onde mande

Usai jarang muncul sebagai sutradara merangkap penulis sejak 2021, akhirnya Paul Agusta hadir kembali melalui Onde Mande!. Drama dan kelucuan masyarakat Minang nan religius di Maninjau yang ia arahkan sekaligus tulis sendiri skenarionya lewat produksi Visinema Pictures, Visionari Capital, dan Gandheng Ceneng. Dimainkan oleh Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto, José Rizal Manua, Jajang C. Noer, Shenina Cinnamon, Emir Mahira, dan Yusril Katil. Setelah menghilang sejak 2021, bagaimana hasil arahan dan tulisan sang sineas kali ini?

Danau Maninjau adalah poros kehidupan bagi sebagian besar masyarakat di sekitarnya. Namun, hanya Angku Wan (Musra Dahrizal) yang memiliki mimpi besar untuk mengatasi masalah akibat bawaan alam dari danau tersebut. Ketika kesempatan datang lewat kemenangannya dalam sayembara dari pabrik sabun, ia malah meninggal duluan sebelum menerima hadiahnya. Sayangnya, Angku Wan hidup sendirian sejak ditinggal pergi istri dan putranya yang masih bayi. Warga lantas berupaya agar tetap mendapatkan hadiah tersebut demi desa, meski Ni Ta (Jajang), Da Am (Rizal), Si Mar (Shenina), dan beberapa orang lainnya harus sedikit memainkan informasi. Sementara itu, Haji Ilyas (Yusril) memiliki caranya sendiri.

Film ihwal masyarakat Minang tentu saja menggunakan bahasa Minang. Belum lama pula rasanya semenjak kehadiran Buya Hamka membiasakan (kembali) telinga penonton di bioskop dengan salah satu bahasa daerah ini. Jika Buya Hamka menghadirkan bahasa Minang versi lampau, maka Onde Mande! Menyuguhkan versi tempo kini. Tak pula terlalu Jakarta sentris walau tetap melibatkan Jakarta. Bukan pula layaknya Tenggelamnya Kapal van der Wijck dengan drama romantis yang kental, maupun Merantau dengan dominasi laganya. Onde Mande! adalah sajian komedi melalui beragam cara dan situasi.

Onde Mande! pun memberi ruang bagi Jajang C. Noer dan Shenina untuk menampilkan peran lain dari film-film sebelumnya. Meski agak aneh pula pada saat yang sama melihat Jajang membawakan karakternya dalam Onde Mande!. Manipulatif dan pembohong, tetapi lucu, peduli, serta selalu santai dan tenang dalam menyikapi segala sesuatu. Tanpa kesan yang telah ia bentuk selama ini, Jajang hampir mirip ibu-ibu warga Maninjau biasa. Sayangnya tidak cocok dengan pelafalan dialek Minang. Fasih berbahasa Minang, tetapi tidak dengan pengucapannya. Begitu pula Shenina yang selama ini lebih sering memerankan karakter anak remaja, kini cenderung pendiam sebagai guru SD setempat.

Baca Juga  The Boogeyman

Kendati dengan tawaran kultur lokal khas masyarakat Minang-nya, Onde Mande! cukup mudah tertebak dalam sejumlah kecil bagiannya. Terutama soal siapa ahli waris dari Angku Wan. Pun titik pertemuan akhir dari dua plot yang dipimpin Da Am dan Haji Ilyas. Beberapa eksekusi komedinya pun berhasil karena dibawakan dalam lingkungan Minang. Jika komedi yang sama muncul dalam film-film gaya Jakarta sentris, maka tawanya akan jauh lebih minim. Beberapa kali pula dialog gaya serial televisi muncul, sehingga terkesan menggampangkan. Kendati permainan dialog cepat di kantor kelurahan memberi warna keunikan sendiri, karena menggabungkan logika nama dan panggilan untuk penduduk setempat dan bahasa Minang.

Onde Mande! memang sedikit tertebak, tetapi tetap menyenangkan dengan sajian komedinya. Kerap pula pemandangan Danau Maninjau nan elok dan area di sekitarnya tersebar di sepanjang film. Tentu saja dengan tendensi promosi potensi wisatanya. Bila Ngeri-Ngeri Sedap punya Danatu Toba, maka Onde Mande! menyuguhkan Maninjau. Berikut masalah terkait belerang dan kematian ikan-ikan di dalamnya yang nyata. Tampaknya, ketiadaan sang sineas dari layar lebar sejak 2021 ia gunakan untuk mengolah topik ihwal kondisi tersebut hingga menjadi film ini. Kemunculan kembali dengan kesan yang baik.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaThe Childe
Artikel BerikutnyaHome for Rent
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.