X-Men Origins: Wolverine (2009)

107 min|Action, Sci-Fi|01 May 2009
6.5Rating: 6.5 / 10 from 560,978 usersMetascore: 40
The early years of James Logan, featuring his rivalry with his brother Victor Creed, his service in the special forces team Weapon X, and his experimentation into the metal-lined mutant Wolverine.

Mengawali musim panas 2009, akhirnya rilis juga X-Men Origins: Wolverine, yang telah dinanti banyak penggemarnya. Film arahan Gavin Hood ini merupakan prekuel dari tiga seri X-Men sebelumnya, dan masih dibintangi oleh aktor Hugh Jackman sebagai Wolverine. Sudah sejak sebulan lalu film ini telah ramai dibicarakan orang menyangkut isu bocoran filmnya yang telah tersebar luas di media internet. Apakah bocoran filmnya bakal mempengaruhi jumlah penontonnya? Sepertinya di negara kita, Ya.

Plot filmnya sendiri mengambil kisah belasan tahun sebelum kejadian pada film pertama (X-Men) berlangsung. Sepuluh menit pertama filmnya memperlihatkan sekilas kehidupan Logan (Jackman) bersama saudaranya, Victor (Lic Schreiber), sejak ia kecil hingga dewasa melalui satu sekuen montase yang menawan. Plot selanjutnya lebih fokus pada peristiwa yang melatarbelakangi kejadian dalam X-Men 2, yang terkait erat dengan tokoh Jendral William Stryker. Penonton yang tahu benar cerita dua film pertama rasanya tak sulit untuk mencerna film ini. Ending film pun mudah untuk diduga karena telah terpapar jelas di dua film pertamanya. Namun secara keseluruhan film ini mampu menjalankan tugasnya dengan baik, menjelaskan asal-usul Wolverine dan Sabretooth, mengapa mereka berseteru, serta apa dan siapa yang melatarbelakangai semua peristiwa yang terjadi dalam X-Men 2. Cuma itu tidak lebih.

Siapa pun yang menonton pasti mengharapkan banyak tontonan aksi, seperti di tiga film sebelumnya. Bisa jadi Anda kecewa karena kali ini porsi drama lebih besar ketimbang aksi dengan tempo yang relatif lambat. Bicara aksi, tercatat tiga sekuen aksi besar yang terdapat di awal, pertengahan, dan akhir film. Itu pun hampir tidak ada yang baru dan kalau boleh jujur kualitasnya masih jauh dibawah tiga film sebelumnya. Namun beberapa hal menarik patut dicatat karena terdapat banyak karakter yang tidak muncul dalam tiga seri sebelumnya. Untuk pertama kalinya kita diperkenalkan karakter penting X-Men lainnya yakni, Gambit dengan gaya bertarungnya yang khas menggunakan kartu (poker) dan tongkat. Sayangnya karakter ini hanya muncul sebentar. Aneh, mengapa karakter eksentrik ini tidak muncul dalam tiga seri sebelumnya.

Baca Juga  Joker: Folie à Deux

Unsur dramanya sendiri tidak banyak yang ditawarkan. Salah satunya hubungan Logan dan Kayla yang kelak menjelaskan ketertarikan Logan pada Jean Grey. Dalam banyak hal, alur cerita pun masih tak jelas dan berkesan dipaksakan untuk menghasilkan ending yang diharapkan (dua film X-Men pertama). Seperti motif Stryker mengumpulkan para mutan (di awal film) sebenarnya apa? Untuk melakukan tugas rahasia negara? Untuk melakukan eksperimen terhadap para mutan? Atau menciptakan mutan baru? Semua ini untuk apa? Mengapa menciptakan sesuatu (meng-upgrade mutan) yang mereka sendiri kelak beresiko tidak mampu mengontrolnya, seperti Logan misalnya. Di akhir cerita, Stryker menggunakan peluru Adamantium untuk menghapus memori Logan. Ah mudah sekali… Lagi pula mengapa memorinya harus dihapus, toh banyak orang lain mengetahui rahasia yang sama.

Sebagai penutup, nyaris tidak ada hal yang menonjol dan menarik dalam filmnya. Cerita film secara keseluruhan mudah diduga dan tidak memiliki unsur kejutan. Mungkin akan berbeda sensasinya bagi penonton yang belum pernah sama sekali menonton tiga seri X-Men sebelumnya. Film ini secara umum masih dibawah tiga film sebelumnya. Jika Anda menonton film ini untuk mendapatkan hiburan, rasanya juga tidak ada ruginya. Just don’t expect anything…

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaMonsters vs. Aliens
Artikel BerikutnyaWatchmen
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses