Banda: The Dark Forgotten Trail (2017)

94 min|Documentary|03 Aug 2017
7.4Rating: 7.4 / 10 from 116 usersMetascore: N/A
In medieval centuries, a handful of nutmegs worth more than a crate of gold in European Markets. Monopoly of the Arab and the crusade wars brought European countries in the race to find spice islands, which later sparked the clash…

Film dokumenter berdurasi 94 menit ini disutradari oleh Jay Subyakto, yang kita kenal sebagai seorang sutradara video klip dan fotografer handal. Film ini menjadi debut pertamanya untuk menyutradarai film panjang. Walaupun tak sepopuler film fiksi, sang produser, Shella Thimoty, melalui studio produksinya LifeLike Picture, bersikeras untuk mewujudkan film ini. Pembuat film ingin menyuarakan tentang posisi strategis dan sejarah kelam Kepulauan Banda sebagai jalur rempah nusantara masa lampau, yang mungkin terlupakan oleh generasi kini.

Pada  awal abad ke 16, bangsa-bangsa Eropa, seperti Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda memulai ekspedisi pelayaran mereka ke nusantara untuk mencari rempah-rempah berupa pala dan cengkeh. Bagi orang Eropa kala itu, rempah-rempah yang digunakan sebagai bumbu masakan dan obat-obatan, nilainya sebanding dengan emas. Maka, tak heran jika rempah-rempah di Kepulauan Banda, mengakibatkan perseteruan antar bangsa Eropa. Perjanjian internasional tak terelakkan untuk membagi kekuasaan wilayah bangsa-bangsa yang berseteru. Sejarah juga mencatat tentang pembantaian masal yang dilakukan oleh Gubenur Jenderal Belanda yang terjadi di Kepulauan Banda, demi untuk menguasai wilayah tersebut.

Jalur rempah nusantara menjadi tema yang unik dan memiliki urgensi untuk dikemas menjadi sebuah film dokumenter. Bagian awal hingga pertengahan film, temanya fokus pada penjabaran tentang sejarah jalur rempah hingga penjelasan detail mengenai rempah-rempah. Namun, pertengahan film hingga akhir, informasi cerita yang disajikan lebih bersifat umum yang notabene tidak ada hubungan dengan tema utamanya, seperti sejarah pengasingan tokoh nasional Bung Hatta dan Sutan Syahrir di pulau ini, serta mengeksplor kondisi alam, sosial, dan budaya di kepulauan Banda. Boleh-boleh saja memang, memaparkan hal lain yang menjadi kekhasan dari kepulauan Banda, namun alangkah baiknya jika porsinya tidak terlalu mendominasi karena ini akan menjadikan filmnya kurang fokus pada topik utamanya.

Kedalaman informasi cerita menjadi penting untuk menyajikan fakta-fakta menarik yang membangun struktur berceritanya. Riset memang menjadi kunci pokok untuk menguatkan plot filmnya. Segmen jalur rempah nusantara masih bisa diekplor lebih dalam lagi supaya lebih fokus pada tema filmnya sehingga mampu memberikan gambaran rinci tentang bagaimana bangsa-bangsa Eropa datang dan akhirnya menguasai kepulauan Banda, serta bagaimana jalur rempah menjadi jalur strategis dan mengubah peta ekonomi politik dunia kala itu. Pemahaman akan sejarah ini penting karena menjadi tonggak awal imperialisme dan kolonialisme di nusantara. Namun, tampaknya informasi ini kurang digali lebih dalam.

Baca Juga  Benyamin Biang Kerok

Jejak sejarah berupa peninggalan benteng-benteng kolonial masih bisa kita lihat hingga hari ini. Bangunan kokoh nan megah ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kolonial di wilayah Banda. Sang sineas dengan cermat mencoba memetakan bagaimana letak benteng-benteng tersebut memiliki fungsi strategis untuk mengontrol perdagangan rempah-rempah serta menghadapi perlawanan masyarakat pribumi.

Untuk menyajikan faktamya, film ini menggunakan dua teknik penceritaan, yaitu menggunakan teknik narator dan teknik wawancara. Kedua teknik ini disajikan bergantian dan saling melengkapi. Pengisi suara yang diisi oleh suara aktor ternama Reza Rahardian dan Ario Bayu (Bahasa Inggris) sudah sangat baik untuk menyampaikan alur ceritanya. Teknik wawancara dipakai untuk mendukung dan menguatkan statment tentang fakta yang disajikan, namun narasumber yang muncul terlalu sedikit dan hanya didominasi beberapa orang saja.

Selain tema, kekuatan utama dari film ini adalah visualisasi filmnya yang  mampu menggambarkan indahnya kepulauan Banda melalui berbagai teknik kamera yang istimewa. Sentuhan sineas yang memang handal di bidang fotografi, begitu nampak dalam komposisi-komposisi gambar yang disajikan. Shot dari udara mampu menggambarkan kepulauan Banda beserta gugusan pulau-pulaunya. Satu aspek yang menarik adalah grading yang memiliki tone agak gelap membuat kesan filmnya kelam, sesuai dengan tema film yang memiliki motif historis. Teknik animasi yang menggambarkan ekspedisi pelayaran bangsa Eropa juga memberikan gambaran secara visual yang baik.

Di tengah gempuran film fiksi di industri film kita, Banda menjadi warna baru bagi sinema kita. Walaupun film-film sejenis jarang diproduksi, namun film ini sangat penting bagi generasi muda untuk bisa melihat sejarah penting bangsa ini di masa lampau. Saat ini, film dokumenter baik pendek maupun panjang lebih sering beredar di jaringan festival ketimbang di layar bioskop umum sehingga tak banyak publik yang bisa mengakses. Walaupun Banda memiliki kekurangan dalam mengeksplorasi tema, namun kita patut mengapresiasi film ini melalui usaha dan kerja kerasnya. Semoga ke depan banyak sineas dokumenter memproduksi film sejenis dengan tema dan isu yang kuat dan lebih menarik lagi.

WATCH TRAILER

https://www.youtube.com/watch?v=4JfGgjDiicA

Artikel SebelumnyaFenomena Danur
Artikel BerikutnyaAnnabelle: Creation
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

1 TANGGAPAN

  1. The documentary movie “Banda: The Dark Forgotten Trail” is visually stunning in parts but a narrative mess with disjointed clips telling several stories without a coherent structure. The director’s visual self indulgence is unrestrained (“I let the six DoPs shoot any scenes they wanted”) and this buries the narrative rhythm and suffocates any dramatic development of a story. A study of uncontrolled excess and style over substance.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.