PROLOGUE:

Situasi yang semakin memburuk akibat COVID-19 tentu membuat kita semakin was-was. Saat ini mungkin separuh penduduk di dunia tengah berdiam diri di rumah untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Semua orang tentu dalam situasi tak nyaman. Seolah, kita saat ini tengah berada dalam cerita film yang biasa kita tonton. Siapa mengira, kita bisa mengalami hal yang lebih buruk daripada di cerita film, padahal kisahnya cuma rekaan. Untuk itu, kami mencoba untuk melakukan kilas-balik, film-film yang berhubungan dengan situasi yang sama, sebuah pandemi atau wabah yang meluas entah itu dalam skala kecil atau global. Kami telah mengawalinya melalui ulasan film Contagion beberapa minggu lalu. Siapa tahu, kita bisa tahu lebih atau sedikit, bagaimana sebuah wabah bisa meluas dan bisa mengantisipasi agar tidak menjadi lebih buruk. Selamat membaca dan menonton.

Ulasan seri wabah lainnya: CONTAGIONTHE CASSANDRA CROSSING OUTBREAKTHE HAPPENINGONLY THE FLU

World War Z

World War Z (2013)
116 min|Action, Adventure, Horror|21 Jun 2013
7.0Rating: 7.0 / 10 from 715,710 usersMetascore: 63
Former United Nations employee Gerry Lane traverses the world in a race against time to stop a zombie pandemic that is toppling armies and governments and threatens to destroy humanity itself.

Film tentang Zombi sudah ratusan jumlahnya dengan ragam dan variasi genrenya. Subgenre ini memang menjadi salah satu favorit saya sejak lama. Film klasiknya, Night of the Living Dead (1968) memang sulit dicari tandingan, namun sejak era milennium baru, muncul beberapa film zombi yang menonjol. Sebut saja 28 Days Later dan sekuelnya, Dawn of the Dead, I am Legend, REC, Warm Bodies, Train to Busan, hingga komedi macam Zombieland, Shaun of the Dead, serta One Cut of the Dead. Bisa jadi, ada yang terlewat karena saking banyaknya. Semua di atas adalah film zombi berkelas dan memiliki keunikannya masing-masing. Untuk ulasan ini, saya memilih film zombi berkualitas tinggi yang ternyata belum pernah saya ulas sebelumnya, yakni World War Z (2013). Oleh karena film ini hampir ditonton banyak orang, tentu saya lebih leluasa mengulas tanpa perlu mengindahkan spoiler. Bagi yang belum menonton filmnya, ada baiknya menontonnya dulu.

World War Z digarap oleh sineas papan atas, Marc Foster. Foster seperti kita tahu telah menggarap film-film besar, macam Monster’s Ball, Finding Neverland, The Kite Runner, serta film James Bond, Quantum of Solace. Dengan bujet sekitar USD 200 juta dan bintang sekelas Brad Pitt menjadi jaminan film ini bakal menghibur para penikmat film. Ternyata, World War Z tidak hanya semata menghibur, namun sebuah pencapaian estetik yang segar untuk genrenya dengan skala kisahnya yang luas. Filmnya mengisahkan wabah zombi yang meluas secara global ke seluruh penjuru bumi, dan penonton melihat dari perspektif Gerry Lane, seorang investigator PBB yang pakar di medan perang berbahaya. Saya membagi ulasan per babak untuk memudahkan penjelasan.

ACT I

Film dibuka dengan satu title sequence berupa montage yang sangat menawan. Dengan iringan musik yang dinamis dan menghentak, disisipi gambar news footage dan gambar yang disusun sedemikian rupa untuk mendukung informasi bagi penonton. Montage ini berisi info wabah misterius yang mulai  menyebar, keramaian massa, serangga dan binatang buas, serta lainnya. Pesan tentang lingkungan dan global warming pun disinggung secara jelas di sini. Menjelang sebelum judul “World War Z” muncul, gambar manusia dan binatang/serangga yang dipotong bergantian secara cepat (ritmik editing) menandakan “things are going to get ugly”.

Tanpa ada latar cerita (boro-boro penokohan karakter), filmnya langsung berjalan begitu saja masuk ke segmen aksi menegangkan secara tiba-tiba. Nyaris tanpa henti dan jeda. Editing cepat disajikan sangat baik di sini. Untuk beberapa saat, kita bahkan tak tahu pasti, apa yang tengah dihadapi. Gerry beserta istri dan dua putrinya harus menyelamatkan diri dan bertahan hidup dari amukan para zombi yang brutal. Dengan visualisasi adegan yang mengesankan, Garry melihat seorang korban, hanya dengan hitungan 12 detik sebelum menjadi zombi. Penonton segera tahu, zombi ini sangat berbahaya, kuat, dan mampu bergerak sangat cepat (tidak seperti film zombi kebanyakan). Alhasil, dengan info baru ini, ketegangan semakin menjadi, adrenalin kita pun semakin terpompa dan tanpa disadari kita makin larut dalam cerita. Beberapa shot dari udara memperlihatkan bagaimana zombi menghabisi warga yang berlarian panik dan mengambil-alih kota hanya dalam hitungan menit. Sungguh gila, baru ini saya tahu, zombi mengejar mangsanya di atap gedung tinggi, sampai berani nekat meloncat ke arah helikopter yang berjalan hingga mereka pun berjatuhan ke bawah.

Baca Juga  Film tentang Wabah: The Cassandra Crossing

ACT II

Dalam segmen cerita berikutnya, Gerry mendapat tugas untuk menginvestigasi bagaimana pendemi ini bisa bermula bersama seorang professor dari Harvard. Gerry dan timnya menuju sebuah bandara di Korea Selatan yang diduga ada informasi penting di sana. Satu hal yang tak bakal kita duga terjadi. Sang profesor tewas karena terpeleset dan situasi ini membuat kita pun menjadi semakin was-was. Satu segmen horor menegangkan disajikan di sini di tengah rintik hujan dan gelapnya malam. Gerry pun susah payah terbang ke Israel untuk melacak seseorang di sana yang diduga mengetahui wabah ini, sebelum seluruh dunia tahu. Selain aksi yang menegangkan, proses investigasinya juga membuat kita semakin panasaran pada kisahnya. Setelah ini, apa yang terjadi ke depan adalah sebuah kejutan demi kejutan yang sama sekali tidak bisa kita duga, baik proses maupun hasil akhirnya.

Segmen di Israel bisa jadi adalah segmen aksi zombi paling kolosal, brutal, dan heboh di antara film sejenisnya. Satu kota dilindungi oleh tembok yang sangat tinggi sementara ratusan ribu, mungkin jutaan zombi, berada di luar. Ketika satu momen itu datang, zombi pun tak terbendung lagi. Benteng kokoh itu pun tembus hanya karena sekelompok massa yang bernyanyi terlalu keras (mirip banyak kasus bodoh di tempat saya, untuk apa lockdown jika social distancing tidak dilakukan). Gerry untuk kesekian kalinya harus berlari untuk menyelamatkan hidupnya. Kali ini, ia ditemani oleh seorang perempuan muda, Segen, polisi lokal yang harus ia amputasi tangannya, agar tidak menyebar ke seluruh tubuhnya. Gerry pun hingga akhir tak lepas dari sosok ini. Siapa sangka, sosok karakter penting ini, baru muncul di pertengahan film.

Dengan susah payah Gerry dan Segen akhirnya bisa menumpang satu penerbangan komersial untuk menuju Swiss. Satu segmen adegan aksi berikutnya, rasanya adalah salah satu adegan aksi paling menegangkan dan mengerikan yang pernah ada dalam film bertema zombi. Penonton yang mengira tak ada aksi di sini adalah salah besar. Kita tahu persis, apa yang bisa dilakukan zombi tersebut di daratan. Apa yang diharapkan, jika kamu terjebak dalam sebuah pesawat yang sebentar saja dipenuhi zombi. Ketika pertama kali menonton film ini, ketegangan adegan ini begitu maksimal dan sungguh tak bisa dipercaya, bagaimana mereka sekarang bisa lolos dari situasi ini? Kamu harus melihatnya sendiri untuk mempercayainya.

ACT III

Berbeda dengan sebelumnya, babak ketiga filmnya, menampilkan sesuatu yang sama sekali berbeda. Mereka berada dalam bangunan riset penelitian WHO yang lokasinya terpencil. Seperti layaknya seri Mission Impossible, mereka kini memiliki misi untuk mengambil sample virus di bangunan sebelah yang penuh dengan zombi. Adegan ini menyajikan bagaimana kombinasi penceritaan tak terbatas (penonton mengetahui informasi cerita lebih dari pelaku) dan terbatas (penonton mendapat informasi cerita hanya dari sudut pandang pelaku) bekerja dengan maksimal untuk memberikan efek ketegangan dan kejutan. Amat brilian dan efektif, sangat menegangkan, sekaligus melegakan di saat yang bersamaan. Secara estetik, ini adalah segmen aksi yang paling berkualitas.

Cepat, intense, penuh kejutan, dan menegangkan, World War Z adalah salah satu film zombi terbaik di era modern. Film ini adalah satu contoh brilian bagaimana menggunakan sosok zombi dan sisi sinematik serta ruang lingkup cerita untuk mengemas ketegangannya. Menonton film ini, serasa menonton situasi yang kurang lebih sama saat ini. Kita pun terbiasa dengan istilah-istilah teknis yang muncul di film ini, macam lock down, antivirus, H1N1, SARS, pathogen, pasien nol, dan sebagainya. Saya sangat berkesan dengan satu dialog di filmnya yang juga sebagai solusi penyelesaian akhir dari masalah ini. Dialog ini juga menggambarkan virus mematikan yang tengah kita hadapi sekarang. Ah andaikan solusinya juga sesederhana seperti di film ini.

Mother nature is serial killer. No one’s better. More creative. Sometimes the thing you thought was the most brutal of the virus, turns out to be the chink of its armor.”

Stay safe and healthy!

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaNew Trailers: Update
Artikel BerikutnyaRetrospeksi Film Pendek Montase: The Photographer
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.