Inglourious Basterds (2009)
153 min|Adventure, Drama, War|21 Aug 2009
8.3Rating: 8.3 / 10 from 1,289,098 usersMetascore: 69
In Nazi-occupied France during World War II, a plan to assassinate Nazi leaders by a group of Jewish U.S. soldiers coincides with a theatre owner's vengeful plans for the same.

Inglorious Basterds adalah film perang garapan Quentin Tarantino yang naskah filmnya ia tulis sendiri. Naskah filmnya terinspirasi dari film perang lawas, The Inglorious Bastards (1978) namun Tarantino sendiri mengklaim film karyanya ini bukanlah remake. Film berdurasi 2,5 jam ini dibintangi aktor papan atas, Brad Pitt didampingi aktor-aktris seperti, Christopher Waltz, Eli Roth, Diane Kruger, Michael Fassbender, serta Mélanie Laurent.

Film ini berkisah tentang dua rencana rahasia dari dua kelompok berbeda untuk melenyapkan semua petinggi Nazi di bioskop kecil di Kota Paris ketika melangsungkan premiere film propaganda Nazi berjudul Nation’s Pride. Kelompok pertama diotaki oleh Shosanna (Laurent), seorang gadis Yahudi pemilik bioskop yang memiliki dendam kesumat pada Nazi yang beberapa tahun silam menghabisi keluarganya. Pihak kedua adalah sepasukan sekutu elit yang dijuluki Ingloriuos Basterds pimpinan Lt. Aldo Raine (Pitt) yang sangat ditakuti oleh pihak Jerman. Pada malam premiere di luar dugaan segala sesuatunya berjalan tidak sesuai dengan rencana mereka masing-masing.

Kembali Tarantino sekalipun mengambil latar Perang Dunia Kedua masih mampu mengemas cerita dengan gayanya yang khas. Seperti lazimnya film-filmnya, film ini juga dibagi dalam beberapa babak atau chapter, yang memiliki judul masing-masing. Struktur plotnya tidak nonlinier seperti biasanya namun beberapa-kali menggunakan teknik kilas-balik sehingga relatif mudah alurnya untuk kita ikuti. Alur plot berkembang penuh kejutan setiap saat dan sulit kita duga hingga akhir cerita. Pada adegan di sebuah bar di Desa Nadine yang menjadi tempat randevous pasukan Basterds dengan seorang mata-mata Inggris asal Jerman, siapa sangka bisa berakhir dengan begitu tragis dan brutal. Lalu pada sekuen klimaks cerita, Tarantino kembali memberikan kejutan demi kejutan bahkan ia berani merubah sejarah menjadi versinya sendiri.

Baca Juga  Film, Yahudi, dan Kita

Secara teknis Tarantino juga masih mampu mengemas dengan gayanya yang unik dengan terampil sekalipun berlatar masa silam. Dialog tempelan yang menjadi khasnya beberapa kali muncul, seperti adegan bar di Nadine yang kali ini uniknya menggunakan bahasa Jerman. Adegan aksi brutal juga banyak muncul seperti ketika Aldo dan rekan-rekannya memaksa seorang tentara Jerman buka mulut soal posisi pasukan Jerman. Film-film “spagetty western” juga banyak mempengaruhi filmnya terutama dari sisi sinematografi dan musik seperti tampak begitu kental pada sekuen pembuka. Tarantino juga menggunakan satu klip pendek layaknya “iklan” plus narasi untuk menggambarkan karakter Hugo Stiglitz serta sifat film nitrat (seluloid) yang mudah terbakar. Dari sisi akting Pitt bermain lumayan dengan aksen Amerika-nya yang khas namun yang patut mendapat pujian tinggi adalah Christopher Waltz yang bermain brilyan sebagai Hans “The Jew Hunter” Landa seorang perwira khusus Jerman yang dingin dan cerdas.

Lebih jauh Inglorious Basterds tidak hanya sekedar bagaimana cara Tarantino mengemas filmnya plus naskah yang brilyan namun juga bagaimana cara ia menyindir Hitler dan rezimnya. Tarantino dengan gaya dan caranya sendiri mengubah alur sejarah menjadi miliknya. Tidak ada yang lebih indah menurut Tarantino untuk menghabisi Hitler (Nazi) selain menggunakan sinema. Pencapaian film ini persis seperti kata Aldo di akhir film, “I think this might be my masterpiece”.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaBand of Outsider, Bagaimana Godard Mengilhami Tarantino
Artikel BerikutnyaJackie Brown, Momen Tarantino Menyempurnakan Hat-Trick
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.