar, atau sentimentil. Hingga kemudian hadir Surat Untuk Masa Mudaku (2026), sebuah drama keluarga yang berfokus pada kehidupan anak-anak yatim piatu dengan latar panti asuhan. Dirilis di Netflix pada 29 Januari 2026, saya pun bergegas menontonnya. Pertanyaannya kemudian muncul: apa sebenarnya yang ditawarkan film ini? Mampukah ia menyamai capaian emosional film yang saya sebutkan di awal? Terlebih, tidak banyak film Indonesia yang secara konsisten menggunakan panti asuhan sebagai ruang naratif utama, apalagi dengan menempatkan kepolosan anak-anak sebagai poros cerita? Mari kita simak bersama.
Kefas (Millo Taslim) adalah remaja pemberontak yang tinggal di Panti Asuhan Pelita Kasih. Sikapnya yang keras dan penuh amarah membuat para pengurus kewalahan, terlebih karena Kefas menyimpan luka mendalam dari masa lalu, termasuk kehilangan orang terdekat yang tak pernah benar-benar ia terima. Ketegangan di panti asuhan mulai berubah ketika seorang pengurus baru bernama Simon (Agus Wibowo) hadir. Sosok Simon yang pendiam dan penuh empati perlahan memberi warna baru dalam kehidupan anak-anak panti, sekaligus membuka ruang dialog yang selama ini tertutup oleh prasangka dan kemarahan.
Secara narasi, film ini menyoroti keseharian sekelompok anak panti asuhan yang kerap dilabeli nakal dan bermasalah: dengan fokus pada persahabatan, kenakalan remaja, serta proses penyembuhan trauma masa kecil. Amarah Kefas sempat mendorongnya pada keinginan untuk melawan dan membalas dendam, namun perjalanan bersama teman-temannya dan para pengasuh justru mengarah pada refleksi diri dan pendewasaan emosional. Melalui relasi Kefas dan Simon, film ini menggambarkan upaya berdamai dengan kehilangan, belajar berserah, dan menemukan makna syukur. Terinspirasi dari pengalaman personal sang sutradara, kisah ini menjadi refleksi intim tentang luka, harapan, dan kemungkinan untuk pulih.
Ada kalanya saya larut dalam kisah yang dibawakan film ini. Walau saya tidak relate dengan nasib para tokohnya: cara film ini ditulis dan dikemas terasa brilian. Rasa trenyuh, iba, kecewa, hingga rekonsiliasi dibangun secara perlahan dan berlapis. Jika kalian bukan tipe penonton yang sabar, besar kemungkinan akan kecewa dengan 5-15 menit awal film ini. Namun, bagi penonton yang memberi waktu, cara bertutur film ini mampu membangun emosi dengan sangat kuat. Kita diajak berjalan pelan, hanyut dalam persoalan personal setiap karakter. Kepolosan anak-anak panti, dialog yang tidak berlebihan, serta konflik yang sejatinya mudah ditebak justru meninggalkan kesan yang membekas. Soal plot twist? jangan terlalu berharap. Ini bukan film yang mengandalkan kejutan. Meski akhir ceritanya dapat ditebak, poin utamanya terletak pada rasa kebersamaan yang solid.
Secara visual, otentikasi akhir era 1980-an terasa kental dan mengharukan. Mulai dari set rumah panti, kendaraan mobil masa itu, hingga kostum para pemeran: semuanya disajikan dengan presisi. Kesan nostalgia hadir melalui detail-detail sederhana seperti radio, menulis buku diary, hingga cara tiap tokoh membangun emosi yang tidak serta-merta bersifat personal. Di titik inilah saya menikmati gaya sang sineas. Bahkan, boleh dikatakan Sim F tampil lebih matang di film ini dibanding karya-karya sebelumnya. Apresiasi juga patut diberikan kepada sinematografer, Arief Retno Pribadi: membuat dunia film ini terasa hidup dan bernapas.
Urusan musik pun digarap dengan cerdas. Sang composer tahu kapan musik harus sendu dan kapan memberi ruang bagi cerita. Lagu “Kidung” yang muncul beberapa kali terasa terus terngiang di kepala saya. Ada setidaknya dua scene yang sangat memorable: saat Boni (Halim Latuconsina) si imut yang bangun lebih awal dari teman-temannya, serta momen ketika mereka menyanyikan lagu teatrikal paduan suara. Semuanya terkonsep dan tertata rapi. Tata cahaya yang natural, dipadu dengan aksen kebiruan, menambah kedalaman emosi yang dibangun sepanjang film.
Soal akting? Oh God, so proud of them. Kepolosan anak-anak panti dibangun dengan sangat meyakinkan. Chemistry, keceriaan, kekompakan, hingga momen berpacu dengan waktu, semuanya diarahkan dengan baik. Hampir seluruh pemerannya terasa fresh dan jarang saya temui di industri film: kecuali Verdi Solaiman dan Marthino Lio. Jujur, jika film ini diikutkan ke festival, saya yakin setidaknya ada dua hingga tiga shortlist atau nominasi yang bisa diraih: entah dari sisi naskah, akting, maupun sinematografi. Secara khusus, saya kagum pada Agus Wibowo sebagai Simon. Cara ia berdamai dengan masa lalu dan menjalani keseharian dalam rekonsiliasi kesepian terasa begitu wise.
Plot twist bukanlah poin utama yang perlu diperdebatkan di sini. Justru kekuatan Surat Untuk Masa Mudaku (2026) terletak pada kemasannya yang tidak mengandalkan artis mainstream, penceritaan anak-anak panti yang tidak berlebihan, serta kehadiran pemeran kawakan yang tampil kalem dan matang. Semua elemen itu berpadu dengan rapi walau tidak sempurna. Ada kalanya kita menyalahkan masa muda, tetapi waktu tidak pernah kembali. Di situlah makna rekonsiliasi bekerja, membangun asa, sekaligus menerima segala konsekuensinya.
Platform Tayang: Netflix
Judul: Surat Untuk Masa Mudaku | Tahun Produksi: 2025 | Tahun Rilis: 2026 | Durasi: 2 Jam 15 Menit | Sutradara: Sim F | Penulis: Daud Sumolang | Produser: Wilza Lubis | Rumah Produksi: Buddy-Buddy Pictures | Negara: Indonesia | Pemeran: Millo Taslim, Fendy Chow, Agus Wibowo, Aqila Herby, Verdi Solaiman, Cleo Haura, Halim Latuconsina, dan Willem Bevers.






