Jackie Brown (1997)
154 min|Crime, Drama, Thriller|25 Dec 1997
7.5Rating: 7.5 / 10 from 374,788 usersMetascore: 64
A flight attendant with a criminal past gets nabbed by the ATF for smuggling. Under pressure to become an informant against the illegal arms dealer she works for, she must find a way to secure her future without getting killed.

Jackie Brown dibuat Tarantino pada tahun 1997, tiga tahun setelah magnum opus-nya, Pulp Fiction. Tidak seperti film-film terdahulunya yang ia tulis sendiri. Jackie Brown adalah adaptasi dari Novel berjudul Rum Punch karya Elmore Leonard yang terbit tahun 1992. Mendengar hal ini, saya merasa sedikit kecewa karena Tarantino dikenal sebagai penulis skrip yang baik, sehingga mengadaptasi karya orang lain saya rasa tidak perlu. Tapi setelah menonton filmnya, Tarantino membuktikan kemampuannya lewat cara yang berbeda. Tarantino dengan gayanya sendiri memilah adegan yang diinginkan dan membuang potongan-potongan cerita yang tidak sesuai dengan keinginannya. “Keberanian” Tarantino ini sangat penting, lewat upaya seperti inilah dia bisa membuktikan bahwa dirinya tidak hanya sekedar “Two-Film Wonder Boy” (Reservoir Dogs, Pulp Fiction) saja, melainkan adalah seorang sutradara yang serius ingin menggoreskan namanya dalam sejarah perfilman: dan dia berhasil.

Seperti film-film yang telah dibuatnya, plot Jackie Brown berjalan dengan latar belakang yang tegas. Setiap karakter punya motif yang kuat dalam melakukan adegan mereka, Jacklyn Brown (Pam Grier) adalah seorang pramugari yang ketahuan membawa sejumlah besar uang dan sebungkus kokain dalam tasnya, ia diciduk oleh ATF (Divisi di LAPD yang bertugas mengawasi alkohol, senjata api dan peledak, serta tembakau-rokok) saat baru mendarat dari Meksiko. Jackie dihubungkan dengan seorang pedagang senjata api bernama Ordell Robbie (Samuel L. Jackson) yang sudah menjadi incaran polisi. Sementara ditempat lain, Ordell tengah meminta bantuan seorang “Penjamin”, Max Cherry (Robert Forster) untuk membebaskan seorang teman bernama Beaumont Livingston dari penjara. Adegan incar-mengincar antara Jackie, Max, Ordell, dan dua agen ATF, dan kenyataan bahwa Semua pelaku (kecuali Max Cherry) saling mengkhianati-lah yang kemudian membuat film ini menarik. Pada dasarnya, Jackie hanyalah kurir untuk membawakan uang dari Meksiko, tetapi karena tertangkap, ia kemudian menjadi poros hubungan semua karakter, ini tidak sepenuhnya menguntungkan sebab ternyata Jackie juga menginginkan uang tersebut, padahal bila ada sedikit saja hal yang tak beres, kecurigaan setiap orang akan tertuju padanya. Meskipun diadaptasi dari sebuah novel, Tarantino senantiasa menyisakan ruang bagi penonton untuk terus bertanya “Trus ini gimana?, yang itu tadi bagaimana?”.

Baca Juga  Inglorious Basterds, Cara Tarantino Meruntuhkan Rezim Hitler

Secara teknis, saya teringat pada beberapa sekuen dalam film The Killing (Stanley Kubrick, 1956) yang juga mengulang kejadian yang sama dari perspektif pelaku yang berbeda, hal ini efektif untuk menjelaskan trik-trik kriminal yang ‘njelimet’ kepada penonton. Kita baru paham kenapa karakter A melakukan sesuatu ketika angle diambil dari sudut pandang karaker A, demikian juga dengan karakter B, dan Karakter C (Tarantino melakukan adegan yang sama dari tiga sudut pandang yang berbeda). Beberapa adegan kekerasan diakali Tarantino dengan menggunakan extreme long-shot ataupun lewat adegan off-camera, usaha ini patut dicermati sebab terdapat lebih banyak adegan kekerasan dalam novel dibanding apa yang ditampilkan dalam film. Secara khusus, isu-isu Blaxploitation yang terselip dalam film juga memperlihatkan bahwa Tarantino mencoba menembus topik yang lebih dewasa dibanding fokus noir-kriminal yang ditampilkan dalam Pulp Fiction. Pilihan peran untuk Robert de Niro juga unik, tak seperti peran De Niro dalam film-film terdahulunya (Taxi Driver, The Godfather Part II, Raging Bull), dalam Jackie Brown, De Niro tampil dengan karakter yang berlawanan: bodoh dan lamban. Memang Banyak yang tak tertulis di sini, tapi pendek kata: Jackie Brown bukanlah sebuah film yang biasa. Jackie Brown adalah ‘gol ketiga’ yang dicetak tarantino ke gawang perfilman dunia.

Makbul Mubarak
Penonton Film

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaInglorious Basterds, Cara Tarantino Meruntuhkan Rezim Hitler
Artikel BerikutnyaReservoir Dogs, Gangster Modern Ala Tarantino
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.