Roman Holiday (1953)
118 min|Comedy, Drama, Romance|02 Sep 1953
8.0Rating: 8.0 / 10 from 148,362 usersMetascore: 78
A bored and sheltered princess escapes her guardians and falls in love with an American newsman in Rome.

Film yang berkisah tentang seorang putri atau pangeran yang turun ke jalan memang bukan hal yang baru namun Roman Holiday bisa jadi adalah kisah klasik yang paling abadi. Alkisah Ann (Hepburn) adalah seorang putri termasyur dari sebuah kerajaa. Ia bosan dengan rutinitas kenegaraannya ketika berkunjung ke Roma. Ia lari dari istana tempat ia menginap dan menyamar sebagai rakyat biasa. Tak sengaja ia bertemu dengan Joe Bradley (Peck), seorang jurnalis media cetak yang menemaninya berkeliling kota. Joe yang semula hanya ingin mendapatkan berita justru jatuh hati pada sang putri. Sementara sang putri harus memilih antara tugas negara dan kepentingan pribadinya.

Plot diatas adalah cerita klasik yang seringkali kita lihat dalam film-film komedi romantis yang bertutur ringan dan menghibur. Kisah film ini bisa dianggap salah satu kisah cinta “putri raja dan pemuda biasa” paling awal yang populer. Kisahnya menginspirasi banyak film komedi romantis setelahnya hingga kini. Tidak seperti plot lazimnya, ending filmnya pun menggantung, tidak seperti yang diharapkan penonton. Justru ini yang membuat kisah filmnya abadi dengan membiarkan penonton berandai-andai dengan mimpinya. Siapa yang tak suka bisa berkencan dengan seorang putri jelita atau pangeran rupawan?

Roman Holiday adalah film pertama Audrey Hepburn berperan sebagai peran utama dan diluar dugaan adalah film yang membuatnya menjadi salah satu bintang Hollywood paling bersinar di eranya. Talenta alami Hepburn dalam berakting terlihat dalam semua adegannya bahkan menenggelamkan aktor besar sekelas Gregory Peck. Hepburn bermain sempurna sebagai seorang putri yang anggun dan terpelajar namun di sisi lain ia juga kekanakan, bosan, dan kesepian. Modal wajah jelita yang ia miliki tanpa dipungkiri menjadi daya tarik tersendiri yang sangat membantu perannya. Tak heran jika ia meraih Oscar untuk perannya ini. Sementara Peck sendiri juga tak bermain buruk namun sorotan kamera kali ini memang bukan untuknya.

Baca Juga  We Need to Talk About Kevin: Silangsunting Seorang Pribadi

Setting Kota Roma yang eksotis menjadi daya pikat tersendiri menemani Ann dan Joe. Konon Roman Holiday adalah salah satu film Hollywood paling awal menggunakan shot on location walau beberapa adegan ada yang mengambil tempat di studio Cinecitta, Roma. Penonton turut diajak berkeliling menikmati keindahan kota Roma, arsitektur, jalan, kafe, pasar, hingga obyek wisata populer seperti Colleseum. Semua pencapaian teknis diatas tak luput dari sentuhan sutradara kondang William Wyler. Seperti film-filmnya kebanyakan, Wyler mampu meleburkan dengan baik antara cerita dengan pencapaian teknis. Satu shot pada akhir filmnya, menggunakan teknik kamera handheld yang berjalan mundur mengikuti Joe. Singgasana Ann lambat laun tampak mengecil sejalan dengan Joe yang harus melupakan kenangannya dengan sang putri. Tak banyak film roman yang mampu memberikan kesan manis begitu mendalam bagi penontonnya. Tak ada salahnya jika Roman Holiday kita sebut sebagai kisah roman klasik yang abadi

Artikel SebelumnyaLove Actually vs New Year’s Eve
Artikel BerikutnyaKomedi Romantis
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.