#DUPE# (2016)

N/A|N/A|N/A
Rating: Metascore: N/A
N/A

     Film yang disutradarai Rizal Mantovani ini merupakan sekuel dari Bulan Terbelah di Langit Amerika yang masih bercerita tentang petualangan Hanum (Acha Septriasa) dan Rangga (Abimana Aryasatya) di Amerika. Kali ini Hanum mendapatkan tugas dari bosnya untuk menelusuri jejak Islam di masa lampau. Ia harus melakukan investigasi bahwa para pelaut dari China yang beragama Islamlah yang terlebih dahulu menemukan benua Amerika sebelum Colombus. Hanum dan Rangga akhirnya pergi ke San Fransisco untuk menemui narasumber. Hanum dibantu oleh temannya Azima (Rianti Cartwright) yang pernah menjadi narasumbernya untuk mencari seseorang yang bernama Peter Cheng yang dikabarkan memiliki bukti fisik. Azima sendiri ternyata juga memiliki agenda sendiri untuk menyelesaikan masalah dengan ibunya. Juga Stefan (Nino Fernandez), rekan Hanum dan Rangga, berencana untuk menemui Jasmine (Hannah Al Rashid) yang meninggalkannya.

     Dalam film ini ada tiga plot besar yang dibangun, namun masing-masing dari plotnya berjalan tanpa kedalaman cerita. Ketiganya memiliki permasalahan dan konflik yang berbeda. Nampaknya sang sutradara ingin membagi proporsi ceritanya seimbang namun alur kisahnya terasa kurang fokus. Persoalan isu utama tentang petualangan Hanum yang seharusnya menjadi fokus utama malah tertutup dengan konflik Azima dan Ibunya serta Stefan dan Jasmine. Ketiga plot ini berjalan dalam waktu yang bersamaaan maka ada informasi yang terasa hilang dalam tiap plotnya. Aksi Hanum yang bisa menjadi daya tarik filmnya, pencarian akan fakta sejarah menjadi kurang digali lebih dalam. Film ini bisa menjadi tiga film dengan masalahnya masing-masing.

     Filmnya cenderung datar dan kurang memiliki intensitas dramatik dalam membangun alurnya. Dialog yang kaku juga menambah masalah tersendiri pula. Persoalan informasi yang disampaikan dan logika cerita menjadi hal yang penting. Penggunaan bahasa dalam dialog-dialog yang bercampur aduk antara bahasa Inggris dan Indonesia bisa dimaklumi namun ada yang terasa janggal. Bagaimana suku Hui di Amerika bisa berbahasa Indonesia? Tidak ada informasi apapun yang diberikan pada penonton mengapa mereka bisa berbahasa Indonesia.

Baca Juga  Siksa Neraka

     Film yang dominan mengambil setting di San Fransisco ini sudah baik menggambarkan suasana di Amerika mengikuti trend film-film kita era kini. Pengambilan gambar dan editing yang mapan membuat nilai plus bagi film ini. Para pemain yang sebenarnya punya potensi dikecewakan oleh dialog dan alur kisahnya yang tidak fokus. Tema drama religi rasanya masih menjadi primadona bagi industri film kita. Namun alangkah baiknya jika film-film ini digarap dengan kualitas cerita yang matang sehingga mampu memberikan pencerahan bagi para penontonnya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaJames Bond Idaman Kaum Hawa
Artikel BerikutnyaMengejar Embun ke Eropa
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.