Jump Cut

0
3409

Jump-cut merupakan sebuah lompatan gambar dalam satu rangkaian shot akibat perubahan posisi karakter atau obyek dalam latar yang sama, atau sebaliknya, posisi karakter dan obyek tetap namun latar berubah seketika. Efeknya akan tampak seperti seorang karakter atau obyek berpindah posisi atau berpindah lokasi secara mendadak dengan tidak wajar. Teknik ini umumnya dihindari oleh sineas kebanyakan karena dapat memutus hubungan kontinuitas gambar atau sering diistilahkan “jumping”.

Teknik ini dipopulerkan sineas kondang Perancis, Jean-Luc Godard melalui film panjang debutnya, Breathless (1960). Godard sepanjang film melanggar aturan kontinuitas ruang, temporal, serta grafik secara sistematik dengan teknik jump-cut. Pada sebuah adegan tampak Godard melakukan jump-cut sehingga kedua karakter seolah berpindah posisi dalam sekejap.

Dalam era modern saat ini jump-cut sudah jamak digunakan. Teknik jump-cut seringkali tampak digunakan dalam film-film independen yang menggunakan handheld camera. Dalam Dancer in the Dark, sang sineas Lars Von Trier juga menggunakan jump-cut hampir sepanjang filmnya. Teknik ini juga seringkali digunakan untuk menunjukkan situasi kacau, kebingungan, gelisah, atau terburu-buru. Dalam banyak film, teknik jump-cut seringkali dipadukan dengan teknik montage sequence untuk menunjukkan serangkaian aksi dari waktu ke waktu dalam sebuah momen. Dalam film animasi Tangled, jump-cut digunakan beberapa kali ketika Rapunzel berusaha memasukkan laki-laki penyusup misterius ke dalam lemari. Hal yang sama juga tampak dalam film komedi horor, Zombieland, jump-cut digunakan untuk menunjukkan dari waktu ke waktu mereka berganti posisi selama perjalanan.

Artikel SebelumnyaJurassic World Pecahkan Rekor dengan $500 Juta Dollar!
Artikel BerikutnyaMinions
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.