Plane (2023)
107 min|Action, Adventure, Thriller|13 Jan 2023
6.5Rating: 6.5 / 10 from 98,989 usersMetascore: 62
A pilot finds himself caught in a war zone after he's forced to land his commercial aircraft during a terrible storm.

Di sela-sela hebohnya Avatar 2, awal tahun ini dirilis pula film aksi thriller, Plane yang dibintangi aktor laga Gerard Butler. Film ini diarahkan oleh Jean-François Richet dengan bujet sekitar USD 20 juta. Film berdurasi 107 menit ini dibintangi pula oleh Mike Colter (seri Luke Cage), Tony Goldwyn, dan Daniella Pineda. Dengan penampilan sang bintang yang tak jauh dari peran tipikalnya, kini apa yang ditawarkan Plane?

Brodie Torrance (Butler) adalah seorang pilot senior pesawat komersial yang kini berdomisili di Singapura. Pada satu penerbangan ke tokyo yang sepi penumpang di momen pergantian tahun, cuaca buruk melanda perjalanan. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, Brodie tak mampu mengontrol pesawat dan terpaksa mendarat darurat di sebuah pulau asing di Filipina. Mereka mendarat dengan selamat, namun pulau tersebut ternyata dikuasai oleh separatis anti pemerintah yang berbahaya. Di tengah situasi tak menentu, Brodie tidak hanya berusaha untuk berkomunikasi dengan maskapainya, namun juga menjaga keselamatan para penumpangnya.

Sebelum menonton, memang tak banyak ekspektasi dari film berbujet medium ini. Siapa sangka, film ini mampu memberi sisi hiburan yang mengejutkan. Dari ringkasan plot di atas, sudah terlihat adanya persilangan antara genre bencana (musibah pesawat) dan aksi thriller (terorisme). Tidak salah jika Plane disebut sebagai variasi dari seri Fallen yang menjadi andalan peran Butler. Begitu pesawat lepas landas, plotnya nyaris berjalan nonstop tanpa banyak jeda berarti. Ketegangan demi ketegangan dan aksi demi aksi, silih berganti memadati plotnya. Minimnya eksposisi (latar kisah tokoh) memang membuat tidak terasa adanya ancaman yang berarti. Tapi ini sama sekali tidak mengurangi intensitas ketegangannya, khususnya segmen penutup yang heboh dan mengejutkan.

Baca Juga  Land of Bad

Walau tak banyak ekspektasi di awal, Plane mampu memberi kejutan dengan kombinasi genre bencana dan aksi penyanderaan, dan tentu saja pesona sang bintang laga. Butler sekali lagi mampu memberikan penampilan kuat melalui peran tipikalnya. Fans sang bintang dijamin tidak akan kecewa, walau kini, ia tidak setangguh karakternya di seri Fallen. Adalah aktor Mike Colter yang mengisi sisi laganya sebagai perwira militer buron, Louis Gaspare yang berkarisma. Chemistry aksinya bersama Butler tergolong kuat dengan sedikit selipan humornya. Walau banyak tikungan plotnya tak sulit diantisipasi, namun Plane adalah sebuah sajian yang menggigit khususnya untuk penikmat genrenya. Jika bersabar sebentar, rasanya ini tak akan lama sebelum Plane muncul di platform streaming.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaFilm-Film Animasi Pendek, My French Film Festival
Artikel BerikutnyaAutobiography
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses