The Blue Generation (2009)
90 min|Documentary, Animation, Music|19 Feb 2009
6.7Rating: 6.7 / 10 from 27 usersMetascore: N/A
Slank is a legendary rock band on the Indonesian scene, known for their politicized lyrics and activism, and for its fanatical fan base - known as "Slankers" - who see the band as something...

Generasi Biru adalah film musikal semi-dokumenter yang merupakan kolaborasi antara grup musik kondang tanah air, Slank bersama tiga sineas kita yakni, Garin Nugroho, John de Rantau, serta Dosy Omar. Film ini diproduksi untuk memperingati seperempat abad perjalanan Slank di tanah air. Film ini dibintangi oleh para personel Slank sendiri, yakni Kaka, Bimbim, Ivanka, Abdee, Ridho, serta ikut pula bermain mantan putri Indonesia, Nadine Chandrawinata. Belasan lagu hit Slank dilantunkan mengiringi filmnya.

Film ini dibagi menjadi tiga segmen utama, yakni Kisah Manusia Binatang, Kisah Una, lalu Kisah Kupu Liar yang disajikan secara bergantian. Kisah Manusia Binatang adalah kisah tentang kehidupan “manusia binatang” yang hidup berdampingan dengan manusia di sebuah perkampungan. Kisah una menceritakan tentang seorang bocah yang selalu sembunyi di kolong meja karena trauma melihat kekerasan. Sementera Kisah Kupu Liar merupakan kisah cinta antara si “kupu liar”(Nadine Candrawinata) dengan sang vokalis.

Film unik ini merupakan kombinasi antara seni musik, seni teater, seni instalasi, seni tari, serta teknik dokumentasi. Sentuhan Garin tampak begitu kental dalam filmnya, seperti setting abstrak dipadu dengan gerak tari teatrikal yang simbolik. Penonton yang tidak asing dengan film-film garapan Garin sepertinya tak terlampau sulit memaknainya. Simbol seringkali identik dengan jiwa lagu-lagu Slank sendiri yang mengangkat masalah ketidakadilan, ketertindasan, kebebasan, kesewenang-wenangan, dan sebagainya. Tak ada dialog dalam filmnya namun lagu bersama liriknya menyatu dengan alur kisahnya, dan banyak adegannya merupakan visualisasi dari lagu-lagu (lirik) yang dibawakan melalui gerak dan tari (koreografi). Sekalipun bisa diambil benang merah antar tiap adegannya (meski tidak terlalu kuat) namun film ini lebih “mudah dan enak” dinikmati adegan per adegannya.

Baca Juga  Ketidakberdayaan Wanita dalam Perempuan Punya Cerita

Dominasi musik dan lagu sepanjang filmnya membuat Generasi Biru bisa disebut film musikal namun alur plot yang tak jelas menjadikan film ini lebih menyerupai kompilasi video klip ketimbang film musikal. Generasi Biru dikatakan film dokumenter pun tidak namun nyatanya film ini sering menggunakan teknik-teknik film dokumenter, seperti wawancara (interview para slankers di berbagai kota), cuplikan rekaman konser Slank, cuplikan rekaman beberapa kerusuhan dan kekerasan di tanah air, serta lainnya yang diselipkan di beberapa bagian sepanjang filmnya. Satu keunikan lain lagi filmnya adalah penggunaan teknik animasi dalam beberapa adegannya. Satu yang paling menarik adalah game animasi “membasmi tikus” yang menggambarkan dua karakter yang tengah membasmi tikus di Gedung MPR/DPR.

Generasi Biru merupakan mimpi Slank akan sebuah “Pulau Biru” yang bebas dan damai. Seperti jiwa lagu-lagu mereka film ini pula mengangkat isu dan masalah sosial, politik, moral, hingga cinta. Generasi Biru memang sebuah film unik namun apakah film ini bisa dinikmati oleh penonton awam (atau bahkan slankers)? Rasanya tidak kecuali mungkin musiknya. Lagu-lagu Slank kita kenal sangat lugas, sederhana, dan slengekan dalam menyampaikan pesannya namun film Generasi Biru justru sebaliknya. Lalu ditujukan untuk siapa film ini?

Artikel SebelumnyaUnder The Tree, Tiga Kisah dalam Satu “Pohon”
Artikel BerikutnyaThe Conductors, Musik sebagai Pemersatu Bangsa
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.