Rasuk merupakan film adaptasi novel berjudul sama yang dikarang oleh Risa Saraswati. Novel sang penulis yang bengenre horor memang menjadi langganan untuk difilmkan, seperti seri Danur yang sangat populer di kalangan penonton Indonesia. Rasuk disutradarai oleh Ubay Fox. Rasuk merupakan film ketiganya setelah menyutradarai Valentine (2017) dan Kembang Kantil (2018). Film ini diperankan oleh salah satu aktris populer kita, Shandy Aulia. Shandy sudah tak asing lagi di genre ini karena ia sering berakting di film-film horor, seperti Rumah Kentang (2012), Rumah Gurita (2014), Mall Klender (2014), Tarot (2015), dan The Doll (2016).

Film ini sendiri berkisah tentang Langgir Janaka (Shandy Aulia) yang merasa hidupnya tak bahagia dan tertekan. Ia dibayangi trauma masa lalu karena ayahnya meninggal ketika usianya masih dini. Saat ini, ia merasa tak nyaman karena ibunya menikah lagi dan memiliki seorang anak. Langgir memiliki beberapa teman, namun ia selalu iri karena mereka hidup seperti tanpa beban. Mereka adalah Sekar Tanjung (Gabriella Desta), Fransisca Inggrid (Denira Wiraguna), dan Lintang Kasih (Josephine Firmstone). Mereka menamai gengnya, Putri Sejagat. Suatu ketika, Langgir dan tiga rekannya pergi ke sebuah villa di tengah hutan yang tak disangka membawa petaka bagi mereka.

Di awal film, sang sineas memukau penonton dengan opening scene yang menyajikan shot-shot panorama yang matang. Dengan tempo yang pas diiringi suara batin (monolog interior) dari Langgir dan musik yang mengintimidasi telah menggambarkan background kisah filmnya. Judul film yang muncul setelah opening scene-pun sangat meyakinkan. Plotnya sederhana dan amat konvensional untuk genrenya. Ada lima gadis muda datang ke sebuah villa di tengah hutan, dan tak disangka hutan tersebut menyimpan misteri yang telah diketahui warga sekitar. Saya memiliki ekpektasi lebih di awal film, namun harapan ternyata tak sesuai kenyataan. Pada adegan-adegan berikutnya, saya kurang bisa menikmati cerita filmnya, bahkan di babak pertengahan hingga penyelesaian malah terkesan seperti kisah sinetron keluarga dengan dialog yang gamblang.

Kelemahan film ini terlihat dari aspek cerita yang tak digarap dengan matang. Hal ini ditunjukkan dengan penyajian keseluruhan plot filmnya yang disajikan tanpa proses yang kuat. Waktu dan ruang yang terbatas disajikan dengan tempo cerita yang cepat. Sebagai contoh saja, adegan roh halus yang membabi buta merasuki penghuni villa terlihat tanpa proses cerita yang memadai. Adegannya terfokus pada bagaimana sosok roh halus yang merasuki mereka, selalu mencoba melukai orang lain tanpa motif yang kuat.  Konsep “kerasukan” hanya menjadi tempelan belaka tanpa mengolah bagaimana konsep tersebut dipahami sebagai konsep mistik yang terkait dengan persoalan roh. Kita tahu, maksud dan pesan cerita yang ingin dibangun adalah seseorang yang memiliki mental lemah dan rasa benci maka mudah kerasukan, namun semuanya terasa kurang kuat.

Baca Juga  Trinity, the Nekad Traveler

Selain itu pula banyak kejanggalan yang muncul di cerita filmnya. Ketika satu orang tokoh kerasukan, adegannya berpindah seketika ke rumah tinggalnya yang notabene jaraknya jauh. Bagaimana bisa? Anehnya lagi, rekan-rekannya menyusul ke rumah tinggalnya tanpa ditunjukkan bagaimana bisa sampai di sana dan mengetahui rekan mereka ada di sana. Tampak sang sineas memaksa klimaks film untuk berada di sana dan ingin menghubungkannya dengan masalah keluarga di sana.

Walaupun film ini tidak menyajikan sesuatu yang baru, baik cerita maupun trik horornya. Namun, setting film ini telah berhasil menunjukkan suasana yang cenderung kelam dan suram. Hampir sepanjang film, kita hanya melihat nuansa bangunan villa di pegunungan dan hutan berkabut yang mencekam.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaSekuel Jumanji Rilis Desember 2019
Artikel BerikutnyaUpdate Spin-off Spider-Man: Morbius
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini