That’s Amor adalah film komedi romantis arahan Shaun Paul Piccinino. Film ini dibintangi nama-nama yang masih asing di telinga, sebut saja Riley Dandy, Issac Gonzales Rossi, Nancy Lenehan, Daniel Edward Mora, dan Arlene Tur. Film ini baru lalu dirilis Netflix, padahal platform ini belum lama ini merilis beberapa genre roman, seperti Wedding Season, Purple Heart, serta Look Both Ways. Genre roman rupanya bakal rutin tayang, lalu bagaimana dengan yang satu ini?

Sofia (Dandy) seperti tertimpa sial beruntun dalam satu hari; ia dipecat bosnya; pacarnya kepergok menyelingkuhinya; lalu kakinya patah karena jatuh dari tangga. Sofia sementara pindah ke kampung halamannya di kota kecil Sonoma, California, dan tinggal bersama ibunya. Sang ibu (Lenehan) yang tak tahan dengan derita putrinya, mencoba mencari aktivitas untuk mengisi waktu luang mereka. Ia pun memaksa putrinya untuk ikut kursus masakan Spanyol, dan di sana, ia bertemu dengan Matias (Rossi). Sofia yang awalnya dingin, lambat laun terpesona dengan pria santun asal Spanyol tersebut.

Setelah kita disuguhi kisah cinta manis dalam Wedding Season lengkap dengan tradisi lokal India, kini That’s Amor hadir dengan pesona tradisi kuliner Spanyol. Tidak seperti Season yang glamor melalui pengadeganannya, Amor jauh lebih sederhana dan membumi. Berbekal aktor-aktris nonbintang dan kisah yang bersahaja, alur plotnya berjalan natural tanpa banyak sisi dramatik berlebihan seperti tradisi genrenya. Hubungan ibu dan putrinya tersaji hangat, lengkap dengan gerutuan Sofia atas ulah ibunya yang memaksanya untuk melakukan ini dan itu. Pula, awal pertemuannya dengan Matias ketika ia membantu Sofia ke luar dari mobil. Kita serasa tidak menonton film roman, namun seolah melihat kejadian spontan. Chemistry mereka begitu natural dengan dialog-dialog spontannya. Sayangnya, pada sepertiga akhir film, plotnya kembali terjebak format standar genrenya.

Baca Juga  Malcolm & Marie

Walau sedikit membumi dengan chemistry yang manis, pada akhirnya That’s Amor tetap tak mampu lepas dari tradisi genrenya yang klise. Dalam beberapa momen, khususnya sisi dialog, mengingatkan pada film roman ikonik, Before Sunrise yang pengadeganannya spontan apa adanya. Walau ini tak berakhir mulus, namun tidak untuk relasi hangatnya dengan sang ibu. Akting keduanya seolah terlihat mereka adalah ibu dan putri sungguhan. Jarang, chemistry macam ini terlihat dalam film pada genrenya. Jika saja, film ini berani mengambil resiko lebih jauh dengan mengurangi konflik pihak ketiga dan pengejaran stereotip genrenya, bukan tidak mungkin film ini menjadi istimewa. Selamat Menonton!

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaRomantik Problematik
Artikel BerikutnyaI Came By
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.