Negeri 5 Menara (2012)
114 min|Adventure, Drama, Family|01 Feb 2012
6.9Rating: 6.9 / 10 from 227 usersMetascore: N/A
Six best friends in the Islamic Boarding School often hang out near the mosque towers. All of them made a promise under the tower that one day, they will go to places that they have been dreaming about.

Ustad Salman memperlihatkan golok berkarat dan mencoba memotong kayu besar dengan sekuat tenaga. Akhirnya kayu pun bisa terbelah, dengan pesan Man Jadda Wa Jadda – barang siapa bersungguh-sungguh pasti mendapatkannya. Bukan yang paling tajam, tapi yang paling bersungguh-sungguh.

Film diangkat dari novel best seller karya Ahmad Fuadi ini merupakan salah satu film kita yang layak ditonton. Alif (Gazza Zubizzaretha), Baso (Billy Sandy), Raja Lubis (Jiofani Lubis), Atang (Rizki Ramdani), dan Said (Ernest Samudra) mereka adalah lima sahabat yang datang dari lima daerah yang berbeda. Mereka berlima menimba ilmu di sebuah pesantren di Ponorogo. Adat dan budaya yang berbeda membuat keseharian mereka penuh warna, canda, dan tawa. Mereka berlima juga selalu menghabiskan waktu luang di menara masjid yang indah. Mereka menamakan diri mereka, Sahibul (pemilik) Menara. Di menara inilah mereka berjanji untuk mengejar impian mereka keluar negeri.

Affandi Abdul Rachman sebagai sutradara mampu mengemas film ini menjadi menarik sekalipun kisahnya sederhana.

Enam pemain utama yang belum pernah berakting mampu membentuk chemistry yang baik sehingga mereka bisa tampak luwes dan akrab. Akting dan karakter mereka sudah pas dan layak. Pemain film yang sudah kawakan maupun yang masih terbilang baru seperti Ikang Fauzi, Lulu Tobing, David Chalik, Donny Alamsyah, Andhika Pratama dan Mario Irwinsyah cukup membantu meningkatkan mood film.

Baca Juga  Jangan Sendirian

Negeri 5 Menara mampu membuat penonton terhanyut dan memberikan semangat bagi penonton. Hal ini didukung oleh musik yang sangat baik. Ilustrasi musik yang digarap oleh Aghi Narotama sangat membantu meningkatkan mood penonton. Soundtrack digawangi oleh Yovie Widiyanto bersama Titi DJ, Andhika Pratama, Ikang Fauzi dan lain-lain.

Setting yang diambil sangat mendukung. Pada awal cerita diperlihatkan keindahan alam Sumatera Barat yang sangat mempesona. Lalu pemandangan sekitar pesantren di daerah Ponorogo yang masih asri dan terakhir di London.

Logat bicara yang terlihat sekali telah dipersiapkan dengan matang memberikan nilai plus. Lulu Tobing dan Gazza yang bukan merupakan orang Minang mampu meyakinkan penonton bahwa mereka sanggup mengimbangi akting David Chalik dengan luwes. Begitu pula dengan karakter pemain lain yang berasal dari berbagai daerah, memberikan warna yang khas sehingga mengurangi rasa bosan.

Film ini menawarkan impian, pesan dan pengetahuan baru. Seperti Laskar Pelangi, film ini menawarkan impian anak daerah untuk bisa sukses dan keluar negeri. Sekiranya penonton mampu menafsirkan bahwa pergi keluar negeri bukanlah berarti tidak mencintai negeri sendiri, namun dalam rangka ingin memperluas wawasan dan pengalaman sehingga berkelana hingga keliling dunia. Pesan moral yang ingin disampaikan sangatlah mulia, yaitu kesungguhan, berbakti, keagamaan dan kesetiaan. Hal lain yang perlu diperhatikan bahwa kehidupan Islami itu juga dapat seimbang dengan kehidupan duniawi. Menjalankan kehidupan di pesantren bukan berarti tidak memiliki kesempatan untuk maju layaknya kehidupan modern lainnya.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaMata Tertutup, Tak Mampu Membuka “Mata (Hati)”
Artikel BerikutnyaNang Nak
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.