Wakil rakyat (2009)
N/A|Comedy|02 Apr 2009
5.7Rating: 5.7 / 10 from 14 usersMetascore: N/A
N/A

Turut meramaikan pesta demokrasi di Indonesia, sutradara Monty Tiwa mencoba menghadirkan sebuah film bertema pemilu berjudul Wakil Rakyat. Film ini dibintangi sederet nama-nama top seperti Tora sudiro, Revalina S Temat, Vincent, dan beberapa aktor komedi seperti Tarzan, Jaja Mihardja, Nunung, hingga Yati pesek.

Alkisah Bagyo (Tora Sudiro) dipecat dari pekerjaannya sebagai Office Boy karena tanpa sengaja mencelakai seorang tokoh politik Zaenudin (Joe P. Project). Rencana pernikahannya dengan pacarnya, Ani (Revalina) pun juga terancam batal. Suatu hari, Bagyo menyelamatkan seorang wanita muda dari perampokan. Wanita tersebut tanpa diduga ternyata adalah seorang selebriti bernama Atika (Wiwid Gunawan). Bagyo sontak dikenal banyak orang hingga membuat seorang pimpinan partai bernama Wibowo (Tarzan) tertarik untuk menjadikannya calon legislatif bagi partainya. Bagyo kemudian ditempatkan di wilayah terpencil dimana tak satu pun penduduk daerah tersebut mengenalnya.

Sebagai tontonan komedi, Wakil Rakyat terhitung gagal karena nyaris semua dagelan yang disajikan terasa hambar dan terlalu mudah ditebak. Dagelan melalui dialog maupun aksi sudah terlalu sering kita temui dalam film-film komedi kita tanpa sedikit pun memberikan suatu hal yang baru. Aksen jawa yang “medhok” sepertinya masih saja identik dengan hal yang lucu. Nuwun pangapunten (maaf)… sampai kapan formula ini mau dipakai, pun kuno mas… Satu lagi, trik menjerengkan mata yang dilakukan seorang karakter dalam sebuah adegan. Apa iya penonton sekarang masih tertawa melihat hal ini.

Baca Juga  London Love Story

Sebagai sebuah sajian komedi memang wajar jika hubungan kausalitas melonggar tetapi dalam film ini terkesan terlalu dipaksakan. Bagyo dipecat kerja, menolong selebriti papan bawah, diekspos media, dan wuzz.. mendadak jadi Caleg. Naskah cerita juga menjadi salah satu kunci kegagalan filmnya. Kisah perjalanan karir Bagyo sebagai wakil rakyat mestinya mendapatkan porsi lebih ketimbang konflik asmara. Konflik antara Bagyo dan Ani pun juga sangat dangkal, tidak ada bedanya dengan sinetron-sinetron yang sering ditayangkan di TV. Penyelesaian konfliknya terlalu mudah tanpa sebuah proses pembelajaran atau pun usaha yang berarti. Naskah yang buruk lebih diperburuk oleh pencapaian akting para pemainnya.

Kritik politik yang disajikan dalam film ini hanyalah setengah-setengah serta lebih berupa tempelan tanpa usaha untuk menggali substansinya lebih dalam. Intrik politik yang tersaji dalam film ini juga terlalu dangkal. Rasanya akan lebih baik jika intrik politik yang ditampilkan lebih berbobot sehingga parodi-parodi yang dihasilkan pun pasti akan lebih menarik. Secara keseluruhan film ini tidak mampu menunjukkan sosok wakil rakyat bagaimana yang sebenarnya dibutuhkan oleh rakyat kita. Sosok wakil rakyat seolah hanya bisa dipilih secara asal. Asal ganteng, tenar, bisa bagi-bagi duit sudah bisa jadi wakil rakyat. Pesan yang hendak dikemas secara satir tidak mampu tersampaikan dengan baik melalui filmnya. Wakil Rakyat semata-mata hanya sebuah usaha untuk mengambil kesempatan ditengah momen dan suasana politik kita yang tengah hangat-hangatnya.

Febrian Andhika
Agustinus Dwi nugroho

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaPerempuan Berkalung Sorban, Hanya Film Religi Biasa
Artikel BerikutnyaMendudukkan “Merah Putih”
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini