My French Film Festival

My French Film Festival hadir lagi. Tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-13 kalinya. Diadakan 13 Januari hingga 13 Februari, penonton bisa menikmati 29 film Prancis secara cuma-cuma di situs My French Film Festival atau di platform streaming Klik Film.

Di antara 29 film tersebut terdapat enam animasi, satu animasi panjang dan lina animasi pendek. Kelima animasi pendek tersebut adalah A Story for Two Trumpets, Anxious Body, Please Don’t Touch, Pests, dan The Night Watch. Khusus untuk The Night Watch hanya tayang di websitenya karena animasi ini memiliki gambar-gambar yang vulgar.

Kelima animasi ini memiliki gaya dan teknik menggambar yang beragam. Namun ada satu benang merah di antara kelima animasi tersebut, yakni imajinasi yang tak terbatas dan ruang bereksplorasi yang luas. Animasi bukan hanya tontonan anak, di sini malah dari tema dan isinya sebagian besar lebih cocok disaksikan oleh kaum dewasa.

Yuk kita bahas satu-persatu.

A Story for Two Trumpets

Animasi fantasi karya Amandine Meyer ini memiliki gambar-gambar yang biasa hadir di animasi Prancis. Warna-warnanya teduh di mata dan gambarnya menawan seperti gambar-gambar dalam buku dongeng anak. Rupanya Amandine juga berprofesi membuat buku cerita anak-anak, sehingga ia piawai membuat gambarnya

Ceritanya multiintepretasi. Di awal ada  dua kekasih yang bertengkar. Si perempuan menangis. Air matanya kemudian membentuk cerita surealis, tentang anak perempuan yang tumbuh dewasa lewat musik. Ada angsa yang menjadi gurunya. Dan, semakin berlanjut ke imajinasi yang semakin liar.

Gambar-gambar cantik ini diiringi musik yang riang, yang membuat penonton ingin menggerakkan badan. Gambar dan musik yang seperti ditujukan untuk anak-anak, namun sebenarnya pesan dalam filmnya lebih abstrak.

Anxious Body

Ini merupakan animasi yang eksperimental. Seperti bermain-main dengan menggunakan berbagai benda, bentuk geometris, garis, dan lainnya.

Selama lima menit, Yoriko Mizushiri mencoba mengungkapkan emosi manusia lewat gambar-gambar artistiknya yang unik. Agak sulit memahami Animasi ini, sehingga nikmati saja gambar-gambar yang bergerak ini. Animasi Anxious Body ini sebelumnya tayang di Festival Film Cannes.

Baca Juga  Stephen King dan Kesuksesan Adaptasi Novelnya

Please Don’t Touch

Animasi ini memiliki premis tentang larangan menyentuh, berteriak, dan berlarian di museum. Si sutradara, Capucine Gougelet berhasil menyampaikannya dengan baik dalam animasinya yang berdurasi hampir sembilan menit.

Animasi ini eksploratif, mencoba melawan bentuk-bentuk dan gaya animasi yang sudah umum. Gambar karakter dan atribut di sini juga ditampilkan secara artistik, menyatu dengan latarnya, museum seni

Bentuk-bentuk dalam animasi ini tidak begitu mengindahkan kaidah umum. Pengunjung dan petugas museum ditampilkan dengan ukuran tubuh yang tak proporsional, badan yang besar dan kepala yang mungil. Hal ini bisa jadi sindiran bagi pengunjung yang tak tertib ketika berada di museum dengan kepala yang mungil.

Didominasi dengan warna hitam, putih, dan merah, animasi ini menyuguhkan pesan dengan cara unik. Musik teknonya juga memperkuat konsep animasi ini yang eksperimental.

Pets

Animasi ini sepertinya menggunakan cara manual, dengan gambar yang dilukis dan diwarnai sendiri, tak seperti animasi CGI yang belakangan ini mendominasi.  Gambar dan warnanya indah pas menggambarkan sebuah kebun dengan bunga dan buah.

Pesan dalam animasi ini kuat, tentang keseimbangan alam. Siapa di antara tawon dan manusia yang menang dalam pertarungan.

Alur cerita dan pesan dalam animasi ini relatif mudah dipahami. Juliette Laboria, si sutradara, ‘hanya’ bermain-main dengan gaya menggambar, pergerakan, dan teknik mewarnainya untuk menyampaikan pesannya.

The Night Watch

Film animasi ini memiliki gaya seperti film noir, filmnya mempertemukan antara kejadian seperti mimpi buruk dan alam nyata. Seperti hal yang kabur dan batasan yang tipis, antara dunia nyata dan khayalan.

Si sutradara, Julien Regnard, menyuguhkan cerita tentang pertengkaran antara George dan Christina di mobil sepulang dari pesta. Mereka mengalami kecelakaan dan ketika George sadar, Christina menghilang. Ia lalu menuju sebuah pesta dengan tamu-tamu menakutkan dan situasi yang seperti mimpi buruk.

Ceritanya absurd dan vulgar. Animasi ini mengukuhkan bahwa animasi juga sajian dewasa, bukan hanya anak-anak.

Nah dari lima animasi pendek tersebut maka yang paling ingin kalian tonton?

Artikel SebelumnyaThe Day Before the Wedding
Artikel BerikutnyaPlane
Dewi Puspasari akrab disapa Puspa atau Dewi. Minat menulis dengan topik film dimulai sejak tahun 2008. Ia pernah meraih dua kali nominasi Kompasiana Awards untuk best spesific interest karena sering menulis di rubrik film. Ia juga pernah menjadi salah satu pemenang di lomba ulas film Kemdikbud 2020, reviewer of the Month untuk penulis film di aplikasi Recome, dan pernah menjadi kontributor eksklusif untuk rubrik hiburan di UCNews. Ia juga punya beberapa buku tentang film yang dibuat keroyokan. Buku-buku tersebut adalah Sinema Indonesia Apa Kabar, Sejarah dan Perjuangan Bangsa dalam Bingkai Sinema, Antologi Skenario Film Pendek, juga Perempuan dan Sinema.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.