..
Setelah sukses besar dengan film bertema religi Ayat-Ayat Cinta beberapa waktu lalu, kini Hanung Bramantyo kembali menghadirkan film bertema serupa, yakni Doa yang Mengancam. Film ini dibintangi beberapa bintang tanah air, seperti Aming, Titi Kamal, Ramzi, dan Dedi Utomo.
Alkisah, Madrim (Aming) bersama istrinya Juleha (Titi Kamal) memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta. Di sana, Madrim bekerja sebagai buruh gendong di sebuah pasar. Selama bekerja, Madrim selalu dihadapkan pada cobaan yang begitu berat, upah minim, kalah judi, diusir dari kontrakan, hingga yang paling tragis ditinggal oleh istrinya. Dalam keputusasaannya, Madrim mengancam Tuhan. Jika dalam tiga hari doanya (menemukan istrinya) tidak dikabulkan, maka Madrim akan menyembah setan. Singkat cerita, Madrim diberi kemampuan supranatural yang membuatnya mampu melihat keberadaan seseorang melalui foto orang tersebut. Tantra (Dedi Utomo) seorang penjahat kelas kakap menjadikan Madrim sebagai anak buahnya dengan iming-iming uang selangit. Pada akhirnya kemampuan Madrim justru membuat hidupnya semakin menderita.
Alur cerita menjadi kelemahan utama film ini. Cerita film selalu berputar-putar tanpa jelas arahnya, antara usaha Madrim mencari istrinya, usaha pencarian Tuhan, serta ambisinya mendulang harta. Madrim seringkali mengatakan akan mencari istrinya, tetapi tidak tampak usaha-usaha konkrit ke arah tersebut. Ramzi, rekan Madrim, hanya sebagai tempat untuk melantunkan dakwah, yang sering mengulang-ulang inti dakwahnya. Tidak tampak pula efek Ramzi bagi Madrim dalam pembelajarannya mengenal Tuhan. Penggambaran banyak adegan juga sangat buruk. Seperti saat Madrim mendapatkan kemampuan supranatural setelah ia tersambar petir. Madrim digambarkan menyadari benar kemampuannya dan seolah telah memiliki kemampuan tersebut sejak lama. Kejanggalan juga tampak ketika polisi langsung begitu saja mempercayai kemampuan Madrim hanya dengan mendengar kabar burung.
Dari sisi pemain sama sekali tidak ada yang menonjol. Aming yang kita kenal sebagai aktor komedi tidak mampu bermain baik sebagai Madrim. Untuk adegan yang sifatnya komedi memang terasa lebih pas namun pada saat adegan serius, Aming terbilang gagal. Pencapaian pemain lainnya juga tidak berbeda jauh. Naskah film yang lemah mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Satu pencapaian lumayan ada pada satu sekuen montase yang menggunakan teknik fast-motion. Gaya sineas seperti komposisi visual yang kuat serta pergerakan kamera cukup membantu filmnya namun tetap saja tidak mampu membawa film ini pantas disebut layak. Apa arti semua pencapaian teknis yang baik tanpa alur cerita yang memadai?
Terlalu banyaknya kelemahan dalam film ini menyebabkan konsep agama yang menjadi misi utamanya tidak mampu tersampaikan dengan baik. Dua dari empat karakter wanita dalam film ini (termasuk Ibu dan istri Madrim) digambarkan sebagai wanita panggilan. Sedangkal itukah pemikiran wanita untuk mengejar harta? Sebagai seorang sutradara yang cukup kondang di negeri ini, karya Hanung dalam film ini sangat mengecewakan. Tujuan film ini jelas, hanya ingin memenuhi keinginan pasar akan film-film religi yang beberapa waktu lalu menjadi tren tanpa mampu memberikan penonton sebuah suguhan seni audio visual yang layak. (febri)
Artikel SebelumnyaDari Redaksi mOntase
Artikel BerikutnyaMendudukkan “Merah Putih”

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.