Brahms: The Boy II (2020)
86 min|Drama, Horror, Mystery|21 Feb 2020
4.7Rating: 4.7 / 10 from 20,487 usersMetascore: 29
After a family moves into the Heelshire Mansion, their young son soon makes friends with a life-like doll called Brahms.

Brahms: The Boy II merupakan sekuel dari The Boy yang kini masih digarap oleh William Brent Bell. Film orisinalnya yang sukses, jelas menjadi motif utama produksi sekuelnya. Padahal cerita The Boy sudah berakhir tuntas, lantas kisahnya mau berlanjut seperti apa lagi? Industri film, pada era kini, sudah tidak ada yang tak mungkin. Sang bintang, Katie Holmes yang lama tak muncul, kini tampil sebagai tokoh utama, bermain dalam genre yang jarang sekali ia perankan. Wajah pemain lainnya yang familiar adalah Ralph Ineson walau ia hanya tampil sebagai pendukung.      

Setelah musibah perampokan yang dialami di apartemen mereka di London, Liza, beserta putranya Sean, mengalami trauma berat. Liza sering berhalusinasi dalam tidurnya sementara Sean, sudah tak lagi mau berbicara. Bersama sang suami, mereka akhirnya memutuskan untuk pindah ke wilayah pedesaan yang tenang. Rumah baru mereka ternyata tak jauh dari rumah tua keluarga Heelshire (dikisahkan pada film pertama). Ketika mereka berjalan-jalan di sekitar rumah, Sean menemukan sebuah boneka laki-laki. Sejak boneka Brahms, tinggal bersama mereka, Sean lambat laun berubah dan keanehan pun mulai terjadi. Bertarung dengan kewarasannya, Liza akhirnya menyadari bahwa sang boneka bukanlah boneka mainan biasa.

Tak jelas, kini sekuelnya berada dalam masa waktu kapan setelah peristiwa film pertama. Tampak ada kontinuiti yang lepas dari kisah filmnya. Di penutup film pertama, Brahms masih hidup bukan? Atau tidak? Di mana dia sekarang? Kisah sederhana di film pertama mendadak menjadi rumit. Sisi supernatural masuk ke dalam plotnya yang menjadikan semuanya menjadi tak masuk akal. Sejak awal, plotnya sudah terlalu jamak untuk genrenya dan mudah sekali ditebak arahnya. Plotnya hanya ada 2 opsi, Brahms itu nyata atau sang ibu yang berhalusinasi? Saya menanti kejutan. Pada akhirnya, hanya nol besar.

Baca Juga  Batman v Superman: Dawn of Justice

Brahms: The Boy II adalah sekuel yang sama sekali tidak perlu dengan pendekatan cerita yang sudah terlalu familiar untuk genrenya. Tak ada satu aspek pun yang menarik dalam kisah maupun sisi estetiknya. Nothing. The Boy setidaknya punya usaha untuk membuat sesuatu yang segar, namun sekuelnya kini berusaha pun tidak. Bagi fans horor, lewati saja film yang satu ini, hanya membuang uang dan waktu.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaMilea: Suara dari Dilan
Artikel BerikutnyaRetrospeksi Film Pendek Montase: Reco
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.