Tenis adalah salah satu sajian olahraga yang terhitung langka diproduksi oleh medium film. Challengers mencoba peruntungannya melalui sineas kawakan Luca Guadagnino yang kita tahu menggarap film-film berkelas, sebut saja Call Me by Your Name dan Suspiria. Aktris top masa kini, Zendaya menjadi bintangnya, didukung oleh Josh O’Connor dan Mike Faist. Film berdurasi 131 menit ini diproduksi dengan bujet USD 55 juta, terhitung besar untuk genrenya. Mampukah film ini memberikan sesuatu yang baru bagi genre dan subgenrenya?

Sang kampiun langganan grand slam Art Donaldson (Faist) mengalami titik jenuh dalam karirnya hingga tidak mampu menjuarai satu kompetisi pun. Sang istri, Tashi Duncan (Zendaya) mencoba untuk memotivasinya dengan mengikuti turnamen kelas bawah (challenger) yang rupanya diikuti pula oleh Patrick Zweigh (O’Connor), mantan sobat Art dan mantan pacar Tashi. Rivalitas dan peristiwa masa lalu pun bercampur aduk yang membawa mereka ke sebuah perseteruan batin yang emosional.

Jika kamu pernah menonton beberapa film tentang tenis yang bagus, sebut saja Wimbledon, Borg vs McEnroe, hingga King Richard, kini dijamin Challengers bukan film tenis yang seperti kamu pikir. Baru beberapa menit bergulir, kisahnya telah bolak-balik ke masa kini dan masa lalu, dengan frekuensi tinggi dalam rentang waktu hingga belasan tahun. Challengers adalah satu tontonan “ringan” yang amat menantang penikmat film. Satu informasi lepas, bakal lepas pula kisahnya. Rasanya baru ini, teknik kilas balik digunakan begitu masif dan brutal.

Penuturan “nonlinier” yang begitu rumit memang punya relasi dengan konflik psikologis di antara para tokoh utamanya. Pertandingan klimaks antara Art dan Patrick di turnamen challenger menjadi pegangan utama plotnya. Semua konflik sebelumnya berujung pada momen ini. Sepanjang kisahnya, latar belakang Tashi, Art, dan Patrick diceritakan secara sepenggal-sepenggal melalui kilas balik. Sang sineas begitu trampil mengolah informasi demi informasi untuk membangun intensitas dramatiknya hingga klimaks. Ini bukan satu hal yang mudah. Tidak hanya ini, sang sineas pun mempu mengemasnya dengan gaya estetik yang brilian dan mengintimidasi.

Baca Juga  Child's Play

Editing menjadi elemen sinematik paling dominan untuk mendukung penuturan kisahnya yang nyaris tiap scene-nya berpindah waktu. Sisi sinematografi pun turut show-off dengan pergerakan kamera yang enerjik terutama pada segmen latihan dan pertandingan. Pukulan-pukulan bola yang demikian keras sering kali mengarah ke arah penonton (kamera) seolah mencoba mengusik dan memancing adrenalin kita. Bahkan dalam klimaks pertandingan, POV shot digunakan demikian brutal untuk menghasilkan satu momen paling dramatik dalam filmnya. Ilustrasi musik pun tak kalah mengintimidasi dengan menggunakan satu irama musik “disko” yang menghentak untuk mewakili status “mental/emosi” tokohnya. Rasanya belum pernah, semua aspek sinematik digunakan begitu rancak dan dinamis, serta saling mengisi, untuk mendukung naratifnya.

Di luar pencapaian cerita dan estetiknya yang istimewa, satu hal yang menjadi kekuatan terbesar tentunya adalah pencapaian akting para pemainnya, khususnya Zendaya. Rasanya ini adalah pencapaian terbaik sang bintang dengan mampu berperan demikian ekspresif, dominan, dan manipulatif sebagai sosok Tashi Duncan. Apa yang ada di benak pikirannya, sulit untuk diantisipasi. Tashi adalah sesosok yang butuh tantangan setiap waktu dan sang aktris mampu tampil dalam performa terbaiknya. Apakah penampilannya kali ini cukup membawa sang bintang ke level yang lebih tinggi, kita lihat saja.

Bukan karena penuturan waktu cerita dan semua serta kemasan estetiknya yang brilian, namun Challengers mampu memanfaatkan genre olahraga (tenis) dan roman untuk menyajikan sebuah “thriller” psikologis paling sensual yang pernah ada. Challengers adalah satu sajian yang menantang bagi penonton sekaligus menggairahkan bagi para cinephile. Film ini mampu melewati jauh batasan genrenya (roman dan sport) sekaligus membuktikan bahwa terobosan naratif yang dipadukan kemasan sinematik yang unik dan segar masih dimungkinkan. “Cmon!”,  teriakan Tashi Duncan seolah juga menantang para pembuat film lainnya untuk bisa berbuat lebih dari ini. Sang sineas telah mematok standar yang amat tinggi untuk genrenya dan rasanya mustahil jika tidak mendapat apresiasi tinggi untuk satu karya istimewa ini.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaGlenn Fredly The Movie
Artikel BerikutnyaCivil War
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses