Surat dari Kematian adalah film garapan Max pictures yang merupakan hasil adaptasi dari novel dengan judul sama yang ditulis oleh Adham T Fusama. Film ini disutradarai oleh Hestu Saputra dan dibintangi oleh Carissa Perusset, Endy Arfian, Dania Salshabilla, juga Eric Febrian dan dirilis pada 9 Januari 2020.

Film ini bercerita tentang Kinan (Carissa Perusset), seorang mahasiswi yang juga merupakan Jurnalis dan gemar sekali untuk menyelidiki berbagai kasus yang ada di kampusnya, Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Dalam menjalankan penyelidikannya, ia dibantu oleh sahabatnya, Zein (Endy Arfian). Berbeda dengan Kinan yang selalu mengedepankan rasionalitas, Zein memiliki arah pandang lain dengan mengaitkan kasus tersebut dengan hal-hal yang bersifat mistis. Ia memang memiliki kemampuan untuk merasakan dan melihat makhluk metafisik disekitarnya. Pada suatu ketika terdapat rumor yang beredar di kalangan mahasiswa yang berisi tentang “surat kematian”. Siapa pun yang menerima surat kematian akan mati dalam waktu yang ditentukan kecuali ia menuruti apa yang diperintahkan oleh surat tersebut. Dalam perkembangannya, terdapat dua mahasiswa yang menjadi korban. Kinan dan Zein memutuskan untuk menyelidiki dan mendalami kasus tersebut.

Film ini berbeda dengan film horor Indonesia pada umumnya, baik struktur maupun variasi cerita yang digunakan. Meski film ini tak bisa dikatakan sebagai horor murni karena terdapat gaya investigatif tapi secara keseluruhan film ini mampu menciptakan atmosfer horor yang kuat. Gaya investigatif memang bukanlah satu hal yang baru dalam genre ini, namun melalui pembawaan pemeran dan variasinya mampu membuat film ini memiliki gaya tersendiri. Hal ini tentu sangat didukung performa dari dua tokoh utamanya.  Carissa dan Endi melalui akting dan dialog mereka mampu membentuk chemistry kuat dan membuat proses investigasi dan penyeledikan menjadi seru untuk diikuti. Sayangnya, performa baik dari para pemeran utama tersebut tak sejalan dengan performa dari tokoh-tokoh lain. Akting dan dialog yang dibawakan oleh beberapa tokoh pendukung terkesan canggung dan kaku. Hal lain yang begitu disayangkan adalah penyelesaian atau pengungkapan kasus yang kurang menarik dan terbilang terlalu mudah. Padahal sejak awal hingga pertengahan kasus masih enak dan menarik untuk diikuti. Rasionalitas cerita juga beberapa kali terasa janggal. Satu peristiwa yang merupakan akar dari segala permasalahan yang disajikan begitu lemah, sangat mempengaruhi keseluruhan cerita.

Baca Juga  Indonesian "New Wave"?

Surat dari Kematian didukung dengan teknik sinematografi yang cukup baik. Dengan penataan gambar yang sepertinya begitu diperhatikan pada tiap scene-nya mampu menghasilkan visual yang baik. Artistik pun sepertinya dipertimbangkan dengan baik. Set artistik yang tertata rapi dan terkonsep membuat mata penonton terpuaskan. Hampir tidak ada yang kurang dari segi penataan gambar dan artistik dalam film, ditambah lagi dengan tata suara yang juga terbilang cukup baik. Sayangnya, dari segi audio dan visual, film ini memiliki sedikit sekali kekurangan.

Meskipun Surat dari Kematian memiliki beberapa kekurangan tapi secara keseluruhan film ini tetaplah menarik dan menyenangkan untuk ditonton.

Kevin Sulistyo & Afrizal Kurniawan

Mahasiswa Magang

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaAbracadabra
Artikel BerikutnyaDolittle
Redaksi Montase
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.