They Cloned Tyrone (2023)
122 min|Comedy, Mystery, Sci-Fi|21 Jul 2023
6.6Rating: 6.6 / 10 from 41,378 usersMetascore: 74
A series of eerie events thrusts an unlikely trio onto the trail of a nefarious government conspiracy in this pulpy mystery caper.

Jarang kita lihat, film fiksi ilmiah yang memadukan kisahnya dengan tema kulit hitam. They Cloned Tyrone adalah film sci-fi komedi karya sineas debutan Juel Taylor. Film ini dibintangi aktor-aktor tenar, seperti John Boyega, Teyonah Parris, Jamie Foxx, David Alan Grier, hingga aktor kawakan Kiefer Sutherland. Film berdurasi 119 menit ini dirilis oleh Netflix baru lalu. Apakah kisah film ini mampu memberikan suntikan segar untuk genrenya?

Fontaine (Boyega) adalah seorang pengedar narkoba di kota kecil bernama Glen. Malam itu, ia berurusan dengan Slick Charles (Foxx) seorang mucikari yang berhutang padanya. Selesai dari sana, Fontaine ditembak secara brutal oleh pesaing bisnisnya di parkiran. Esok harinya, secara mengejutkan ia terbangun tanpa ada satu peluru pun di tubuhnya, seolah ia bangkit dari kematian. Fontaine tak bisa memahami kejadian ini dan Charles pun mengamini jika ia melihatnya ditembak semalam. Yo-Yo (Parris), bawahan Charles yang seorang tuna susila, mengenali para pelakunya  Mereka bertiga pun menuju ke lokasi tersebut dan memeriksa seisi rumah. Betapa mengejutkannya ketika mereka menemukan sebuah elevator dan laboratorium bawah tanah dengan jasad Fontaine yang tertembak di sana. Mereka pun lalu melakukan aksi investigasi untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di kota kecil tersebut.

Siapa menyangka kisah film yang memberi kesan awal adalah tipikal drama kriminal kulit hitam rupanya beralih menyajikan kisah fiksi ilmiah berskala besar. Plotnya memberi efek kejut yang luar biasa sejak titik balik pertama kisahnya. Sisi misteri mampu memicu rasa penasaran yang hebat bagi kita. Semakin mengalir, kisahnya justru semakin intens dan semakin membuat penasaran. Aksi investigasi konyol serta celotehan khas kulit hitam dari tiga karakter utamanya makin menambah komplit pencapaian luar biasa filmnya.

Baca Juga  Daddio

Plot uji coba dan eksperimen ilmiah terhadap manusia memang bukan hal yang baru. Uji coba rahasia ini bisa dilakukan oleh pemerintah, korporat, robot, hingga alien, sebut saja Dark City, The Truman Show, The Matrix, The Island, hingga The Maze Runner. Entah mengapa, Tyrone banyak mengingatkan pada Dark City (1998) dan uniknya di sini aktor Kiefer Sutherland pun bermain dengan peran antagonis senada. Bedanya dengan Dark City, ras alien membuat uji coba di sebuah kota besar (planet) buatan untuk mengetahui daya tahan ras manusia dalam perubahan ekstrem. Sementara dalam They Cloned Tyrone, motif dari uji coba ilmiah ini tampak lemah dan absurd selain untuk tujuan mengakomodir pesan dan isu sosialnya.

Boyega, Parris, dan Foxx bermain sangat luar biasa sehingga tak heran jika ketiganya bakal mendapat apresiasi tinggi kelak. Ketiganya, khususnya Parris dan Foxx terlihat sekali menikmati peran mereka. Tidak seperti Boyega yang perannya lebih pasif, Parris dan Foxx nyaris tak bisa diam dengan dialog-dialog cepat dan banyolan cerdas. Keduanya seringkali menggunakan referensi film “kulit putih” atau ikon pop culture dalam dialog mereka yang tentu ini bakal membuat para penikmat film tergelak lepas. Melihat mereka bertiga beradu mulut begitu seru adalah pencapaian terbaik film ini. Saya bisa melihat celotehan mereka seharian tanpa sedikit pun merasa bosan.

They Cloned Tyrone adalah sebuah sajian langka yang memadukan sisi komedi, misteri, sci-fi, kriminal, thriller, sekaligus isu sosial melalui naskah yang amat brilian. Nuansa kulit hitam yang kental mewarnai semua aspek filmnya, tanpa sedikit pun menyinggung, walau stereotip rasnya nyata-nyata digunakan dengan gamblang. Jarang-jarang, sosok rendah yang kerap dianggap amoral, yakni pengedar narkoba, mucikari, dan tuna wisma menjadi tokoh utama melawan ketidakadilan absolut. Film ini melengkapi film-film hebat unik bertema kulit hitam karya Jordan Peele dan The Blackening baru lalu. Wow, tiga film istimewa dalam seminggu, Oppenheimer, Barbie, dan kini They Cloned Tyrone, what a week for film lovers!

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaKutukan Peti Mati
Artikel BerikutnyaWebinar FFWI 2023: Signifikansi Peran Musik dalam Film
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.