Batman: Hush (2019)
81 min|Animation, Action, Adventure, Crime, Drama, Mystery, Romance, Sci-Fi, Thriller|20 Jul 2019
6.9Rating: 6.9 / 10 from 14,950 usersMetascore: N/A
When threads from Batman's past begin to unravel, the race is on for him to crack Hush's deadly game. Strange alliances will form and shattering secrets will be revealed when Hush's silence is finally broken.

Batman: Hush adalah film animasi panjang produksi Warner Bros. Animation dan tercatat merupakan film ke-13 dalam DC Animated Movie Universe (DCAMU). Film animasi ini dirilis (home video) pada ajang San Diego Comic-Con Internasional yang baru saja berlangsung beberapa waktu lalu. Film ini diarahkan Justin Copeland dengan pengisi suara regulernya, yakni Jason O’Mara, Jerry O’Connel, Jennifer Morrison, Rebecca Rominj, hingga Venessa Williams. Memang mengherankan, film-film DCAMU memiliki kualitas cerita begitu tinggi yang kontras dengan versi live-actionnya (DC Extended Universe/DCEU). Batman: Hush sendiri tercatat adalah salah satu film seri animasi home video terbaik yang pernah ada.  

Batman kini harus berhadapan dengan sosok misterius bernama Hush yang selalu berada satu langkah di depan. Sang antagonis nyaris tak pernah terlihat, namun dengan otak briliannya, ia menjadi sebab dari semua mimpi buruk yang menimpa Batman maupun Bruce Wayne. Ibarat boneka, Hush dengan jarinya mampu memainkan seluruh musuh bebuyutan Batman (Bane, Poison Ivy, Joker, Harley Queen, Scarecrow, Clayface, dan belasan lainnya) hanya untuk kepentingannya, bahkan Superman sekalipun. Untuk kesekian kalinya, Batman kembali mendapatkan ujian maha berat untuk mempertahankan kode etiknya melebihi semua hal yang pernah dilakukan Joker.

Sejak The Dark Knight (live ation) garapan Christopher Nolan, belum pernah Batman mendapatkan ujian mental begitu hebat. Disusul, Batman: Under the Red Hood (animasi home video) yang kembali memberikan tes senada, namun lebih dahsyat lagi. Intinya, Batman dipaksa memilih melepas kodenya untuk membunuh nyawa seseorang, sekalipun itu adalah sang musuh. Dalam Hush, Batman dan Bruce Wayne keduanya mendapatkan tes yang sama, hanya uniknya menggunakan sisi asmara dalam plotnya melalui sosok Selina Kyle (Cat Woman). Dalam satu momen dramatik, saya benar-benar berpikir Batman bakal melepas aturannya untuk sekali ini saja.

Baca Juga  Film tentang Wabah: Outbreak

Awal plotnya terlihat begitu rumit karena sang jagoan harus menghadapi banyak kasus dan banyak tokoh jahat yang seolah tak berhubungan. Sisi misteri dan rasa penasaran, berjalannya waktu semakin menguat, begitu pula kisah asmara Bruce dan Selina. Dibandingkan seri animasi Batman sebelumnya, belum pernah saya begitu larut dalam kisahnya dan sosok antagonis utama benar-benar memberikan ancaman nyata yang sungguh-sungguh bisa kita rasakan. Sebelumnya, Batman sering kali mengandalkan rekan-rekannya (Robin, Night Wing, Batgirl, dan Inspektur Gordon), namun kini ia hanya banyak dibantu Alfred dan Catwoman. Adegan klimaksnya pun sungguh menegangkan layaknya menonton film live-action. Hanya sayangnya, ini bukan film live-action sungguhan.

Walau bukan ide serta premis yang baru, Batman: Hush kembali mengeksplorasi kode etik sang ksatria malam dengan pendekatan roman serta dengan brilian mampu memadukan subplot puluhan sosok antagonis dalam satu kisah yang penuh teka-teki dan kejutan. Sungguh mengherankan. Mengapa Ide cerita demikian brilian (bahkan melebihi Marvel Cinematic Universe/MCU) tidak terpikirkan untuk dibuat versi live action-nya. Warner Bros. Studios jelas mampu memproduksinya. Sekali lagi, superioritas seri animasi DC tidak terbantahkan. (Baca artikel: Superioritas Superhero DC Animasi). Di saat DCEU kehilangan arah dan tak tahu harus bagaimana mendobrak MCU yang kini jauh di atas angin, mereka sendiri sebenarnya telah memiliki jawabannya.

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaKoboy Kampus
Artikel BerikutnyaFast & Furious Presents: Hobbs & Shaw
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses