Under the Tree (2008)
104 min|N/A|05 Sep 2008
6.8Rating: 6.8 / 10 from 46 usersMetascore: N/A
Three women looking for answers of their life in Bali

Setelah sukses dengan Opera Jawa, kali ini sineas kawakan kita, Garin Nugroho memunculkan karya terbarunya yang baru saja rilis di bioskop, yakni Under The Tree. Mengekor film-film Garin lainnya, film ini juga sukses diputar di beberapa ajang festival Internasional, seperti di London, Tokyo, hingga Toronto dan banyak dipuji pengamat disana. Entah mengapa, film-film Garin tak banyak diminati oleh penonton kita. Di bioskop Jogjakarta misalnya, film ini hanya bertahan beberapa hari saja dan itu pun sepi penonton.

Dalam film ini terdapat tiga plot utama mengisahkan tiga orang wanita. Maharani (Marcella Zalianty) adalah seorang gadis Jakarta yang datang ke Bali untuk mencari asal-usulnya (ibu kandungnya). Atas petunjuk “orang pintar”, Maharani pergi ke sebuah desa dan bertemu dengan Kaler, seorang laki-laki pengajar tari. Di tengah konflik batinnya, Maharani justru terjebak di tengah percekcokan Kaler dan istrinya, serta hubungan gelapnya dengan putra Kaler (Dwi Sasono). Sementara Dewi (Ayu Laksmi) adalah seorang ibu muda yang tengah hamil. Anak dalam kandungan Dewi divonis menderita penyakit yang menyebabkan si janin cacat, dan jika lahir sekalipun tak akan hidup lama. Dewi memiliki dua pilihan, yakni menggugurkan kandungannya atau melahirkan. Terakhir, Nian (Nadia Shapira) adalah seorang aktris muda ternama yang tengah berlibur dan menenangkan diri di Bali karena cekcok dengan ayahnya. Nian yang kehilangan sosok ayahnya mendapatkan figur pengganti yaitu, Darma seorang pelukis tua. Nian selalu mengikuti kemana pun Darma pergi sekalipun sang seniman merasa terusik.

Film ini dibagi menjadi tiga segmen, yakni Tiga Benih, Benih Terjatuh, dan Berbunga. “Benih” mengacu pada tiga karakter utamanya. Kisah Maharani, Dewi, dan Nian disajikan secara urut dan bergantian dalam porsi seimbang. Inti cerita sejatinya mengisahkan ikatan batin antara orang tua dengan anak. Maharani merasa “dibuang” oleh ibunya. Dewi frustasi dengan janinnya. Nian mencari figur pengganti ayahnya, karena sang ayah tak bisa menjadi panutan. Seperti film-film sang sineas lazimnya, Garin seringkali mengekspresikan ide dan gagasannya melalui simbol. Simbol umumnya berkait erat dengan kondisi mental dan fisik tokohnya. Dalam segmen Maharani terdapat sebuah tarian yang memperlihatkan seorang karakter penari yang membuang bayinya. Dalam segmen lain terlihat saat Dewi mengupas, meremas, dan memakan kuning telur, ia melantunkan sebuah tembang tentang kehidupan dan kematian. Telur merupakan simbol janinnya. Ketika Nian melihat ayahnya tertangkap karena korupsi, sang gadis menutupi rasa malu dan sedihnya dengan menutupi wajahnya dengan kardus.

Baca Juga  Hanum & Rangga: Faith and the City

Film ini begitu kental dengan nuansa budaya Bali. Dialog filmnya didominasi oleh bahasa Bali. Setting yang mengambil lokasi langsung di Bali turut memperkuat suasana magis filmnya. Film sarat dengan ritual, tari, serta keseharian masyarakat Bali yang religius. Agar lebih meyakinkan, sineas beberapa-kali menggunakan cuplikan rekaman upacara adat sesungguhnya. Gaya sang sineas yang lebih menekankan pada bahasa gambar masih dominan melalui teknik-teknik seperti, close-up, long take, serta minim penggunaan dialog. Teknik handheld camera (walau kadang terlihat kasar) juga cukup pas menggambarkan suasana batin tiap karakternya yang tidak stabil. Garin juga mampu membangkitkan potensi akting para pemainnya, sekalipun beberapa diantara mereka pemain amatir. Penampilan Ayu Laksmi tercatat adalah yang paling menonjol diantara ketiganya. Garin seperti biasa juga menyinggung masalah-masalah sosial di negeri ini, seperti aborsi, korupsi, hingga perdagangan anak. Sebagai penutup, sang sineas masih konsisten dengan gayanya baik secara tema maupun teknis. Sekalipun film ini dianggap terlalu kompleks, rumit, atau abstrak oleh penonton awam namun inilah kelebihan sang sineas.

Artikel SebelumnyaValkyrie
Artikel BerikutnyaGenerasi Biru, Bermimpi Akan Pulau Biru
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sini ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang sinema neorealisme, membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini ia berprofesi sebagai dosen lepas di beberapa perguruan tinggi mengampu mata kuliah terkait film, baik kajian maupun produksi. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini