what if s02

Setelah Loki S02, What If…? adalah seri Marvel Cinematic Universe (MCU) yang memiliki musim kedua sejauh ini. Seri animasi unik produksi Marvel Studios Animation ini adalah kreasi A.C. Bradley dan masih digarap oleh Bryan Andrews sebagai sineas utamanya. Seperti musim pertama, What If…? S02 memiliki 9 episode yang berdurasi rata-rata 35 menit yang dirilis Disney + setiap hari sejak tanggal 22 Desember lalu. Puluhan aktor-aktris pemeran aslinya turut mengisi suara dalam musim kedua ini, sebut saja Chris Hemsworth, Benedict Cumberbatch, Hayley Atwell, Cate Blanchett, Samuel L. Jackson, Karen Gillan, Paul Rudd, Tessa Thompson, Tom Hiddleston, Josh Brolin, dan tentu saja Jeffrey Wrigths sebagai The Watcher. Lantas bagaimana pencapaian musim keduanya ini di tengah tren menurun MCU pada rilis teaternya?

Seperti musim pertamanya, semua judul episode diawali dengan What If… yang menggambarkan kisah alternatif (universe lain) dari plot MCU yang kita tahu melalui puluhan film-filmnya. Musim pertama menutup serinya dengan klimaks maha heboh melalui kejutan jalinan relasi cerita tiap episodenya. Pada musim kedua ini, relasi antar episode masih tampak, namun tak sedominan musim lalu. Tercatat hanya  empat episode yang memiliki kontinuitas cerita dan ini pun masih memiliki relasi cerita dengan musim pertama. Bisa jadi masalah, bagi orang yang belum menonton musim pertamanya, walau lima episode lainnya murni adalah untuk pemuas fans yang memunculkan karakter-karakter original The Avenger.

Tiga episode What If… Peter Quills Attacked Earth’s Mighties Heroes?,  What If… Happy Hogan Saved Christmas? dan What If… Iron Man Crashed into the Grandmaster? adalah bentuk fans service yang sempurna. Kerinduan kita pada sosok Black Widow, Iron- Man, Thor, Bruce Banner, serta lainnya terpenuhi dalam tiga seri ini melalui selera humor dan tribute dari kisah MCU sendiri, serta film-film ikonik masa lalu. Ini belum tercatat episode pertama (What If… Nebula Joined the Nova Corps?) yang kental dengan nuansa dan sentuhan “film noir”.

Episode Peter Quills Attacked Earth’s Mighties Heroes secara literal adalah ”carbon copy” dari film The Avengers dengan setting waktu yang berbeda. Bagi fans film aksi thriller legendaris Die Hard yang dibintangi Bruce Willis, Happy Hogan Saved Christmas adalah tribute yang amat menghibur dengan segala atribut Die Hard-nya, melalui aksi teroris, pengadeganan, bahkan hingga dialog. Ini adalah episode sempurna yang dirilis persis menjelang malam Natal. Dari semuanya, episode Iron Man Crashed into the Grandmaster adalah yang paling menghibur dengan segala aksi “Mad Max”-nya melalui balap mobil brutal yang sangat intens.

Baca Juga  The Block Island Sound

Sementara kontinuitas cerita dengan musim sebelumnya dirangkai melalui sosok Peggy Carter dan Strange Supreme. Kedalaman cerita dan klimaks dalam plot musim pertama adalah sebuah kejutan besar dengan penutup yang menyentuh dan memuaskan. Namun kini, plotnya terasa sedikit memaksa dengan perubahan karakter penting yang “sedikit” keluar dari jalurnya. Dengan segala pengorbanan dan penderitaan yang begitu besar dialami sang tokoh (musim pertama), masih belum mampukah ia mengambil pelajaran dari sana? Hmm.. rasanya “iblis” yang ada pada diri manusia, tak akan pernah bisa lepas seberapa pun tangguh seseorang. Walau ada sedikit argumen, namun ini masih terasa sedikit dipaksakan.

Walaupun begitu, pertarungan klimaks pada episode penutup dengan segala atribut MCU-nya mampu melewati episode final musim lalu. Wow, aksi finale-nya sungguh-sungguh mengesankan. Kehadiran satu sosok super baru, Kahhori, seorang gadis Indian, membuat kisahnya menjadi segar dan “orisinal”. Sosok ini muncul dalam satu episode eksposisi (What If… Kahhori Reshaped The World?) yang saya anggap adalah yang terbaik dari semua episode di musim kedua ini.

Seperti musim sebelumnya, What If…? S02 adalah eksplorasi sempurna bagi fans sejati MCU dengan segala tribute dan humornya. MCU telah melewati batas dari genre superhero dengan segala pencapaian cerita dan estetiknya melalui puluhan filmnya. Kini apa lagi yang ingin dicapai setelah Endgame? Walau beberapa film setelahnya sukses komersial tapi rupanya pencapaian flop The Marvels adalah kekhawatiran besar bagi Marvel Studios dan tentu saja Disney.

Terlalu banyaknya karakter dalam film-film rilis bioskop (feature) dan seri streaming-nya menjadi segalanya saling bertumpuk dalam kekacauan yang mereka buat sendiri. Sejak Iron-Man hingga Endgame, baik Marvel dan Disney telah meraih keuntungan berlipat dari modalnya. Apa yang seharusnya mereka lakukan sudah dijawab melalui seri What If…?. Mereka kini mestinya tinggal bermain-main dengan puluhan karakter yang mereka miliki, tanpa takut mengambil resiko dan terus menggali eksplorasi cerita segar dengan memberikan kebebasan penuh pada para pembuat film yang kreatif. What next, MCU?

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaSilent Night
Artikel BerikutnyaNight Swim
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses