Cars 3 (2017)

102 min|Animation, Adventure, Comedy|16 Jun 2017
6.7Rating: 6.7 / 10 from 142,758 usersMetascore: 59
Lightning McQueen sets out to prove to a new generation of racers that he's still the best race car in the world.

Semua orang tahu, Studio Pixar adalah penghasil film-film animasi berkualitas tinggi yang menjadi langganan peraih Oscar. Namun, semua orang juga tahu jika seri Cars, adalah seri terlemah mereka dengan lebih mengandalkan segmen aksi balapnya ketimbang kedalaman cerita. Sebuah pilihan berani dari studio ini untuk memproduksi Cars 3. Mereka tahu bahwa seri ini adalah titik terlemah mereka dari sisi kritik, dan sejauh ini seri ketiga ini menghasilkan hanya US$ 300 juta (Pencapaian box-office terendah studio Pixar). Mengapa mereka bersusah payah memproduksi seri animasi ini lagi? Sebuah penutup yang manis adalah jawabnya.

Kisahnya amat jauh berbeda dari seri pertama dan kedua. Lighting McQueen rupanya masih menyisakan kejayaan di arena balap sebelum pembalap muda, Jackson Storm datang. McQueen memaksakan diri untuk membalap jauh di luar kemampuannya, hingga akhirnya musibah pun datang. Beberapa bulan berselang, rupanya McQueen masih belum mau pensiun, hingga membawanya ke pemilik sponsor barunya, dan berlatih bersama pelatih muda, Cruz Ramirez dengan metode modernnya. McQueen menolak semuanya, dan apa yang dilakukannya selalu sia-sia hingga berujung pertemuannya dengan pelatih lama mentornya (Doc). Semasa latihan, McQueen lambat laun menyadari bahwa Cruz memiliki potensi yang jauh lebih dari dirinya.

Dari kisahnya, sudah tampak jika film ini sebenarnya bukan lagi untuk konsumsi anak-anak. Dialog-dialog yang berat lebih mendominasi ketimbang segmen aksinya. Saya tidak habis pikir, bagaimana anak-anak yang mengisi sebagian besar kursi bioskop bisa menikmati ini semua. Film ini sejatinya adalah konsumsi penonton dewasa dengan pesan mendalam yang rasanya sulit dipahami anak-anak. Film ini adalah sebuah proses tentang bagaimana orang dewasa bisa lebih bijak untuk melepas ambisi pribadinya, dan merelakan generasi yang lebih muda untuk mewarisi suksesnya. Jika diandaikan seri pertama, film ini berkisah dari sudut pandang Doc, sang mentor. Pixar kali ini berjudi dengan kisahnya, dan rasanya tahu benar apa resikonya. Setidaknya Pixar menutup manis seri Cars dengan cara yang elegan.

Baca Juga  Influencer

Cars 3 adalah sebuah percobaan yang berani dari Pixar Studio dengan mengorbankan target penonton usia anak-anak. Dari sisi visual, rasanya sudah tak perlu dikomentari lagi. Pencapaian visual animasi di era sekarang memang sudah sangat berbeda dengan dekade lalu dengan meyajikannya jauh lebih realistik. Segmen aksinya memang tidak seheboh seri pertama dan kedua, namun lebih menekankan pada sisi dramatik kisahnya. Jujur saja, film ini khususnya di babak pertengahan terasa sangat membosankan, walau akhirnya mampu ditutup dengan manis. Untuk genrenya sendiri, olahraga, film ini mampu menampilkan sesuatu yang segar melalui plotnya. Sebagai kesimpulan, sikap dewasa McQueen bisa ditiru para orang tua/dewasa/pemimpin di negeri ini. Kebahagiaan bisa diraih bukan hanya membuktikan diri kita menjadi orang sukses, namun membuat generasi di bawah kita menjadi lebih baik dan lebih sukses dari kita.
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaBerangkat!
Artikel BerikutnyaAtomic Blonde
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses