Soraya Intercine Pictures kembali memproduksi film horor berjudul Jeritan Malam yang disutradarai oleh Rocky Soraya. Sang sineas untuk kesekian kalinya memproduksi film horor yang terbilang laris di pasaran, seperti The Doll (2015), The Doll 2 (2016), Sabrina (2017), Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018), serta Mata Batin 2 (2019). Jeritan Malam diadaptasi dari sebuah cerita di media online Kaskus yang konon berdasarkan kisah nyata. Konon pula, film ini menjadi film horor dengan biaya produksi termahal, sekitar 20 M.  Film ini diperankan oleh aktor dan aktris ternama, seperti Herjunot Ali, Wingky Wiryawan, Indra Brasco, Fuad Idris, Roy Marten, dan Cinta Laura Kielh.

Bermula dari Reza (Herjunot Ali) yang mendapatkan sebuah pekerjaan di Banyuwangi. Hal ini membuatnya jauh dari keluarga dan pacarnya yang berada di Bogor. Keluarga mendukung Reza supaya ia belajar mandiri. Satu hal yang membuat Reza berat meninggalkan Bogor adalah sang pacar, Wulan (Cinta Laura Kielh), walau sang kekasih akhirnya mendukungnya. Reza ditempatkan di sebuah mess karyawan. Di sana, ia bertemu dengan rekan sesama pekerja, Indra (Wingky Wiryawan) dan Minto (Indra Brasco). Dalam perkembangan, Reza mulai mengalami hal-hal aneh sekalipun ia menganggapnya wajar. Gangguan pun semakin intens dan mengganggu seisi rumah.

Filmnya dibuka dengan narasi tokoh Reza yang menceritakan kisah hidupnya. Beberapa kalimatnya pun sama persis dengan tulisan di cerita aslinya. Narasi ini memang membuat penonton memiliki background situasi yang dialami Reza. Konflik cerita memang bermula dari kedatangannya ke Mess tersebut. Selain rumah yang berhantu, Reza menjadi pemicu banyaknya teror terjadi. Sisi misteri menjadi sebab, aksi Reza, Indra dan Minto menarik untuk diikuti. Plus bumbu komedi, juga membuat banyak penonton tertawa akan polah tingkah mereka.

Baca Juga  Janin

Mengambil latar cerita di kota Banyuwangi yang berada di ujung provinsi Jawa Timur menjadikan filmnya memiliki nuansa berbeda. Sebagian besar adegannya ber-setting di rumah kuno yang terkesan jauh dari kota dan ini pula yang memantik banyak pertanyaan. Latar waktu cerita adalah tahun 2007, tapi anehnya terkesan dibuat seperti era 1990-an. Masak iya, Reza tak memiliki telepon seluler, terlebih ia adalah orang berada. Selama di perantauan, Reza tak pernah terlihat berkabar dengan keluarga atau pun Wulan, kekasihnya. Pada adegan akhir, tampak Reza menggunakan telepon umum (?), mengesankan pada zaman itu tak ada alat komunikasi yang lebih canggih.

Filmnya menjadi sedikit membosankan ketika pengembangan ceritanya terkesan tak masuk akal. Setelah kejadian yang terhitung ekstrem, seperti Indra yang kesurupan dan bertingkah aneh, ternyata belum juga membuat Reza yakin, ada sesuatu yang tak beres di rumah tersebut. Kejanggalan pun tak berhenti di sini. Dalam satu momen, cerita film berbelok arah ke sesuatu yang bukan tujuan tokoh utamanya, yakni ketika Reza melakukan ritual. Ini mengesankan terdapat dua plot besar yang dipadatkan menjadi satu film. Hal ini juga menjadikan intensitas filmnya menurun drastis di babak akhir. Aksi demi aksi teror tak terhentikan, tanpa jeda istirahat. Adegan pun menjadi bertempo lebih cepat dan terasa sangat hambar karena motif cerita yang lemah.

Tentu tak heran, dengan bujet sedemikian besar, pencapaian teknisnya terlihat mapan yang tampak dari setting, pencahayaan, efek suara, musik, serta teknik penggambilan gambarnya. Semua adegan juga disajikan demikian realistik, kecuali beberapa efek visual yang masih terlihat kasar. Sayang sekali, lagi-lagi masalah cerita yang tak digarap dengan baik menjadikan plotnya blunder dan  tak maksimal.

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaBlack Christmas
Artikel BerikutnyaStar Wars: The Rise of Skywalker
Agustinus Dwi Nugroho
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org.

2 TANGGAPAN

  1. Setuju sekali dengan Agustinus. Tadinya saya mengira bahwa setting film Jeritan Malam adalah di tahun 90an dan baru ngeh di bagian akhir ketika narator menulis “3 bulan kemudian” dimana segalanya sudah tampak seperti jaman modern.
    Ada beberapa kesalahan dalam film ini seperti ketika roh Minto dan roh raden penunggu makan bunga bersama di dalam kamar Minto yang ternyata telah almarhum tanpa diberitahu penyebabnya (saya asumsikan Minto mengalami kecelakaan lalu lintas dalam perjalanannya ke Solo), Reza, orang tua dan kekasih yang merupakan segalanya dalam hidup Reza namun hampir tidak pernah berkomunikasi serta tidak memiliki telepon seluler baik CDMA maupun GSM padahal keluarga berada dan modern, ketidaksengajaan ritual pesugihan yang terjadi pada Reza yang pintar, berani dan rasional (lebih dapat dimengerti jika Reza-lah yang menantangi ritual pesugihan yang bisa membuat orang kaya dalam sekejab tanpa takut dengan 3 tumbal yang diminta untuk membuktikan kekuatan alam gaib) dan beberapa kecerobohan lain yang sangat terlihat jelas dalam film berbujet besar ini. Sungguh sangat disayangkan karena penggarapannya terkesan buru-buru dan teledor.

    • Sebelumnya terima kasih atas tanggapan artikelnya. Prinsipnya saya setuju dengan tanggapannya, terkait dengan berbagai kejanggalan dan kelemahan di filmnya. Plot Minto yang merupakan bagian dari babak-babak akhir filmnya, memang terkesan tergesa-gesa, serta terkesan hanya akan mengejar deadline klimaks filmnya secara cepat, tanpa membuat proses narasi plot filmnya memiliki intensitas ketegangan ataupun misteri. Lalu soal Reza. Sebetulnya plot berubah drastis setelah kedatangan Wulan ke mess tersebut. Dari kejadian yang dialami Wulan, Reza hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan tidak memiliki maksud untuk melakukan ritual pesugihan. Dengan kata lain, untuk melihat dan memahami dunia gaib apakah harus melakukan ritual pesugihan? Kesimpulan umumnya, Satu poin penting yang menjadi pembelajaran dalam industri film kita (terutama genre horor) adalah kurangnya perhatian terhadap naskah filmnya. Padahal hal itu adalah pondasi bagi produksi sebuah film. Dengan pembiayaan film yang besar dan hal teknis yang sedemikian rupa, jika cerita filmnya lemah tetap saja penonton kurang bisa menikmati filmnya secara utuh.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.