Bahwa cinta itu ada (2010)
N/A|Drama|04 Mar 2010
Rating: Metascore: N/A
N/A

Bahwa Cinta itu Ada yang rilis 4 maret 2010 lalu disutradarai oleh seorang seniman yang lebih kita kenal sebagai penyanyi dan dalang, yaitu Sujiwo Tejo. Ini kali pertamanya ia menyutradarai sebuah film layar lebar yang berdurasi 90 menit. Film ini dibintang oleh aktor aktris pendatang baru seperti Ario Wahab, Risky Hanggono, Eva Asmarani, Alex Abbad, dan Denis Adishwara. Selain itu juga dibintangi aktor aktris senior seperti Slamet Raharjo dan Ninik L.Karim yang juga ikut meramaikan film ini.

Alkisah lima orang pemuda bernama Fuad (Alex Abbad), Slamet (Ario Wahab), Gugun (Dennis Adishwara), Poltak (Restu Sinaga), Benny (Risky Hanggono), dan seorang pemudi, Ria (Eva Asmarani), mereka datang dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu di ITB Bandung. Secara kebetulan mereka mulai bertemu sejak pendaftaran mahasiswa baru kemudian saling mengenal dan membentuk sebuah geng. Hubungan mereka berlima sangat akrab, setiap kegiatan dan tugas kampus mereka selalu mengerjakan bersama-sama. Kedekatan di antara mereka memicu cinta segitiga antara Benny, Ria, dan Slamet. Benny selalu merayu Ria namun selalu gagal. Sementara Slamet cenderung memendam perasaannya terhadap Ria.

Cerita bertutur secara kilas balik pada awal dan akhir cerita saja. Cerita juga dibagi dalam dua periode waktu yaitu, tahun 1980-an dan tahun 2009. Tahun 1980-an mengisahkan ketika mereka masih menjadi mahasiswa dan tahun 2009 mengisahkan semasa mereka sudah bekerja. Yang menjadi masalah utama dalam film ini adalah alur cerita yang tidak fokus dan kurang nyaman untuk diikuti. Sepanjang filmya kita disuguhi alur cerita yang terpotong-potong. Penekanan cerita pada enam tokoh utama nampaknya masih jauh jika dikatakan menggunakan alur cerita multi plot.

Baca Juga  Berangkat!

Film ini mencoba mengangkat konflik tiap tokohnya namun sayangnya konflik tersebut masih kurang tergali dan terlalu dangkal. Dari keenam tokoh yang ada, Slamet, Ria, dan Benny cenderung dominan ketimbang yang lain. Cerita yang disampaikan secara sepotong-potong membuat penonton sulit untuk bersimpati pada tiap tokohnya karena sifatnya hanya informatif belaka. Seperti cerita keluarga Fuad di kampung yang rumahnya kebakaran, lalu kisah ayah Benny yang sakit, dan kisah perselingkuhan Gugun dengan wanita Australia. Ada pula cerita yang tidak masuk akal dan cenderung dipaksakan. Seperti contohnya Slamet yang tiba-tiba meninggalkan pacarnya di kota demi menikahi gadis pilihan ibunya. Juga Ria yang tiba-tiba menaruh harapan pada seorang laki-laki yang baru ia temui di kantornya. Tak ada motif yang jelas dan kuat untuk memperjelas ceritanya.

Masalah setting dan kostum juga agak janggal. Tidak ada perbedaan yang berarti antara setting dan kostum tahun 1980-an dan tahun 2009, gaya rambut maupun gaya berpakaian pada kedua zaman tersebut tidak ada bedanya. Satu hal yang tergolong orisinil dalam film ini adalah penggunaan narasi yang menggunakan alunan tembang jawa layaknya seorang dalang. Dalam konteks cerita filmnya tampaknya sulit pula dijelaskan (seperti judulnya) bahwa cinta benar-benar ada. Sang sutradara yang baru pertama kali membuat film, harus belajar banyak dulu bagaimana mengemas realita-realita kehidupan yang dekat dengan kita untuk bisa dikemas melalui medium film dengan baik.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaMy Name is Khan, Film Romantis Bernuansa Politis
Artikel BerikutnyaRumah Dara, Film Horor-Thriller Indonesia Terbaik
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.