the call of the wild
The Call of the Wild (2020)
100 min|Adventure, Drama, Family|21 Feb 2020
6.7Rating: 6.7 / 10 from 63,338 usersMetascore: 48
A sled dog struggles for survival in the wilds of the Yukon.

The Call of the Wild adalah film petualangan yang diadaptasi dari novel klasik berjudul sama karya Jack London (1903). Adaptasi film ini juga bukan yang pertama setelah dulu pernah diproduksi pada tahun 1935. Sineas debutan Michael Green, kini menggarap filmnya setelah pernah menulis beberapa naskah film populer, seperti Logan, Alien: Covenant, Blade Runner 2049, hingga Murder on the Orient Express. Film berbujet lebih dari USD 125 juta ini dibintangi oleh aktor gaek, Harrison Ford. Di usianya yang ke 77 tahun, Ford rupanya masih mampu beraksi dalam film petualangan penuh aksi ini.

Film ini berlatar cerita demam emas di wilayah Yukon, Kanada pada dekade 1890-an. Alkisah Buck adalah seekor anjing besar milik Hakim di Santa Clara yang diculik dan dibawa ke wilayah Yukon yang banyak membutuhkan anjing untuk menarik kereta salju. Buck pun dibeli oleh Perrault, seorang pengantar pos yang harus mengirimkan surat hingga ratusan mil ke wilayah kota-kota kecil di Yukon. Petualangan Buck pun di mulai hingga ia bertemu dengan Jack Thornton, seorang laki-laki tua yang mencari kedamaian setelah kehilangan putranya.

Sejak menit awal film bermula, satu hal yang sangat mengganggu adalah pencapaian CGI-nya. Sang anjing tampak sekali terlalu artifisial (visual) dengan gerak dan gestur yang tak wajar untuk seekor anjing. Jujur, saya kesulitan untuk bisa masuk ke dalam filmnya. Dengan latar dan cerita plot yang demikian ekstrem, tentu bisa dipahami mengapa harus menggunakan “anjing” CGI. Kualitasnya tak buruk memang tapi ada sesuatu (“ruh”) yang hilang dalam tiap pengadeganannya. Padahal film-film bertema anjing berplot sulit, macam A Dog’s Journey, Homeward Bound, hingga Benji pun tak ada masalah dengan penggunaan anjing sungguhan. Ya, ini memang pilihan estetik mereka, mau apa lagi? Setelah saya menganggap ini adalah film “animasi”, sedikit lebih mudah untuk masuk ke dalam plotnya.

Baca Juga  Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung | REVIEW

Kisahnya yang menyentuh di sepertiga awal (Petualangan dengan Perrault) adalah segmen yang terbaik dalam filmnya. Saya berharap Buck lebih lama dengan mereka. Harapan untuk kisah yang lebih atraktif di paruh sisanya bersama Jack justru malah terasa antiklimaks. Plotnya terlalu datar dan rasa kantuk pun mulai hadir. Sisi dramatik yang diharapkan di akhir pun tak terasa menggigit sama sekali. Kosong. Kisah Buck pun tak terasa membekas selepas menonton.

Problem utama The Call of the Wild adalah efek visual artifisial yang menjauhkan penonton dari kisahnya yang ini pun hanya menarik di sepertiga awal. Dengan pencapaian artistik yang begitu mengagumkan sepanjang film, sayangnya tidak sepadan dengan pencapan visualnya. Dengan bujet yang begitu besar, rasanya film ini bakal kesulitan untuk menebus modalnya. Setidaknya, film ini mampu menyuguhkan aksi-aksi petualangan yang jarang diproduksi dalam satu dekade ini, plus penampilan Ford yang seolah ingin menunjukkan bahwa ia masih mampu bermain dalam Indiana Jones yang kabarnya mulai proses syuting tahun ini.    

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaRetrospeksi Film Pendek Montase: Reco
Artikel BerikutnyaToko Barang Mantan
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses