Sebenarnya, ini keluarga ada masalah apa sih?

-Samira (Malam 3 Yasinan, 2026)-

Jika pada 2025 saya menutup tahun dengan menonton film horor Dusun Mayit (2025), maka tahun ini saya membukanya dengan film horor pula: Malam 3 Yasinan (2026). Ada rasa campur aduk dalam batin saya, karena film yang rilis pada 8 Januari 2026 ini apakah memiliki potensinya tersendiri, atau memang kondisi mood saya yang roller coaster akhir-akhir ini. Sebelumnya, saya juga sempat menulis review Suka Duka Tawa (2026), sementara di waktu yang hampir bersamaan hadir pula film Uang Passolo (2026) dan Musuh Dalam Selimut (2026): pilihan alternatif menarik bagi penonton yang tidak ingin terpaku hanya pada film horor.

Lalu, pertanyaannya: apa yang sebenarnya ditawarkan dari kompleksitas keluarga besar Djoyodiredjo dalam Malam 3 Yasinan ini? Terlebih dengan hadirnya deretan pemeran populer dan papan atas seperti Baim Wong, Wulan Guritno, Farhan Rasyid, dan sejumlah nama besar lainnya? Mari kita ulas!

Samira (Shalom Razade) dikejutkan oleh kabar kematian mendadak saudara kembarnya, Sara (Shalom Razade). Hal ini tentu mengguncang keluarga besar Djoyodiredjo, dinasti pengusaha gula kaya era 1980-an yang dipimpin Opa Hendra Djoyodiredjo (Piet Pagau). Selama ini, Samira memilih hidup jauh dari rumah karena lelah dengan tuntutan kesempurnaan dan perselisihan warisan yang melibatkan para istri Ari (Baim Wong): satu-satunya anak laki-laki Opa Hendra sekaligus ayah dari Sara, Samira, dan Sena (Farhan Rasyid).

Di rumah besar yang megah namun penuh ketegangan itu, Opa Hendra tinggal bersama putrinya Lily (Janna Soekasah) dan suaminya Baskara (Hamish Daud), seorang perwira polisi, serta Lana (Amanda Gratiana) dan Layla (Wulan Guritno): dua istri Ari yang terjebak dalam rivalitas keluarga. Kedatangan Samira ke tengah duka justru menyeretnya kembali pada masa lalu yang tak pernah selesai. Dan pada malam pertama yasinan, sebuah teror perlahan muncul: membuka lapis-lapis rahasia yang selama ini disembunyikan keluarga Opa Hendra dari dunia luar, sekaligus dari diri mereka sendiri.

Entah mengapa, cerita yang ditulis melalui kolaborasi Helfi Kardit, Fannyco Indrawan, dan Delbin Clyte sejatinya terasa menjanjikan, bahkan kompleks jika dilihat dari sinopsisnya. Namun sepanjang film, saya tidak terhibur dan justru menangkap arah penceritaan yang cenderung bertele-tele. Misalnya pada pengenalan keluarga besar Djoyodiredjo yang disajikan lengkap, tetapi tidak pernah benar-benar menjelaskan alasan mengapa Samira (Shalom Razade) harus meninggalkan rumah besar ningrat ini.

Anehnya lagi, banyak hal dibiarkan tidak terjelaskan, sementara narasi masih bergerak di permukaan. Karakter Ari Djoyodiredjo (Baim Wong) pun hadir begitu saja, tanpa bobot yang jelas. Sesuatu yang seharusnya tegas justru dimunculkan dengan sangat lemah. Belum lagi penggunaan bahasa gaul lo-gue di awal film, yang bagi saya, dengan latar tahun 1987-an, terasa kurang klik saja: walau bahasa prokem memang sudah ada pada masa itu.

Berharap pada visualnya? Jelas ini bukan horor mapan seperti yang kerap digarap Joko Anwar melalui Pengabdi Setan (2017) atau Siksa Kubur (2024). Walau tone color grading didominasi nuansa gloomy dengan biru kehijauan, kesannya tetap terasa terlalu standar. Di awal film, penonton disuguhkan visual handycam dengan rasio 4:3 bergaya vlog; ternyata masa itu sudah cukup pionir, ya? Dan urusan sound effect masih jadi hal mengganggu disini. Contohnya penggunaan ledakan di saat judul keluar, seolah penonton dibuat terkejut. Pun pada aspek scoring nya, yang mengandalkan “biola”, masih kurang rapi penempatannya.

Baca Juga  Brahms: The Boy II

Sepanjang film, tone warna memang konsisten, tetapi kontinuitas adegan masih terasa kurang rapi. Contohnya saat Lana (Amanda Gratiana), Layla (Wulan Guritno), dan Lily (Janna Soekasah Joesoef) beradu mulut di meja makan besar. Salah satu dari mereka menjatuhkan piring, tetapi lantai terlihat tidak berantakan. Lalu tiba-tiba Baskara (Hamish Daud) datang bersama putrinya dan menginjak area yang seharusnya penuh pecahan. Apa tidak ada yang memahami kondisi lantai sebelumnya? Entah bagaimana teknis logisnya.

Set dan properti yang ditampilkan hanya sebatas rumah besar, pabrik tebu, serta hamparan ladang tebu yang luas. Anehnya, tidak satu pun pekerja dimunculkan dari pabrik sebesar itu. Begitu pula seragam polisi yang dikenakan Baskara; apakah memang seperti itu bentuknya di era 1980-an? Secara keseluruhan, tidak banyak set lokasi yang benar-benar dimaksimalkan. Bahkan untuk ukuran keluarga ningrat yang kaya raya, apakah hanya memiliki satu pembantu, yang ironisnya justru kabur menjelang malam ketiga yasinan?

Secara peran, Wulan Guritno menjadi satu-satunya tokoh yang benar-benar menggendong film ini. Selebihnya masih terasa sekadar hadir sebagai pelengkap. Peran Shalom Razade sebagai Samira dan Sara pun sebetulnya masih bisa dimaksimalkan. Ketiadaan figuran pendukung membuat ledakan emosi terasa sangat datar. Aksi dan reaksi para pemain pun masih kurang kuat untuk benar-benar menghidupkan film ini. Untuk urusan plot twist? rasanya sudah bisa ditebak sejak hari pertama yasinan. Dan soal ending, entah mengapa justru terasa menggurui; seharusnya cukup berhenti pada adegan kematian sang antagonis, tanpa perlu berkhutbah.

Malam 3 Yasinan (2026) masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi sang sineas. Walau visualnya berusaha dibuat intens dan memancing ketidaknyamanan psikologis penonton, naskahnya tetap berputar di wilayah yang aman. Bagi Anda yang ingin membuka tahun dengan tontonan horor, film ini mungkin masih bisa disebut sebagai horor ringan.

Platform Tayang: Solo Square XXI, Surakarta

Judul: Malam 3 Yasinan | Tahun Produksi: 2025 | Tahun Rilis: 2026 | Durasi: 1 Jam 42 Menit | Sutradara: Yannie Sukarya | Penulis: Helfi Kardit, Fannyco Indrawan, dan Delbin Clyte | Produser: Helfi Kardit, Wulan Guritno, Janna Soekasah, dan Amanda Gratiana | Rumah Produksi: Helroad Films dan Alkimia Pictures | Negara: Indonesia | Pemeran: Shalom Razade, Piet Pagau, Wulan Guritno, Amanda Gratiana, Farhan Rasyid, Hamish Daud, Janna Soekasah Joesoef, Baim Wong, Yasmine Aqeela, Izabel Jahja, dan Tien Kadaryono.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaGreenland 2: Migration | REVIEW
Artikel BerikutnyaWe Bury the Dead
Purwoko Ajie, also known as Puralexdanu Patjingsung, was born in Ciamis, West Java, on 13 October 1995. He pursued his undergraduate studies in the Television and Film Study Programme at the Indonesian Institute of the Arts (ISI) Surakarta from 2015 to 2019; and from 2022 to 2024 continued his postgraduate studies in the Cultural Studies Programme at Sebelas Maret University (UNS), Surakarta. During his studies, he actively engaged in writing books, film scripts (fiction/ documentary), and scholarly articles, while deepening his research interest in cultural studies with a focus on cinema and media. His written works include the independently published novels "Cinta Piramida" (2015) and "From Something To Nothing" (2018), as well as his contribution as a co-author to the book "30 Film Indonesia Terlaris 2002-2018" (2019) published by Montase Press. Several of his articles have been published in national and international journals; all academic portfolios and publications can be accessed through Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?user=I6nkRJIAAAAJ. In the field of film criticism, he received national recognition through achievements at the Indonesian Film Festival (FFI), being selected as one of the Top 15 Best Film Criticism at FFI 2024 with his essay "Vina: Sebelum 7 Hari | Fenomena Spiritual, Viralitas, dan Pengungkapan Fakta Sosial," and later becoming a nominee for Best Film Criticism at FFI 2025 through his article "Tendangan, Pengkhianatan, dan Mimpi di Tengah Mafia: Alegori ‘Elang’ (2025) dalam Psiko-Politik Sepak Bola Nusantara." In addition to his writing activities, he also works in the field of directing short fiction and documentary films. His passion for cinema began in junior high school when he produced his first film "Salah Pelet" (2009). In 2016, he directed the short film "The Dakoen Doerang (Past & Now)", which was later screened at the International Children Film Festival 2018 in India as part of the World Cinema programme. He also produced the documentary "Teguh Between the Collapse of Gemstone" (2018), which received recognition at various international festivals. To this day, he continues to develop his cinematic works, both in screenwriting and short-film production, while deepening his cultural studies research related to film, media, and society. Besides his involvement in cinema, he also has experience in the field of information technology (IT), having worked as an IT staff member at several private companies and reputable websites. He is currently active in managing and writing for montasefilm.com and montase.org, as well as developing the mOntasefilm Android-based application: Indonesia’s first film-community application, currently undergoing technical refinement.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses