Black Crab adalah film thriller perang produksi Swedia arahan Adam Berg. Kisahnya sendiri diadaptasi dari novel berjudul sama karya Jerker Virdborg. Film ini dibintangi aktris top, Noomi Rapace, bersama Jakob Oftebro, Dar Salim, dan David Dencik. Film berdurasi 114 menit ini baru saja dirilis oleh Netflix beberapa hari lalu. Film perang dengan dominasi setting salju lengkap dengan lautan yang membeku rasanya baru ini diproduksi. Apa kisahnya mampu bersaing dengan setting unik ini?

Bumi dilanda perang hebat, tidak terkecuali di Eropa timur, dan satu wilayah di sana tinggal menanti waktu untuk dikuasai pihak musuh. Prajuri tangguh, Caroline Edh (Rapace) bersama tim mendapat misi untuk mengantarkan sebuah paket rahasia yang diyakini dapat mengubah hasil perang. Paket tersebut harus diantar ke sebuah pulau yang ratusan mil jauhnya. Problemnya, mereka harus menyeberangi lautan yang membeku dan hanya boleh bergerak pada malam hari agar tidak terdeteksi musuh.

Satu kekuatan terbesar film ini adalah setting salju yang amat mengagumkan yang menjadikannya salah satu yang terunik di genrenya. Menggunakan kombinasi shot on location dan studio, setnya sungguh terlihat meyakinkan dengan nuansa kelam yang jarang kita saksikan dalam medium film. Beberapa pengadeganan mampu menyajikan gambar-gambar yang sangat menakutkan sekaligus indah untuk mendukung kisah “horor” perangnya. Dalam satu adegan, lautan membeku dengan ratusan mayat di bawahnya, bisa jadi adalah salah satu set film terbaik yang pernah saya tonton dalam beberapa dekade terakhir.

Black Crab menyajikan tontonan perang unik dengan setting istimewa, sekalipun eksekusi naskahnya kedodoran di segmen klimaks. Premisnya sebenarnya menjanjikan. Hingga separuh durasi, alur plotnya masih berjalan intens dengan beberapa sekuen menegangkan. Tidak hingga babak ketiga, filmnya seolah kehilangan arah dan pesannya. Ada banyak kejanggalan plot di sana yang justru melemahkan kisahnya. Lantas apa poin kisahnya? Baik dari sisi trauma Edh serta pesan perangnya tak mampu terangkum dengan tegas. Jika hanya untuk bicara soal bertahan hidup atau betapa gilanya perang, sudah banyak film yang menuturkan jauh lebih baik. Amat disayangkan, film ini hanya menyia-nyiakan set-nya yang luar biasa.

Baca Juga  The Doorman

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaMarley
Artikel BerikutnyaJujutsu Kaisen 0
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.