24.5 C
Yogyakarta
6 Desember 2019

Ad Astra

Ad Astra mampu menampilkan sajian fiksi ilmiah yang unik dengan gaya realistik, melalui setting, musik, suara batin, serta tempo filmnya yang lambat, hanya saja, film ini terjebak oleh temanya yang klise tanpa mencoba sesuatu yang lebih berani.

Rambo: Last Blood

Rambo: Last Blood bukan hanya film yang buruk, namun juga tak memiliki value. Tribute film ini pada satu sosok ikonik dalam sejarah sinema, hanyalah satu hal, yakni KEMATIAN.

Midsommar

Memang jelas bukan untuk tontonan awam, Midsommar mampu menyampaikan cerita dan pesannya melalui kombinasi brilian antara plot, mise_en_scene, serta sinematografi yang unik di bawah arahan dan talenta langka sang sineas. Mudah untuk dikatakan, Midsommar adalah salah satu film terbaik di era modern kini.

It Chapter Two

It Chapter 2 menggunakan formula plot nyaris sama dengan seri pertamanya, namun kini terlalu panjang, membosankan, plus sentuhan horor yang tak menggigit dengan penggunaan CGI yang sudah lazim.

Ready or Not

Di luar kasting brilian serta penyutradaraan yang trampil, sayangnya Ready or Not tidak mampu menjaga ritme ketegangan seperti yang dijanjikan premisnya.

Once Upon a Time in Hollywood

Dengan kekuatan mise_en_scene-nya, Once Upon a Time In Hollwood menjadi keunikan film Tarantino kali ini, di luar gaya khasnya yang sedikit melunak. Hanya saja, kecintaannya terhadap medium film (baca: Hollywood) bersama perniknya membuat filmnya terlalu panjang dengan konsep yang tak lagi orisinal.
error: Content Is Protected, DON\'T COPY !!