kutukan peti mati

Unsur mistis dari sejumlah tempat bekas Belanda tak berkesudahan disajikan dalam film horor. Begitu pula kisah-kisah dari masa lalu seputar Pulau Onrust di Kepulauan Seribu dalam Kutukan Peti Mati. Film arahan Irham Acho Bahtiar yang diangkat dari novel Sarchopagus Onrust karya Astryd Diana Savitri. Astryd pula yang menulis skenario film ini, dan sudah pernah rilis lebih dulu di Malaysia pada 2021 dengan judul Onrust. Kutukan Peti Mati dibuat melalui produksi Balai Pustaka dan Adroit Indonesia, dan diperankan antara lain oleh Aliff Alli, Yoriko Angeline, Donny Damara, Jan Konraad, Cristina Surya, Egy Fedly, dan Mathias Muchus. Apa kelebihan film ini, sehingga berkenan ditayangkan ke publik lagi usai berselang dua tahun pascatayang di Malaysia?

Pulau Onrust memikat banyak turis melalui kisah-kisah seputar masa lalunya semasa digunakan oleh orang-orang Belanda. Termasuk menyimpan misteri kelam pula. Bram (Aliff) dan Susan (Yoriko) adalah salah satu yang tertarik dengan itu. Namun, ketertarikan Bram kelewat besar dan malah merugikan hidup Susan, lewat sebuah buku kuno yang tanpa sengaja terpental keluar dari tanah mendatanginya. Prof. Daniel (Donny) pun harus turun tangan untuk membantu membereskan masalah mereka, tetapi justru tenggelam sendiri dalam misinya.

Keangkeran cerita dalam sejarah dari seputaran keberadaan bangsa Belanda waktu itu seakan belum terkuras habis hingga kering untuk dituangkan melalui film-film horor. Walau untuk kasus Kutukan Peti Mati sendiri sudah berlalu sejak 2021 di negara tetangga dengan judul yang berbeda. Sayangnya, Kutukan Peti Mati tidak menawarkan sepeser pun keunggulan, kecuali ihwal sejarah Pulau Onrust. Memang, horor sejarah (lokal) terbilang jarang, tetapi bukan berarti sekalipun ada lantas dibuat dengan naskah yang serampangan. Hampir tidak ada plot atau cerita utama yang betul-betul dapat diikuti dalam Kutukan Peti Mati. Ini kisah Susan yang kerasukan tiga arwah dan hendak berujung jadi tumbal, ataukah cerita Maria yang bernasib tragis di tangan bangsanya sendiri?

Tendensi sang sineas maupun penulis tampak kabur gara-gara hasrat untuk menampilkan informasi seputar Onrust sebanyak-banyaknya. Termasuk informasi tentang misteri Maria van de Velde. Fokus cerita pun melebar, diikuti pula oleh fungsi para tokoh. Seakan tokoh utama dalam Kutukan Peti Mati bukan hanya Bram dan Susan, melainkan juga Daniel. Bahkan plot Daniel belakangan bergerak sendiri dengan misinya hingga ujung pencarian Maria (Cristina) akan Yehovah (Konraad), sedangkan Bram dan Susan sibuk dalam plot yang berbeda. Inkonsistensi cerita ini lantas menjalar ke segala penjuru aspek filmis lainnya.

Baca Juga  All Quiet on the Western Front

Tanpa aktor-aktor kuat macam Donny Damara, Egy Fedly, Ray Sahetapy, dan Mathias Muchus, niscaya sisi olah peran dalam Kutukan Peti Mati bakal lebih anjlok lagi. Kendati pada saat yang sama, penokohan dan peran yang mereka mainkan juga ala kadarnya. Donny dan Egy seolah penting, tetapi beberapa kali tampil konyol karena salah pilih dialog dan adegan. Apa motivasi adanya kilas-balik masa kecil Daniel yang traumatik, padahal porsi perannya dalam film mestinya adalah pendukung semata bagi Bram dan Susan. Banyak pula peran-peran tidak penting lainnya, sehingga tampak sekadar tempelan. Misalnya, Tania (Dewi Rezer) yang pada akhirnya hilang entah ke mana dan hingga akhir cerita tak disinggung lagi.

Perkara supernatural dalam film juga datang dan pergi. Ketika Ibrahim (Mathias), kakek Susan melawan para penganut kultus demi menyelamatkan cucunya, perkelahian yang berlangsung hanyalah adu fisik semata. Bukankah mereka sama-sama punya kemampuan olah batin? Naratif Kutukan Peti Mati juga terlalu bermasalah untuk dikesampingkan, sehingga penonton sukar menikmati sajian dari sisi sinematik. Namun, saat muncul kesempatan untuk mencermati sinematik, yang disuguhkan rupanya sudah jadi kebiasaan. Trik-trik horor yang serba mengejutkan, pun kemunculan setan di belakang tokoh saat volume musik mengecil dan suasana menghening. Sangat tertebak.

Kutukan Peti Mati sekadar mempertontonkan adegan-adegan ala horor yang “mencoba” mengejutkan padahal sangat biasa saja, tanpa fokus cerita yang jelas. Boleh jadi dalam bentuk novel, sang penulis membuahkan karya yang bagus, tetapi skenario film butuh penanganan berbeda dan Astryd belum mampu melakukannya. Begitu pula Irham. Perannya sebagai sutradara tidak tampak signifikan dalam memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam skenario melalui arahannya di lapangan. Lagi-lagi, rekam jejaknya belum menunjukkan perbaikan.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
30 %
Artikel SebelumnyaBarbie
Artikel BerikutnyaThey Cloned Tyrone
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.