Seperti sudah kita ketahui bersama film Ekskul yang memenangkan penghargaan film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) banyak menuai kontroversi seputar tuduhan pelanggaran hak cipta terhadap film tersebut. Beberapa artikel harian surat kabar seperti Kompas mengatakan bahwa film ini menggunakan ilustrasi musik mirip dengan film aksi Hollywood, Gladiator serta film perang Korea, Taegukgi. Beberapa rekan-rekan yang menonton film ini juga banyak berkomentar bahwa ilustrasinya mirip film ini, film itu dan sebagainya. Para pembaca sendiri yang telah menonton filmnya mungkin juga merasakan hal yang sama. Lalu bagaimana sebenarnya ilustrasi musik film Ekskul sendiri? Apa benar film ini mengambil ilustrasi musik film lain atau di aransemen ulang? Sebelumnya perlu ditekankan bahwa tulisan ini sama sekali tidak menyudutkan pihak manapun dan tidak bertujuan apapun kecuali hanya menyajikan fakta semata. Siapapun bisa membuktikan sendiri fakta-faktanya.<

Di saat film baru berjalan sekitar 10 menit saja penulis sudah beberapa kali menggelengkan kepala karena ilustrasi musiknya memang mirip dengan beberapa film. Filmnya sendiri sejak awal hingga akhir tidak memiliki ilustrasi musik yang konsisten, nyaris tiap adegan berganti selalu menggunakan ilustrasi musik yang berbeda. Bagi para penggila film, pasti tahu persis jika ilustrasi musiknya sebagian besar diambil dari beberapa film populer. Ketika selesai menonton film, setidaknya penulis langsung bisa mengenali tiga film menggunakan ilustrasi musik yang “mirip” yakni, Gladiator, Bourne Supremacy, dan Munich. Beberapa ilustrasi musik lainnya terasa akrab ditelinga namun penulis belum bisa langsung mengindentifikasinya (belakangan diketahui Taegukgi). Lebih jauh penulis meneliti satu persatu film-film bersangkutan ternyata musiknya tidak hanya mirip namun memang sama persis. Terapan ilustrasi musik Gladiator dan Munich nyaris sama yakni hanya mengambil sebagian kecil musik serta suara vokal sebagai ungkapan kesedihan atau penderitaan. Sedangkan Bourne seringkali digunakan untuk memperkuat adegan aksi.

Baca Juga  Qodrat

Suara “vokalGladiator setidaknya digunakan beberapa kali. Seperti pada adegan menit-menit awal saat penonton diperlihatkan pertama kali suasana ruang sandera dan beberapa kali ketika Joshua selesai dipukuli teman-temannya. Suara “vokal” Munich terdengar pada adegan ketika seorang guru berkomunikasi dengan Joshua melalui HT. Sementara ilustrasi musik film aksi, Bourne Supremacy paling sering digunakan dalam film ini. Seperti misalnya ilustrasi musik menghentak pada adegan awal ketika polisi-polisi berloncatan dari truk dan berjaga-jaga di sekitar sekolah, sama persis dengan adegan klimaks dalam Bourne ketika adegan kejar-mengejar mobil di dalam terowongan. Juga ilustrasi musik ketika Joshua menyelinap masuk ke ruang guru untuk membuat surat palsu, sama persis dengan adegan awal dalam Bourne ketika dua agen rahasia terbunuh di Berlin. Serta banyak contoh lainnya yang para pembaca bisa cermati sendiri bila berminat.

Sangat disayangkan kenapa kasus ini baru muncul setelah film ini dinyatakan sebagai pemenang FFI. Sekalipun film ini tidak dinominasikan dalam ajang FFI mestinya “pelanggaran” ini oleh pihak yang berwenang telah diklarifikasi terlebih dahulu terkait ijin hak cipta serta ketentuan hukum lainnya. Sangat aneh jika kesalahan mendasar seperti ini bisa dibiarkan terjadi (atau barangkali memang tidak terdeteksi sebelumnya). Tidak hanya film Ekskul saja, sebenarnya kasus serupa juga beberapa kali tampak pada film-film lainnya. Apapun alasannya hal ini jelas menunjukkan ada sesuatu yang salah dalam industri perfilman kita. Biarlah film Ekskul kita jadikan pengalaman untuk seluruh pelaku industri film agar tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari. Setidaknya kita mampu menghargai hasil karya cipta orang lain jika ingin hasil karya cipta kita dihargai oleh orang lain. Bagaimana mungkin kita bisa mengirimkan pesan cinta jika kita sendiri tidak mengerti apa arti cinta.

https://www.youtube.com/watch?v=f74W_b9n5iM

 

Artikel SebelumnyaTentang Gaya dalam Sinema
Artikel BerikutnyaMendadak Dangdut, Benar-Benar “Dangdut”
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.