Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull (2008)
122 min|Action, Adventure|22 May 2008
6.1Rating: 6.1 / 10 from 414,473 usersMetascore: 65
In 1957, archaeologist and adventurer Dr. Henry "Indiana" Jones, Jr. is called back into action and becomes entangled in a Soviet plot to uncover the secret behind mysterious artifacts known as the Crystal Skulls.

Siapa pun tahu seri Indiana Jones pertama, Raiders of The lost Ark (1981) adalah film petualangan terbaik sepanjang masa yang sulit dicari tandingannya. Seri kedua, The Temple of Doom (1984) dan ketiga, The Last Crusade (1989) walau tidak sebaik seri pertama namun masih memiliki perpaduan antara elemen aksi, ketegangan, misteri, serta komedi yang sangat prima. Lantas bagaimana seri keempat film petualangan Indy ini? Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull (2008) disutradarai kembali oleh Steven Spielberg dan masih pula dibintangi aktor Horison Ford yang kini telah gaek. Karater Marion Ravenwood yang muncul pada seri pertama kali ini kembali dihadirkan dan masih diperankan oleh Karen Allen. Bintang muda yang tengah naik daun, Shia LeBeouf bermain sebagai putra Marion. Sementara aktris kawakan Cate Blanchett mendapat peran antagonis.

Cerita film kali ini mengambil latar era perang dingin antara Amerika dan Rusia pada era 1950-an. Dikisahkan satu pasukan khusus Rusia yang dipimpin wanita dingin, Irina Spalko, si tangan kanan Stalin, berusaha mencari senjata rahasia untuk bisa menancapkan bendera “ideologi” komunis di Amerika. Indy dengan ditemani si bocah brandal Mutt dan ibunya, Marion, terlibat dalam petualangan seru mencari rahasia dibalik tengkorak kristal yang ditemukan oleh rekannya, Oxley. Indy bersama rekan-rekannya harus segera membongkar rahasia tengkorak kristal tersebut sebelum pihak Rusia lebih dulu mendapatkannya.

Film dibuka begitu manis dengan latar lagu Hound Dog yang dinyanyikan Elvis, mengiringi aksi sekawanan muda-mudi yang tengah memacu mobilnya dan menantang seiringan mobil konvoi militer untuk beradu cepat. Aksi berlanjut di areal gudang militer rahasia dimana Indy yang ternyata disekap oleh pihak Rusia dipaksa untuk mencari sebuah artefak. Aksi seru berikutnya memperlihatkan bagaimana Indy mampu meloloskan diri dari pihak musuh dan bahkan uji coba bom atom. Sekuen pembuka ini ditutup oleh shot yang begitu memesona memperlihatkan sosok Indy yang berdiri tegap dengan latar (cendawan) ledakan bom atom.

Sungguh mengecewakan karena hanya pada sekuen awal inilah satu-satunya nilai lebih film ini. Aksi-aksi Indy sentuhan khas Spielberg seperti aksi kejar-kejaran, tembak-menembak, aksi cemeti, hingga aksi perkelahian ditampilkan begitu mengesankan dalam satu sekuen utuh. Ford yang usianya telah uzur diluar dugaan masih mampu bermain energik sebagai Indy nyaris sama baiknya dengan seri pendahulunya. Bom atom yang meletus di akhir sekuen seolah mengisyaratkan jika plot-nya berhubungan dengan senjata nuklir, namun pada kenyataannya tidak. Dan terus terang hingga akhir cerita pun penulis tidak 100% mengerti, apa sebenarnya yang ingin dicari pihak Rusia. Pihak Rusia malah melewatkan begitu saja artefak Ark of the Covenant (pada satu shot terlihat di balik peti) yang dulu dicari mati-matian oleh pihak Nazi pada seri pertama Indy. Dari penggunaan ilustrasi musik “ark” sewaktu pintu gudang rahasia dibuka, Spielberg juga sempat mengecoh kita seolah yang mereka cari adalah artefak tersebut.

Baca Juga  The Secret Life of Pet 2

Kelemahan utama film ini jika dibandingkan dengan seri sebelumnya adalah tidak adanya sesuatu yang baru dalam plotnya (sekilas mirip plot National Treasure 2). Dalam beberapa kasus bahkan plot dipaksakan tanpa ada alasan yang jelas. Pada sekuen pembuka digambarkan pihak Rusia telah mendapatkan tengkorak kristal namun pada sekuen di Peru(di makam tua), tidak jelas mengapa tengkorak tersebut bisa ada di sana? Padahal dikisahkan tengkorak kristal tersebut hanya terdapat sebuah saja… dan mengapa pula pihak Rusia meletakkannya di sana?… Lantas apa sebenarnya inti tujuan film ini? Tak jelas, apa yang sebenarnya mereka cari dan apa tujuannya? Apakah kota Eldorado yang hilang? Harta karun? Emas? Senjata “pengubah mental” masal? Atau apa? Di akhir kisahnya, Indy mengatakan bahwa harta karun sejatinya adalah bukan emas melainkan pengetahuan. Lho… pengetahuan tentang apa? Abstrak sekali.. ahh sudahlah… sungguh melelahkan. Entahlah, bisa jadi hanya penulis kurang mencermati cerita namun pastinya kelemahan seperti ini tidak terdapat dalam seri sebelumnya. Pada seri-seri sebelumnya, artefak yang dicari sangat jelas dan sungguh-sungguh meyakinkan kita jika artefak tersebut seolah nyata.

Sama seperti plot-nya beberapa aksi pun kadang tampak dipaksakan namun tetap saja amat sangat menghibur. Ketrampilan Spielberg untuk mengolah adegan aksi seru menegangkan dengan bumbu komedi tidak perlu kita ragukan. Seperti aksi seru kejar-kejaran motor-mobil di areal kampus mampu ditampilkan begitu mengasyikkan untuk ditonton. Aksi seru kejar-kejaran truk di hutan sekalipun tampak berlebihan juga disajikan begitu menawan dan sangat menghibur. Spielberg bernostalgia dengan memadukan elemen-elemen sekuen aksi di Raiders of Lost Ark (aksi kejar-kejaran truk di Mesir) dan juga di Temple of Doom (aksi kejar-kejaran kereta di dalam tambang). Beberapa adegan aksi juga tampak begitu memaksa, seperti ketika Indy dan Marion yang jatuh ke dalam pasir hisap. Semua aksi itu dilakukan hanya berujung untuk memberikan informasi pada kita jika Mutt adalah putra dari Indy dan Marion.

Sosok Indiana Jones masih menjadi kunci kekuatan utama film ini. Horison Ford pada usia senja kembali bermain gemilang sebagai sosok Indy yang heroik dan pantang menyerah. Chemistry antara Indy dan Marion pun nyaris sama baiknya seperti pada seri pertama. LeBeouf yang berperan sebagai Indy Junior juga mampu mengimbangi akting Ford dengan baik. Sementara Blanchet mampu menarik perhatian melalui karakter Irina Spalko yang dingin dengan aksen Rusia yang khas. Sayang karakter antagonis pendamping (bawahan Spalko) bersama para tentaranya berkesan hanya tempelan (sekedar memeriahkan suasana) dan tidak sekuat seri sebelumnya. Karakter Prof. Oxley (John Hurt) serta Mac (Ray Winstone) sebagai karakter si “perusak pesta” juga tampil tanpa fungsi yang signifikan. Terakhir dukungan musik tema Indiana Jones yang “abadi” dari John Williams jelas juga menjadi kekuatan filmnya. Penonton bisa jadi masih tergiang-ngiang dengan musik tersebut berjam-jam lamanya setelah menonton filmnya. Namun sayang musik tema selain musik tema Indy (tengkorak kristal, pihak Rusia, dan lainnya) tidak sekuat seperti seri sebelumnya.

Terlepas dari plot yang lemah, film ini bisa dipastikan akan meraih sukses karena sekuen-sekuen aksinya yang sangat menghibur penontonnya. Penonton remaja yang belum sekalipun menonton seri sebelumnya dijamin akan sangat terpuaskan. Namun jika kita bandingkan dengan dua sekuel sebelumnya, Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull merupakan sekuel yang terburuk. Cukup nikmati saja filmnya tanpa perlu banyak dipikir! Just have some fun!

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaIron Man
Artikel BerikutnyaDari redaksi montase
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga 2019. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit. Kedua buku ini menjadi referensi favorit para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat penuh dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film serta terlibat aktif dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. ------- His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.