3 Hati, Dua Dunia, Satu Cinta (2010)
100 min|Comedy, Romance|01 Jul 2010
7.0Rating: 7.0 / 10 from 175 usersMetascore: N/A
A love story of a Moslem freelance journalist and a Catholic college girl, in resistance by their different cultures and religion.

Mamma yang tercinta,
akhirnya kutemukan juga jodohku
seseorang yang bagai kau:
sederhana dalam tingkah dan bicara
serta sangat menyayangiku.

—dari puisi “Surat kepada Bunda: Tentang Calon Menantunya” karya WS Rendra—

PUISI itu diucapkan dengan syahdu oleh tokoh kita Rosid (Reza Rahadian) pada ibundanya (Henidar Amroe). Sang bunda terharu, menitikkan air mata. Puisi itu isinya memang bikin sedih, soal minta ijin untuk menjemput jodoh pada ibunda dan pergi menemui jodohnya.

Masalahnya, jodoh yang akan dijemput Rosid ini bukan perempuan yang akan disetujui orang tuanya. Rosid telah menetapkan hatinya pada Delia (Laura Basuki). Padahal ada tembok besar yang menghalangi cinta mereka. Rosid dan Delia mengucap nama Tuhan dengan cara berbeda. Rosid, Islam. Delia, Katolik. Persoalan cinta beda agama tahun lalu sudah disentil dengan amat baik oleh film Cin[T]a (2009). Di situ seorang perempuan Jawa Muslim berpacaran dengan seorang Cina Medan beragama Katolik. Namun, dengan jenius, sineas Cin[T]a tak menggiring kisah filmnya tentang dua sejoli yang dimabuk cinta tapi terbentur masalah beda keyakinan. Melainkan, digiring ke persoalan tentang Tuhan, agama, teror atas nama Tuhan, dan semacamnya.

Nah, film arahan Benni Setiawan ini mengambil tikungan berbeda. Benni, yang menulis kisahnya dari dua novel (Da Peci Code dan Rosid & Delia), mengambil jalan ke inti persoalan: seperti apa problema yang akan ditemukan bila dua sejoli beda agama memadu kasih? Rosid, seorang seniman pengagum WS Rendra, datang dari keluarga keturunan Arab yang masih memegang tradisi kolot. Ayahnya (Rasyid Karim) ingin Rosid memotong rambut kribo sarang tawon lalu pakai peci. Tapi, Rosid berdalih peci putih hanya tradisi,  bukan persis ajaran agama.

Baca Juga  November Jogja

Soal rambut kribo ini kemudian lama-lama tenggelam diganti persoalan lebih besar: Rosid punya pacar Delia yang beda agama. Tentu orang tua masing-masing menentang. Rosid dikenalkan gadis cantik keturunan Arab juga yang suka puisi-puisinya (Arumi Bachsin). Sementara Delia diminta sekolah ke Amerika oleh ayahnya. Rosid dan Delia sempat gamang, bingung bagaimana melanjutkan hubungan mereka.

Tanpa tedeng aling-aling, film ini memaparkan apa jadinya bila dua sejoli beda agama menjalin cinta. Hebatnya, film ini tak mencoba memberi putusan bahwa hal itu dilarang (atau juga dibolehkan). Sebaliknya, film ini menyajikan serangkaian hal untuk direnungkan penonton usai menonton. Misalnya, ada dialog soal persoalan nikah beda agama akan meninggalkan beban psikologis pada pelaku, keluarga, bahkan anak yang mereka lahirkan kelak. Di tanya bagaimana sebaiknya, malah dijawab dengan tawa. Kemudian, ada dialog, dari sudut Islam, ada pendapat ulama yang mengatakan nikah beda agama boleh asal prianya Islam. Tapi, dengan bijak, film ini tak menganjurkan mengikuti pendapat ulama yang membolehkan hal itu, melainkan taati agama dengan baik dulu, baru pahami betul-betul sebelum akhirnya ikut pendapat yang mana.

Kita memang akhirnya diberitahu apa jalan yang diambil Rosid dan Delia. Tapi, kita juga tahu keputusan itu datang dari hasil pemikiran mendalam, bukan nafsu apalagi emosi.

Artikel Sebelumnya“Superhero”
Artikel BerikutnyaUnstoppable, Unstoppable Aksi
Kontributor Montasefilm.com, bekerja sebagai wartawan di Jakarta. Bukunya yang sudah terbit “Seandainya Saya Kritikus Film” (Homerian Pustaka, Yogyakarta), rilis 2009.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.