Produksi film pendek Reco bisa jadi adalah produksi paling rumit dan ribet yang pernah kami alami. Hal ini berkenaan dengan kerjasama proyek film ini dengan pihak Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm), Kementerian Pendidikan dan kebudayaan pada tahun 2016 lalu. Film ini juga tercatat sebagai produksi film pendek mOntase dengan bujet tertinggi, yakni lebih dari 30 juta. Walau sebesar ini, birokrasi yang rumit membuatnya menjadi tidak berbeda, toh sebagian uang tersebut juga digunakan untuk membayar kru dan pemain, sesuatu yang sebelumnya jarang kami lakukan, kecuali pemain tentunya. Skala produksi yang luas hingga waktu produksi yang lama juga mengambil banyak porsi bujetnya.

Ide film Reco, awalnya kami gunakan untuk pengajuan film pendek untuk proyek Dinas Kebudayaan Yogyakarta yang diselenggarakan tiap tahunnya. Cerita, masalah, dan penyelesaian harus unik, hanya ada di wilayah Yogyakarta, begitu kata kurator sebelum pengajuan proposal dan pitching. Kami berpikir pihak Disbud mencari film yang bernuansa edukasi dan budaya setempat. Kami pun lalu mencari ide cerita untuk tujuan ini dan bukan konsep film yang sering kami buat untuk ke festival film yang lebih mengedepankan eksplorasi cerita dan estetik. Ternyata kami salah besar, kurator justru mencari film yang berkonsep festival. Tentu konsep kami salah sasaran. Tak lama, setelah Pusbangfilm membuka pendanaan film, tanpa ekspektasi, kami memasukkan proposal Reco dan ternyata malah diterima. Bagi kami, ini sangat mengejutkan.

Kisah Reco berdasar dari kejadian nyata yang sering terjadi di wilayah Jogja dan Jawa Tengah. Penemuan benda arkeologis di lahan pekarangan sering menjadi konflik di warga, dan tak jarang hingga menggusur tanah warga yang terkena area situs jika memang terbukti ada peninggalan besar di sana. Film Reco berintikan hal ini dan tujuannya agar warga tahu harus bagaimana jika mereka menemukan temuan benda kuno di pekarangan mereka. Untuk memudahkan diterima warga, kami mengemasnya dengan genre komedi. Untuk riset cerita pun, kami tidak main-main. Kami pun berkonsultasi dengan beberapa dosen Program Studi Arkeologi, Universitas Gajah Mada, hingga Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Tidak hanya berkonsultasi cerita (ide ini memang awalnya dari mereka), namun juga hal yang lebih rinci lagi, seperti artefak yang ditemukan warga, hingga SOP jika hal ini terjadi. Semua yang ada dalam plotnya merupakan tata cara yang sesungguhnya dilakukan jika terjadi temuan benda kuno.

Baca Juga  HEADSHOT: Action Yang Menggemaskan

Tak banyak masalah dalam produksinya karena kami sudah berulang kali bekerja sama dengan para pemain dalam film ini, yang berwilayah di Ngablak, Magelang. Jika pembaca sudah menonton film pendek kami yang berjudul Nyumbang (2015), boleh dibilang Reco adalah sekuelnya. Kami meminjam sosok Pak Bejo dan istrinya menjadi katalis cerita dalam film ini dan hasilnya pun ternyata sangat baik. Hingga kini, kami telah berproduksi dengan mereka, tercatat lebih dari 5x. Hanya kali ini, warga yang terlibat jauh lebih banyak dengan lokasi yang beragam. Tak ada masalah sama sekali dengan para pemain dan proses produksinya, kecuali birokrasi yang rumit dari pihak pemberi proyek, yang jujur saja sangat memengaruhi produksi filmnya.

Film Reco secara teknis memang jauh dari sempurna, namun film ini mampu menyampaikan pesannya dengan baik. Film ini pun telah kami serahkan pihak Prodi Arkeologi UGM dan BPCB yang kami ijinkan untuk digunakan dalam kegiatan perkuliahan dan sosialisasi ke masyarakat. Mereka butuh film semacam ini untuk memberikan pengetahuan bagi masyarakat awam yang khususnya yang berada di areal cagar budaya. Semoga distribusi film ini di channel Youtube kami, juga bisa memberikan pengetahuan bagi pihak atau warga yang membutuhkan.

Sebagai tambahan, kami juga memproduksi versi lain cerita Reco ini dengan pendekatan dan konsep festival melalui film berjudul Arca (2015). Inti plotnya pun sama, hanya saja kali ini kami mengemasnya dalam genre horor – politik dengan berlokasi hanya dalam satu rumah saja. Dengan bahasa visual dan penuturan kisahnya yang tak gamblang, film ini pun diapresiasi baik di beberapa festival film berskala internasional. Kami memproduksi Arca dengan bujet hanya kurang dari 1 juta, jauh sekali jika dibandingkan dengan Reco. Sebagai pembuat film, kita tentu harus bijak untuk bisa memilih dan mengemas cerita, serta untuk tujuan apa sebuah film dibuat. Bagi kami, medium film sejatinya adalah untuk bisa ditonton dan mencerahkan banyak orang ketimbang memuaskan segelintir orang saja.

1
2
Artikel SebelumnyaBrahms: The Boy II
Artikel BerikutnyaThe Call of the Wild
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.