malam jumat kliwon

Kali kedua horor lokal membawa kembali nama besar Ratu Horor Indonesia ke layar lebar melalui Suzzanna: Malam Jumat Kliwon. Lain film lain cerita. Pun kali ini diarahkan oleh Guntur Soeharjanto. Namun, dua penulisnya masih sama, yaitu Ferry Lesmana dan Sunil Soraya. Walau dengan penulis ketiga yang berbeda, yakni Tumpal Tampubolon. Sajian drama percintaan dengan imbuhan horor produksi Soraya Intercine Film PT ini diperankan antara lain oleh Luna Maya, Achmad Megantara, Tio Pakusadewo, Sally Marcellina, Taskya Namya, Adi Bing Slamet, dan Opie Kumis.

Sunil sebelumnya lebih kerap berperan sebagai produser. Dalam film ini ia juga menempati kursi produser. Sementara itu, Tampubolon pun belum punya rekam jejak yang bagus sebagai penulis. Dengan pengalaman Ferry yang pernah terlibat dalam penulisan skenario Danur: I Can See Ghosts (2017), bagaimana jadinya Malam Jumat Kliwon?

Sepasang kekasih yang sangat saling mencintai pula sama-sama setia, Surya (Megantara) dan Suzzanna (Luna) sebetulnya telah berangan-angan untuk lekas menikah. Namun, bapak Suzzanna malah terlilit utang puluhan juta hingga tak punya sawah dan rumah. Walhasil, sang pemberi pinjaman sekaligus bangsawan di desa, Raden Aryo (Tio) meminta Suzzanna untuk menjadi istri keduanya. Selain karena ia juga butuh penerus yang tidak bisa diberikan oleh Minati (Sally), istrinya. Seiring kehamilan Suzzanna kian mendekati akhir, kecemburuan Minati pun membesar. Ia lantas meminta dukun langganannya mengirim santet yang lebih mencelakakan kepada Suzzanna.

Amat jauh berbeda dari versi zaman dulu, Suzzanna: Malam Jumat Kliwon hanyalah saduran judul belaka. Keseluruhan cerita bahkan nama tokoh utamanya pun berbeda. Pemakaian nama Suzzanna juga sebatas agar film ini punya nilai jual dan daya pikat lebih untuk menarik penonton. Jadi tak perlulah berharap menemukan adanya kesamaan dalam Malam Jumat Kliwon dengan salah satu atau beberapa film Suzzana dari masa lampau. Tidak juga memiliki sambungan atau lanjutan cerita dengan film sebelumnya, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018).

Suzzanna: Malam Jumat Kliwon juga lagi-lagi soal balas dendam. Meski tak tersebutkan secara eksplisit lewat ucapan siapa pun. Berikut dengan ilmu hitam, kekuasaan, utang piutang, wewenang absolut untuk menikahi anak sang pengutang sebagai syarat pelunasan, serta bersekutu dengan iblis demi kekasih tercinta. Semuanya sudah lumrah, dan sajian horor di Indonesia selama ini juga masih berkutat di area ini.

Kendati demikian, para penulis tampak berupaya menghindari jebakan-jebakan dialog dan penalaran dengan membuat alur cerita selogis mungkin. Namun, masih teledor dalam beberapa bagian. Suzzanna dikisahkan kebingungan atas kondisi “baru”-nya akibat ulah Surya. Ia lantas masuk kampung untuk mencari jawaban, tetapi diselingi dengan adegan pesan bakso? Apa motivasinya? Tidak ada urgensi dan alasan kuat untuk memasukkan adegan tersebut, walau sebagai bentuk nostalgia “pesan sate” atau “pesan soto” yang dulu ikonik sekaligus memancing tawa. Berhasilkah? Biasa saja.

Baca Juga  The Mother

Perkara komedi tipis-tipis dalam Malam Jumat Kliwon juga beberapa kali dipaksakan lewat adegan-adegan slapstick yang diolah secara konyol dan serampangan. Asal ada dan terjadi, semoga memicu tawa. Sayangnya tidak. Salah satunya peristiwa hansip/linmas menabrak pedagang bakso. Itu kelewat kebetulan hanya demi memasukkan bumbu komedi. Memang sudah terbaca pula bahwa bakal ada selipan-selipan komedi lewat kehadiran Opie Kumis dan Adi Bing Slamet sebagai duo hansip desa.

Melihat pula rekam jejak para penulis (yang juga terbilang sering memproduseri) memberi pengaruh ke pembuatan skenario Malam Jumat Kliwon. Bagaimanapun harus menyenangkan untuk dinikmati bahkan selain penonton horor. Jadilah konten Malam Jumat Kliwon didominasi oleh kisah cinta dan kemesraaan, hingga hampir mau mati bersama. Film horor ilmu hitam mana yang tidak mendatangkan konsekuensi terhadap sang penganut. Namun, konsekuensi akibat pemakaian ilmu hitam dalam Malam Jumat Kliwon malah datang dari pihak ketiga yang menjadi korban. Bukan datang sebagai syarat dari sang dukun. Dukunnya pun rupanya malah cabul.

Begitu pula horor dan persekutuan dengan iblis, sudah pasti meminta harga yang besar. Namun, sang iblis dalam Malam Jumat Kliwon terkesan tak punya harga diri. Ingat betapa tidak berharganya iblis dalam Para Betina Pengikut Iblis? Demikianlah iblis dalam Malam Jumat Kliwon. Perjanjiannya masih bisa dinego ulang! Malahan, iblis tersebut selayaknya manusia biasa yang penasaran dengan alasan-alasan di balik tindakan si manusia yang bersekutu dengannya.

Malam Jumat Kliwon juga bukanlah sajian horor. Film ini memang menyenangkan untuk ditonton, tetapi sebagai hiburan santai lewat drama percintaan Surya dan Suzzanna yang berujung tragis. Orang-orang yang berada di balik pembuatannya sejak awal memang tidak menghendaki memberi kesan angker, mistis, dan seram kepada penonton. Justru kesetiaan cinta sejati antara Surya dan Suzzanna lah jualan filmnya. Meski maut memisahkan, walau sang kekasih telah bukan lagi manusia. Sisi menarik Malam Jumat Kliwon lainnya ada pada satu adegan khas dalam sebuah film horor dengan setan utama sundel bolong. Kelahiran bayi lewat punggung yang terang-terangan tersaji dalam satu scene kronologi panjang dengan kondisi hujan badai berpetir.

Suzzanna: Malam Jumat Kliwon tak membuat ulang apa pun, kecuali hanya nostalgia judul, sosok sundel bolong, nama Suzzanna, beserta sebuah adegan ikonik terkait penjual makanan. Nama tokoh utamanya pun dulu bukanlah Suzzanna. Para penulis film ini terang-terangan bermain aman dengan mengemasnya sebagai drama percintaan berkedok horor, alih-alih memang betulan horor. Ditambah lagi, salah satu penulisnya juga duduk sebagai produser. Lalu sutradara bisa apa terhadap skenarionya? Seluruh klimaks cerita di rumah Raden Aryo pun dimulai dengan adegan-adegan mubadzir. Pada akhirnya yang tampil maksimal adalah penyajian kronologi punggung Suzzanna sampai berlubang secara visual.

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaHijack
Artikel BerikutnyaRiver Wild
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.