Bowling for Columbine (2002)
120 min|Documentary, Crime, Drama|15 Nov 2002
8.0Rating: 8.0 / 10 from 149,054 usersMetascore: 72
Filmmaker Michael Moore explores the roots of America's predilection for gun violence.

Bowling For Columbine (2002) merupakan film dokumenter yang diarahkan Michael Moore yang sekaligus merangkap sebagai penulis naskah dan produser. Film dokumenter ini sukses meraih puluhan penghargaan internasional, termasuk piala Oscar untuk film dokumenter terbaik. Film ini juga meraih penghargaan utama 55th Anniversary Prize dalam Cannes Film Festival dan merupakan film dokumenter pertama yang bersaing dalam ajang tersebut sejak 50 tahun lebih festival ini berlangsung.

Bowling For Columbine diinspirasi Moore dari tragedi pembantaian Columbine High School pada tahun 1999 yang dilakukan oleh dua orang siswanya. Dua belas siswa dan guru tewas oleh senjata api semi otomatis yang digunakan dua pelakunya. Moore mempertanyakan mengapa angka kekerasan senjata api begitu tinggi di negaranya? Apa akar penyebabnya? Tragedi Columbine menjadi landasan berpijak bagi Moore untuk mencari esensi penyebab masalah yang lebih luas yang berujung pada budaya kekerasan dan rasa takut masyarakat Amerika. Moore mengawali filmnya dengan adegan singkat yang menggambarkan betapa mudah ia memperoleh senjata api secara legal hanya dengan membuat rekening baru pada sebuah bank di Michigan.

Moore menuturkan filmnya ini secara episodik dan cenderung tidak runtut (fleksibel). Sekilas filmnya tampak tidak fokus karena acap kali melompat dari satu bahasan ke bahasan lain, namun ini merupakan strategi Moore untuk memberikan kita sebuah perenungan utuh tentang satu konteks bahasan yang ia tekankan. Dalam sebuah segmen diperlihatkan pada hari dimana tragedi Columbine terjadi, Amerika tengah membombardir wilayah Serbia yang tercatat sebagai pemboman terbesar dalam satu hari. Pengungkapan fakta-fakta kontradiktif memang menjadi strategi favorit Moore. Satu contoh menarik, pernyataan seorang petinggi pabrik senjata terbesar (Lockhead Martin) yang kontradiktif dengan kebijakan politik pemerintah. Moore mengemasnya dengan ringan melalui kilasan berbagai peristiwa dengan iringan lagu It’s a Wonderful World. Moore sering pula melakukan studi komparasi untuk memperkuat pernyataannya. Dalam sebuah segmen, ia membandingkan kondisi dan situasi keamanan di Canada dengan di negaranya. Moore juga membandingkan angka-angka korban kekerasan senjata api di negara-negara maju lainnya yang juga memiliki sejarah kekerasan yang sama.

Baca Juga  Miniatur

Moore tidak hanya mampu memaparkan filmnya ini secara komprehensif dan ilmiah, namun ia juga mengemasnya dalam bentuk yang sederhana, menarik, menyentuh, sekaligus menghibur. Sekalipun Moore memakai beragam teknik konvensional, seperti interview, narasi, rekaman berita, iringan lagu dan ilustrasi musik, hingga sekuen animasi, namun ia mampu memadukan semuanya itu secara fleksibel. Cuplikan banyolan komedian Chris Rock tentang senjata api pun tak luput dari tangkapan Moore. Tidak hanya sebagai narator namun Moore sendiri turun langsung ke lapangan mewawancarai para narasumbernya dengan pertanyaan-pertanyaan yang lugas dan tajam, seperti interview-nya dengan ketua organisasi pro senjata api (National Riffle Association), sang aktor legendaris, Charles Heston. Dengan cara yang sederhana namun efektif, Moore juga menggambarkan kilasan tragedi Columbine melalui rekaman video pengintai serta suara rekaman telepon para pelapor 911. Sukses Bowling For Columbine menjadi bukti bahwa film merupakan medium yang sangat ampuh dan efektif untuk melakukan propaganda sosial dan politik. Kemenangan Columbine dalam berbagai ajang festival film internasional menjadi bukti keberpihakan para pelaku industri film di dunia yang muak terhadap aksi kekerasan dan teror yang kini semakin marak.

 

Artikel SebelumnyaThe Conductors, Musik sebagai Pemersatu Bangsa
Artikel BerikutnyaSejarah Film Dokumenter
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.