Monsters vs. Aliens (2009)

94 min|Animation, Action, Adventure|27 Mar 2009
6.4Rating: 6.4 / 10 from 186,429 usersMetascore: 56
A woman transformed into a giant after she is struck by a meteorite on her wedding day becomes part of a team of monsters sent in by the U.S. government to defeat an alien mastermind trying to take over Earth.

Monsters vs. Aliens merupakan film animasi 3-D produksi DreamWorks Animation dan Paramount. Film garapan Conrad Vernon dan Rob Letterman ini konon merupakan film animasi panjang pertama yang menggunakan format streoscopic 3-D dengan total bujet produksi mencapai $175 juta. Sederet bintang-bintang kondang pun turut menjadi pengisi suara dalam film komedi fiksi-ilmiah ini, yakni Reese Witherspoon, Seth Rogen, Hugh Laurie, Paul Rudd, Kiefer Sutherland, Will Arnett, hingga Renee Zellweger.

Alkisah Susan Murphy (Witherspoon) adalah seorang wanita muda lugu yang akan menikahi Derek (Ruud), seorang pembawa berita cuaca lokal yang karirnya tengah menanjak. Di hari pernikahan mereka, Susan tertimpa batu meteor yang menyebabkan tubuh sang gadis mendadak membesar hingga belasan meter tingginya. Susan lalu diamankan pihak militer pimpinan Jendral Monger (Sutherland) dan dibawa ke sebuah fasilitas rahasia dimana monster-monster lain juga disekap disana. Sementara di galaksi lain, Gallaxhar, adalah makhluk asing ambisius yang ingin menguasai jagad raya melalui kekuatan dari zat Quantonium (zat yang masuk ke tubuh Susan). Gallaxhar mengirim sebuah robot raksasa ke bumi untuk mengambil zat tersebut. Presiden AS atas usulan Monger tak punya pilihan lain selain mengirim para monster untuk melawan sang robot. Susan alias Ginormica, B.O.B (Rogen), Dr. Cockroach (Laurie), The Missing Link (Arnett), dan Insectosaurus harus menghadapi Gallaxhar dan anak buahnya untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran.

Film-film monster produksi Hollywood dengan karakter yang sangat beragam sudah tak terhitung lagi banyaknya sejak era klasik. Namun pernahkan Anda membayangkan jika monster-monster tersebut muncul dalam satu film? Monsters vs. Aliens adalah jawabnya. Film ini merupakan tribute terhadap film-film fiksi ilmiah (monster) populer terutama di era 50-an, sebut saja macam Attack of the 50 Foot Woman, Creature from the Black Lagoon, The Blob, Gojira (Jepang), The Fly, hingga The Day the Earth Stood Still. Karakter Susan/Ginormica mengacu pada karakter wanita raksasa dalam 50 foot Woman, lalu Link terinspirasi karakter monster air Black Lagoon, BOB terinspirasi The Blob, Insectosaurus terinspirasi Gojira, lalu Dr. Cockroach terinspirasi The Fly, serta lainnya. Dalam film-film tersebut para monster digambarkan sebagai sosok menakutkan pembawa teror namun kini muncul sebagai sosok pahlawan. Walaupun plot Monsters vs. Aliens tidak sepenuhnya orisinil namun film ini mampu memadukan karakter-karakter monster dan alien yang konyol dan unik ini serta mengemas dengan lebih segar menjadi sebuah tontonan yang sangat menghibur.

Baca Juga  Settlers

Boleh jadi unsur 3-D dengan gambar yang sangat memukau menjadi nilai lebih filmnya, atau mungkin beberapa sekuen aksi yang seru, namun satu hal yang paling menonjol dalam film ini adalah unsur banyolannya yang benar-benar lucu. Nyaris sepanjang filmnya, banyolan baik dialog maupun slapstick (aksi) tak henti-hentinya diperlihatkan melalui polah para monster, Gallaxhar, Jendral Monger, bahkan hingga Presiden Amerika. Lucunya, satu-satunya karakter utama yang sama sekali tidak melontarkan banyolan rasanya hanyalah Susan. Banyolan-banyolan intelek pun sering mengadopsi film-film populer lainnya, sebut saja E.T., Close Encounters of the Third Kind, Beverly Hills Cop, Dr. Stranglove, Star Trek, dan banyak lainnya. Satu contohnya, ketika sang presiden melantunkan lima nada yang terkenal di Close Encounter namun ia sempat salah pada nada kelima. Lalu sebuah misil yang meluncur bertuliskan “E.T. Come Home”. Dijamin bagi Anda pecinta film sejati pasti akan tertawa hingga menangis!

Monsters vs. Aliens merupakan film hiburan yang rasanya dapat dinikmati oleh penonton segala usia. Jika Anda menontonnya di bioskop non 3-D rasanya tidak banyak pengaruh karena nilai lebih film ini, jujur saja, terletak pada unsur banyolannya yang berkelas. Entahlan, jika menonton di bioskop 3-D, apa justru tidak mengganggu dalam mencerna dialog (teralihkan), karena kita pasti akan terkesima secara visual. Monsters vs. Aliens bisa dibilang adalah film animasi produksi Dreamworks yang paling kocak dan konyol yang pernah diproduksi. Sebagai kesimpulan, nilai cerita: 6, gambar: 8, sekuen aksi: 7.5, banyolan: 9.5!!! Let’s have some laughs

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaKnowing
Artikel BerikutnyaX-Men Origins: Wolverine
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses