Bad Boys: Ride or Die (2024)
110 min|Action, Adventure, Comedy|07 Jun 2024
Rating: Metascore: N/A
This Summer, the world's favorite Bad Boys are back with their iconic mix of edge-of-your seat action and outrageous comedy but this time with a twist: Miami's finest are now on the run.

Bad Boys: Ride or Die adalah seri keempat dari franchise Bad Boys dan merupakan sekuel dari Bad Boys for Life (2020). Bad Boys for Life tercatat adalah serinya yang tersukses baik kritik maupun komersial, yang uniknya tidak diarahkan oleh sineas aslinya, Michael Bay. Seri keempat ini masih digarap oleh duo sineas asal Belgia,  Adil dan Bilall yang menggarap seri sebelumnya. Selain dua bintangnya, Will Smith dan Martin Lawrence, film sekuelnya ini masih dibintangi para kasting regulernya, khususnya seri sebelumnya,  yakni Joe Pantoliano, Vanessa Hudgens, Alexander Ludwig, Paola Núñez, Jacob Scipio, dan DJ Khaled. Akankah sekuelnya ini mampu mencapai sukses kritik dan komersial seperti sebelumnya?

Mike (Smith) dan Marcus (Lawrence) kini harus membersihkan nama mendiang bos mereka, Kapten Howard (Pantoliano) yang diduga berkolaborasi dengan kartel untuk meraih keuntungan pribadi. Investigasi mereka berujung pada sesosok misterius, di mana Mike dan Marcus terpaksa harus melibatkan putranya, Armando (Scipio) yang berada di tahanan. Armando rupanya bisa mengidentifikasi sang dalang, hingga akhirnya, mereka bertiga pun dijebak dan diburu oleh pihak berwenang. Situasi bertambah pelik ketika putri kapten Howard, Judy, yang juga adalah US Marshall adalah orang yang memburu mereka (Armando adalah pembunuh ayahnya dalam seri ketiga). Belum lagi para pemburu bayaran yang mengincar kepala mereka dengan imbalan hadiah USD 5 juta yang digagas oleh sang dalang.

Seri keempat ini rupanya punya relasi kuat dengan kisah seri ketiga. Bagi yang belum menonton seri sebelumnya bisa jadi akan merasakah sesuatu yang lepas dalam kisahnya, khususnya relasi antara Mike dan Armando, serta motif putri sang kapten. Naskahnya cukup cerdik memotivasi polemik di antara para tokohnya yang dipicu peristiwa pada kisah film sebelumnya. Ini menjadikan konfliknya lebih personal dan mendalam ketimbang sebelumnya. Tidak seperti dua seri awal yang digarap Bay (semata berisi aksi ugal-ugalan dua detektif jagoan), dua seri lanjutannya memang berani mengambil resiko dan memasukkan family value dalam plotnya. Ini memang mengejutkan dan seri keempatnya pun, percaya atau tidak, masih memiliki cerita yang cukup menyentuh.

Baca Juga  Di Ambang Kematian

Di luar sisi cerita, aksi dan banyolan masih pula dominan yang sejak awal menjadi “jiwa” serinya. Aksi-aksinya kini tak kalah heboh dengan seri Fast & Furious dengan menyajikan satu adegan menegangkan dan intens di atas helikopter. Untuk sisi ketegangan, Ride or Die rasanya adalah yang terbaik karena alur plotnya yang berjalan nyaris nonstop. Formula aksi pengejaran “buron” menjadi kunci plot yang efektif. Sementara sisi humor rutinnya, kembali didominasi oleh sosok Marcus yang kali ini mengambil topik “reinkarnasi” karena pengalaman mati surinya. Dialog-dialog konyol masih muncul dan kini bahkan sosok Marcus melakukan “tribute” tamparan Smith pada Chris Rock pada ajang Academy Awards 2022 dengan melakukan hal yang sama (bahkan berkali-kali) dalam satu adegannya. Bagi yang paham, ini tentu bakal membuat penonton terpingkal. Michael Bay seperti dalam seri ketiga, juga muncul sebagai cameo, dan film ini pun masih banyak mengadopsi shot-shot enerjik gaya sang sineas dalam banyak adegannya.

Bad Boys: Ride or Die masih memiliki spirit serinya melalui sisi aksi dan humor, namun di luar dugaan mampu menyelipkan nilai keluarga yang menyentuh. Sang duo sineas masih mengambil formula sukses seri ketiganya dalam naskahnya. Entah film ini bakal sukses atau tidak, tentu masih menanti hasilnya. Peristiwa mengejutkan pada ajang Academy Awards dua tahun lalu yang dilakukan Smith, konon berdampak besar bagi karir dan kehidupan sang bintang. Smith (bersama Lawrence) sudah melakukan segalanya dengan maksimal dan Ride or Die (bersama Bad Boys for Life) telah mampu menebus kesalahan yang dilakukan seri pertama dan kedua. Akankah seri keempatnya bakal pula menebus pula karir Smith? Kita akan mengetahuinya dalam waktu dekat.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaMy Oni Girl
Artikel BerikutnyaJapanese Film Festival Online 2024 Hadir
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.